Ketika Mindfulness Bertemu Krisis Publik

Penulis yang juga mahasiswi Pascasarjana KPI UIN Khas Jember. Suka menulis soal komunikasi, media massa, media sosial, dan digital marketing.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Maya Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kontroversi video Maudy Ayunda tentang “mindfulness in the age of bad news” memperlihatkan bahwa masalahnya bukan semata pada ajakan menjaga kesehatan mental. Yang dipersoalkan publik adalah konteks: ketika masyarakat sedang lelah, marah, dan merasa negara tidak cukup sigap menghadapi kebakaran hutan, gempa, banjir, serta kebijakan yang berdampak langsung pada warga, ajakan untuk “mengatur konsumsi berita” mudah terdengar sebagai kemewahan yang tidak dimiliki semua orang.
Dalam video tersebut, Maudy sebenarnya menyampaikan gagasan yang cukup masuk akal. Ia menjelaskan bahwa kecemasan, kemarahan, kesedihan, bahkan keputusasaan akibat paparan kabar buruk merupakan respons yang wajar. Ia juga mengangkat negativity bias, yaitu kecenderungan otak memberi perhatian lebih besar pada ancaman dan informasi negatif. Dari situ, ia menawarkan kurasi sumber informasi, pembatasan waktu membaca berita, serta penyeimbangan asupan mental melalui aktivitas yang lebih menenangkan.
Secara psikologis, pesan itu tidak keliru. Namun komunikasi publik tidak pernah hanya dinilai dari ketepatan isi. Ia juga dinilai dari siapa yang menyampaikan, kepada siapa pesan ditujukan, kapan pesan hadir, serta kondisi sosial apa yang sedang melingkupinya. Di sinilah kritik “tone deaf” terhadap Maudy menjadi relevan untuk dibaca, bukan sekadar sebagai hujatan warganet.
Popularitas dan Ekspektasi Moral
Sebagai mahasiswa magister komunikasi, saya melihat kasus ini melalui konsep celebrity advocacy. Teori ini menjelaskan bahwa selebritas dapat menggunakan popularitas, kredibilitas, dan akses terhadap massa untuk meningkatkan perhatian publik terhadap suatu isu. Pengaruh mereka tidak harus diwujudkan dalam bentuk pernyataan politik yang panjang atau aktivisme formal. Namun, figur populer memiliki kapasitas untuk mengamplifikasi informasi, menyebarkan sumber bantuan yang tepercaya, serta mengarahkan audiens pada suara warga terdampak dan organisasi yang bekerja di lapangan. Riset menunjukkan advokasi selebritas dapat meningkatkan perhatian serta liputan media terhadap isu yang dibawa.
Di era media sosial, kekuasaan tidak hanya dimiliki pejabat atau institusi. Jumlah pengikut, reputasi, akses media, kemampuan membentuk percakapan, dan kredibilitas personal juga merupakan modal sosial. Karena itu, publik memandang figur seperti Maudy Ayunda bukan sekadar artis yang memproduksi konten personal. Citra sebagai figur berpendidikan, penerima beasiswa LPDP, komunikator publik, dan tokoh dengan audiens luas membentuk harapan bahwa ia memiliki tanggung jawab simbolik untuk hadir ketika isu publik sedang mendesak.
Harapan ini memang tidak berarti setiap artis wajib menjadi aktivis. Tidak semua orang memiliki pengetahuan, keberanian, atau kapasitas emosional untuk berbicara tentang seluruh isu. Namun, ketika seseorang memiliki panggung yang besar, publik akan membaca pilihan untuk diam, memilih topik, atau memproduksi konten sebagai tindakan yang juga memiliki makna sosial.
Mengapa Pesan Positif Bisa Ditolak
Untuk memahami reaksi tersebut, konsep Expectancy Violation Theory dapat digunakan. Publik telah membentuk ekspektasi tertentu terhadap Maudy. Ia dianggap cerdas, reflektif, memiliki privilese pendidikan, dan mempunyai pengaruh besar. Dalam situasi krisis, audiens mungkin berharap ia menyatakan empati secara eksplisit, menyuarakan kondisi warga terdampak, atau setidaknya memberi ruang bagi isu-isu yang sedang mendesak.
