Konten dari Pengguna

Antara Harapan Orang Tua dan Kebebasan Anak

KEVIN AFKAR ROSDI

KEVIN AFKAR ROSDI

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sangga Buana YPKP Bandung

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KEVIN AFKAR ROSDI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak laki-laki. Sumber ilustrasi: PEXELS
zoom-in-whitePerbesar
Anak laki-laki. Sumber ilustrasi: PEXELS

Bandung-Pada kehidupan sehari-hari, seringkali terjadi polemik di antara harapan orang tua dan keinginan anak untuk menentukan jalannya sendiri. Pertanyaan mendasar pun muncul: seberapa bebas sebenarnya seorang anak dalam menentukan masa depannya? haruskah mereka tunduk pada segala keinginan orang tua? dan apakah kebahagiaan dapat dipastikan saat mereka memenuhi harapan tersebut?

Mengikuti keinginan orang tua terkadang menjadi beban tersendiri bagi anak. Pertanyaan-pertanyaan mengenai kemerdekaan dalam menentukan arah hidup menjadi relevan. Apakah benar seorang anak tidak bebas untuk menentukan jalan hidupnya? apakah kebahagiaan terjamin saat mereka menuruti segala keinginan orang tua?

Ketika orang tua menentukan cita-cita bagi anaknya, seperti menjadi dokter, tentara, atau arsitek, harapannya adalah untuk kebaikan sang anak. Namun, terkadang anak tidak mampu memenuhi harapan tersebut karena keterbatasan intelektual atau fisik. Akibatnya, tekanan dan depresi bisa menghampiri mereka karena merasa tidak sanggup memenuhi ekspektasi orang tua, dan terbebani sebagai anak yang dianggap durhaka.

Kata-kata yang sering kita dengar, “Ridha Allah itu terletak pada ridha orang tua,” seringkali menimbulkan rasa bersalah pada anak ketika mereka tidak bisa memenuhi keinginan orang tua. Sebenarnya kata-kata tersebut berasal dari hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

رِضَى اللهِ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهِ فِي سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ

Ridhoollahi fii ridhoolwaalidain wa sakhothullaahi fii shotilwaalidain

Artinya: Ridha Allah ada pada Ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua ( HR. Timidzi, Ibnu Hibban, Hakim)

Dalam hadits tersebut banyak sekali yang memaknai bahwa apa yang di tentukan dan diarahkan oleh orang tua itu, merupakan hal yang terbaik untuk anaknya, apabila anaknya tidak mau menuruti dan menaati keinginannnya tersebut, orang tua akan sedih dan kecewa kepada anaknya.

Namun, pemahaman terhadap hadits ini seharusnya lebih luas. Hadits tersebut mengacu pada makna, ketika orang tua itu mengajarkan suatu hal kepada anaknya baik itu ilmu pengetahuan umum, ilmu agama, cara bertingkah laku dan sebagainya. Allah SWT akan meridhai segala apapun yang orang tua ajarkan kepada anaknya dalam kebaikan, walaupun orangtuanya itu sedikit melakukan kesalahan ketika ia mengajarkan anaknya. Contohnya, ketika orang tua mengajarkan bacaan do’a makan kepada anaknya , dan ada kesalahan dalam Makharijul Huruf atau Tajwid dalam pengucapan do’a tersebut, maka orang tua itu tidak di hukumi dosa, dan apabila ia tidak tau do’a tersebut bersumber dari mana, maka Allah SWT akan meridhainya dan tidak menghukumnya sebagai dosa pula. Jadi hadits ini menerangkan letak perbedaan antara orang tua dengan ‘Ulama ketika mengajarkan suatu hal. Seorang ‘Ulama akan berdosa ketika ia menerangkan suatu hal tetapi itu salah, dan ia pun akan berdosa ketika mengajarkan sesuatu, dan ia tidak tau hal tersebut bersumber dari mana.

Penafsiran yang benar terhadap hadits ini penting. Habib Husein Ja’far memberikan pandangan bahwa ridha Allah terkait dengan kesepakatan orang tua dalam hal-hal yang sesuai dengan hukum Allah. Menyamakan kedudukan orang tua dengan kehendak Allah adalah kesalahan besar. Orang tua memiliki keterbatasan dalam memahami masa depan yang baik bagi anak-anak mereka, dan beliau berkata, “ Ridha Allah itu tergantung kepada keridhaan orang tua, itu dalam hal-hal yang dimana sesuai dengan hukum Allah dan Rasulnya, dan kalau Allah yang tunduk kepada orang tua ya lebih parah lagi jadinya, jangankan anda!, Allah Juga tunduk kepada orang tua” dilansir dalam channel Youtube Jeda Nulis, 13 Februari 2020

Perlu di ingat, hanya Allah yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Meskipun penting untuk berbuat baik kepada orang tua, itu berbeda dengan ketaatan. Ketaatan sejati hanya kepada Allah, bukan kepada keinginan orang tua. Habib Husein Ja’far juga pernah memberikan pernyataan “Kita harus selalu berbuat baik kepada orangtua. Apapun yang terjadi mau dia beda agama dengan kita mau dia berbuat buruk kepada kita, kita tetap harus membalas dengan kebaikan kepada mereka, mau kita merasa dia tidak sayang kepada kita, kita harus berbuat baik, tapi berbuat baik itu berbeda dengan taat jadi bukan berarti kita harus taat kepada orang tua. Taatnya hanya kepada Allah dan menyembah-nya hanya kepada Allah saja, jadi sama orang tua kalau dia salah ya kita tetap tidak mengikutinya” dilansir dalam channel Youtube SEA Today News, 25 April 2021

Maka, penting bagi kita semua, baik anak-anak maupun orangtua, untuk memahami bahwa menghormati orangtua adalah tindakan baik, namun ketaatan sejati hanya kepada Allah. Anak-anak memiliki hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri, sesuai dengan kemampuan dan keinginan mereka. Terlalu memaksakan harapan dapat berujung pada beban dan tekanan yang berlebihan bagi mereka.

Jika memiliki perbedaan sudut pandang terhadap orang tua dan ngerasa hal yang ditentukan oleh orang tua itu bukan suatu hal yang bisa di penuhi, lebih baik di bicarakan saja dengan cara yang baik, dan menggunakan bahasa yang baik. Jangan pernah takut untuk berdiskusi dengan orang tua, karena dengan cara berdiskusi orang tua jadi tau apa yang sedang dikeluhankan anaknya dan menjadi tau apa yang diinginkan anaknya. Hubungan yang baik itu ketika orang tua dan anak bisa berbicara dengan dua arah, bukan hanya dengan satu arah saja, sejak dini anak harus di didik untuk terbuka ke orang tua, sehingga anak pun dapat berpikir kritis dan di hargai isi pikirannya, ini melahirkan generasi yang lebih baik kedepannya, dan anak pun tidak merasa takut untuk menyampaikan aspirasinya.

Kevin Afkar Rosdi, Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sangga Buana YPKP