Jokes Teman Kok Bisa Terasa Lucu? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Tulisan dari Keysha Aura Fayzha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jokes teman pernah membuatmu tertawa sampai susah berhenti, tetapi ketika lelucon yang sama diceritakan kepada orang lain, responsnya justru biasa-biasa saja? Padahal menggunakan kalimat yang sama, tetapi reaksi orang yang mendengarnya bisa berubah sangat jauh.
Kita seringkali menganggap jokes sebagai sesuatu yang spontan keluar. Seseorang melontarkan candaan, lalu orang lain tertawa. Namun, di balik momen sederhana itu, sebenarnya ada proses yang menarik untuk dibahas, terutama jika berbicara dari sudut pandang ilmu komunikasi.
Berbicara tentang komunikasi memang selalu menarik dan uniknya selalu ada penjelasan ilmiahnya. Terdapat beberapa teori tentang hal ini, salah satunya dalam teori yang dikenal sebagai incongruity theory, kelucuan dapat muncul ketika sebuah pesan membawa kita ke satu dugaan, tetapi berakhir dengan sesuatu yang tidak terduga. Itulah salah satu alasan bagian akhir sebuah jokes atau punchline bisa terasa lucu.
Misalnya, seorang teman bercerita dengan wajah serius seolah-olah akan menyampaikan masalah besar. Kita pun bersiap mendengarkan sesuatu yang dramatis, tetapi ternyata akhir ceritanya justru tidak masuk akal atau sangat sepele. Perubahan ekspektasi itulah yang berpotensi memancing tawa.
Kalau begitu, apakah kejutan saja tidak selalu cukup untuk membuat sesuatu menjadi lucu? Jawabannya tidak selalu. Penjelasan lain datang dari Peter McGraw dan Caleb Warren melalui penelitian tentang benign violation yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science pada 2010. Gagasan ini menjelaskan bahwa sesuatu bisa dianggap lucu ketika dipersepsikan sebagai pelanggaran yang terasa aman atau tidak terlalu mengancam.
Coba bayangkan ketika sahabat meledek kita dengan kejadian tidak sengaja memakai sendal berbeda ketika buru-buru. Candaan itu mungkin membuat kita tertawa karena sudah memahami karakter masing-masing dan merasa nyaman dengan hubungan tersebut. Namun, jika orang yang baru dikenal melontarkan candaan serupa, respons kita mungkin berbeda. Perkataan yang sama bisa terasa menghibur dalam satu situasi, tetapi menyebalkan dalam situasi lainnya.
Di sinilah komunikasi bermain. Sebuah pesan tidak hanya ditentukan oleh kata-kata yang diucapkan, tetapi juga siapa yang menyampaikan, kepada siapa pesan ditujukan, serta bagaimana hubungan antara mereka. Intonasi, ekspresi wajah, dan waktu penyampaian juga dapat memengaruhi cara sebuah lelucon dipahami.
Hal ini juga menjelaskan mengapa inside jokes begitu populer dalam pertemanan. Satu kalimat yang terdengar biasa bagi orang lain bisa membuat sekelompok teman tertawa karena mereka memahami cerita di baliknya. Ada pengalaman bersama yang membuat pesan tersebut memiliki makna khusus. Tanpa mengetahui konteksnya, orang lain mungkin hanya bisa ikut tersenyum atau malah kebingungan.
Dalam artikel ilmiah Humor as a Double-Edged Sword: Four Functions of Humor in Communication yang diterbitkan pada 2000, John C. Meyer membahas bagaimana humor dapat membangun identitas bersama sekaligus menegaskan batas antarkelompok. Artinya, candaan bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menunjukkan siapa yang merasa menjadi bagian dari suatu kelompok dan siapa yang berada di luarnya.
Masalahnya, tidak semua candaan diterima sesuai dengan maksud pembuatnya. Seseorang mungkin merasa sedang mencairkan suasana, sementara pendengarnya justru merasa direndahkan. Kalimat “kan cuma bercanda” tidak otomatis menghapus dampak yang dirasakan orang lain, sebab niat untuk melucu dan pengalaman orang yang mendengarnya bisa berbeda.
Kenyataannya, tidak ada penjelasan yang mampu menerangkan semua jenis humor. Ada jokes yang mengandalkan kejutan, namun juga ada yang membutuhkan pengalaman Bersama, atau bahkan konteks sosial yang sama-sama dipahami. Namun, semuanya memperlihatkan bahwa humor bukan sekadar persoalan merangkai kata-kata lucu. Sebab, dalam komunikasi, terkadang hal yang paling sederhana justru memperlihatkan betapa beragamnya cara manusia memahami sesuatu.