Ketika yang muncul justru konten tentang membatasi konsumsi berita buruk, sebagian audiens memaknainya sebagai ketidaksesuaian antara ekspektasi dan tindakan. Bukan karena mindfulness pasti salah, melainkan karena pesan tersebut muncul dalam momen ketika banyak orang tidak memiliki pilihan untuk “menjauh” dari berita. Bagi korban bencana, masyarakat yang terdampak asap kebakaran hutan, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, atau warga yang hidupnya dipengaruhi kebijakan, berita buruk bukan sekadar informasi di layar. Ia adalah realitas sehari-hari.
Di sini pula terdapat persoalan framing. Video Maudy membingkai berita buruk sebagai tekanan psikologis yang perlu dikelola secara personal. Sementara publik membingkai situasi tersebut sebagai krisis struktural yang membutuhkan solidaritas, visibilitas, dan akuntabilitas pemerintah. Dua bingkai ini tidak sepenuhnya bertentangan, tetapi prioritasnya berbeda. Ketika bingkai perawatan diri hadir lebih dahulu daripada pengakuan atas penderitaan struktural, pesan positif dapat terdengar seperti ajakan untuk mundur dari realitas.
Klarifikasi sebagai Koreksi Makna
Maudy kemudian memberikan klarifikasi melalui kolom komentar di video Youtube-nya dengan bunyi sebagai berikut:
Hai teman-teman,
Terima kasih untuk semua komentar dan perspektif yang disampaikan di sini. Aku sudah membaca banyak di antaranya, dan ada satu hal penting yang aku sadari belum cukup aku sampaikan di video ini.
Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya.
Waktu membuat video ini, aku sebenarnya sedang berbagi refleksi tentang suatu struggle pribadi: bagaimana tetap peduli dan mengikuti apa yang terjadi, sambil menjaga diri supaya kita tetap bisa hadir dan engage dengan lebih berarti.
The situations we are dealing now are so frustrating and heartbreaking… adanya Karhutla, bencana gempa, berbagai kebijakan dan program yang nggak tepat sasaran dan berdampak langsung pada masyarakat, maupun berbagai isu-isu lain yang juga sama pentingnya. This is such an exceptionally hard time, for those impacted communities especially, and they need all support and visibility they can get.
Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja. Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak.
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedbacknya. I’m listening and learning. 🙏
Klarifikasi Maudy justru menunjukkan pemahaman yang lebih tepat terhadap kritik tersebut. Pernyataannya bahwa “being able to step away from the news is itself a privilege” merupakan pengakuan penting. Ia menyadari bahwa kemampuan membatasi paparan berita tidak tersedia secara merata. Bagi kelompok terdampak, krisis bukan sesuatu yang dapat dimatikan lewat pengaturan time window.
Pernyataannya juga memperjelas bahwa mindfulness tidak ia maksudkan sebagai alasan untuk tidak peduli, melainkan sebagai cara agar seseorang tetap mampu hadir dan terlibat secara bermakna. Secara komunikasi krisis, langkah ini penting karena ia tidak semata membela niat awal, melainkan mengakui keterbatasan framing pesan dan menerima perspektif publik.
Namun, pelajaran utamanya lebih luas dari satu figur. Dalam situasi krisis, komunikasi yang empatik perlu dimulai dari pengakuan terhadap ketimpangan dampak. Siapa yang bisa beristirahat dari kabar buruk, dan siapa yang hidupnya justru menjadi kabar buruk itu sendiri. Setelah itu, pesan kesehatan mental dapat ditempatkan sebagai sarana menjaga daya tahan untuk tetap peduli, bukan sebagai jalan keluar individual dari persoalan kolektif.
Pada akhirnya, publik wajar berharap selebritas menggunakan pengaruhnya secara bertanggung jawab. Tetapi tuntutan utama tetap harus diarahkan kepada pihak yang memiliki kewenangan formal untuk bertindak yaitu pemerintah dan institusi terkait. Selebritas dapat memperbesar suara, tetapi tidak boleh dijadikan pengganti tanggung jawab negara.
