Konten dari Pengguna

Tradisi Kamis Pon DPRD Bantul: Keanggunan Busana Adat Jawa di Ruang Birokrasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Keysha Syahda Airaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Halaman Depan Kantor Sekretariat DPRD Bantul
zoom-in-whitePerbesar
Halaman Depan Kantor Sekretariat DPRD Bantul

Penulis: Keysha Syahda Airaya

Program Studi: Manajemen

Afiliasi: Mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

Aktivitas di Gedung Sekretariat DPRD Bantul terasa berbeda setiap kali Kamis Pon tiba. Sebagai mahasiswa Manajemen UMY yang sedang magang, pemandangan jajaran pegawai yang mengenakan pakaian adat Jawa di lingkungan DPRD Bantul menjadi pengalaman unik.

Merawat Warisan Leluhur di DPRD Bantul

Penggunaan busana adat Jawa Gagrak Ngayogyakarta setiap Kamis Pon bagi jajaran pegawai Sekretariat bukan sekadar formalitas. Penampilan jajaran staf pria yang mengenakan surjan lengkap dengan blangkon, serta staf wanita yang mengenakan kebaya dan kain batik, memperlihatkan wujud nyata pelestarian identitas budaya di Sekretariat DPRD Bantul.

Dinamika Kerja Berbusana Adat di DPRD Bantul

Menariknya, penggunaan pakaian tradisional sama sekali tidak menghambat efektivitas kerja di DPRD Bantul. Para pegawai tetap menjalankan tugas administrasi, melayani alur disposisi surat, hingga memfasilitasi jalannya rapat kedewanan dengan lincah dan profesional. Nilai kesantunan dan keramahan khas Jogja justru terasa semakin kental.

Pelajaran Budaya Organisasi di DPRD Bantul

Bagi saya yang mendalami ilmu manajemen, tradisi unik di DPRD Bantul ini memberi gambaran nyata mengenai penerapan organizational culture (budaya organisasi) berbasis kearifan lokal. Integrasi nilai-nilai budaya ke dalam rutinitas kerja terbukti mampu memperkuat rasa kebersamaan antar-pegawai dan membentuk karakter kelembagaan yang khas.