Tradisi Kamis Pon DPRD Bantul: Keanggunan Busana Adat Jawa di Ruang Birokrasi

Mahasiswa S1 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Keysha Syahda Airaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis: Keysha Syahda Airaya
Program Studi: Manajemen
Afiliasi: Mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)
Aktivitas di Gedung Sekretariat DPRD Bantul terasa berbeda setiap kali Kamis Pon tiba. Sebagai mahasiswa Manajemen UMY yang sedang magang, pemandangan jajaran pegawai yang mengenakan pakaian adat Jawa di lingkungan DPRD Bantul menjadi pengalaman unik.
Merawat Warisan Leluhur di DPRD Bantul
Penggunaan busana adat Jawa Gagrak Ngayogyakarta setiap Kamis Pon bagi jajaran pegawai Sekretariat bukan sekadar formalitas. Penampilan jajaran staf pria yang mengenakan surjan lengkap dengan blangkon, serta staf wanita yang mengenakan kebaya dan kain batik, memperlihatkan wujud nyata pelestarian identitas budaya di Sekretariat DPRD Bantul.
Dinamika Kerja Berbusana Adat di DPRD Bantul
Menariknya, penggunaan pakaian tradisional sama sekali tidak menghambat efektivitas kerja di DPRD Bantul. Para pegawai tetap menjalankan tugas administrasi, melayani alur disposisi surat, hingga memfasilitasi jalannya rapat kedewanan dengan lincah dan profesional. Nilai kesantunan dan keramahan khas Jogja justru terasa semakin kental.
Pelajaran Budaya Organisasi di DPRD Bantul
Bagi saya yang mendalami ilmu manajemen, tradisi unik di DPRD Bantul ini memberi gambaran nyata mengenai penerapan organizational culture (budaya organisasi) berbasis kearifan lokal. Integrasi nilai-nilai budaya ke dalam rutinitas kerja terbukti mampu memperkuat rasa kebersamaan antar-pegawai dan membentuk karakter kelembagaan yang khas.
