Konten dari Pengguna

Sensasi Beli Buku vs Membaca Buku, Mengapa Otak Kita Lebih Suka Membeli?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Keysha Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi digital yang menampilkan seorang pembaca di kafe buku, dibuat dengam bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi digital yang menampilkan seorang pembaca di kafe buku, dibuat dengam bantuan AI

Niat awalnya cuma jalan-jalan. Aku masuk ke toko buku tanpa rencana apa pun, paling lihat-lihat sebentar. Tapi begitu keluar, tanganku sudah menenteng kantong belanja berisi buku baru.

Sampai rumah, buku itu kujejer rapi di rak, kubaca beberapa halaman, lalu kutinggal. Beberapa minggu kemudian, aku mengulangi hal yang sama persis. Beli lagi.

Kalau kamu merasa tersindir, tenang, kita senasib. Orang Jepang bahkan punya istilah khusus untuk kebiasaan ini: tsundoku. Kata ini berasal dari tsunde-oku (menumpuk begitu saja) dan doku (membaca). Artinya, membeli buku lalu menumpuknya tanpa pernah benar-benar dibaca.

Pertanyaannya, kenapa otak kita terasa lebih "nagih" saat membeli buku dibanding saat membacanya?

Jawabannya ada di kepala kita, tepatnya pada dopamin.

Banyak orang mengira dopamin adalah zat "kepuasan" yang keluar setelah kita mendapat sesuatu. Padahal dopamin (yang sebenarnya adalah neurotransmiter, bukan hormon dalam arti sempit) lebih berkaitan dengan antisipasi dan dorongan untuk mengejar sesuatu.

Temuan ini punya akar kuat dalam penelitian ilmuwan saraf Wolfram Schultz. Dalam eksperimennya, neuron dopamin pada awalnya aktif ketika hadiah datang. Setelah hewan belajar bahwa suatu tanda selalu diikuti hadiah, aktivitas itu justru bergeser ke saat tanda tersebut muncul. Jadi otak sudah "bersorak" sebelum hadiahnya benar-benar diterima. Ahli saraf Stanford, Robert Sapolsky, sering menjelaskan konsep ini dalam kuliah dan bukunya, termasuk bahwa dopamin berkaitan erat dengan antisipasi hadiah, bukan sekadar kesenangan saat hadiah didapat.

Ada juga pembedaan menarik dari peneliti Kent Berridge: wanting (ingin) dan liking (menyukai) ternyata dua hal berbeda di otak. Dopamin lebih banyak bermain di sisi wanting. Itu sebabnya kita bisa sangat menginginkan sesuatu, tapi setelah dapat, rasanya biasa saja.

Sekarang coba bayangkan kejadian di toko buku. Kamu memegang sampul yang menarik, membaca blurb di belakangnya, mungkin mencium aroma kertas baru. Lalu kamu membayangkan, "Pasti seru nih dibaca akhir pekan sambil ngopi." Di momen itu, otakmu sudah memberi bayaran rasa senang di muka, padahal belum ada satu kalimat pun yang kamu baca.

Prosesnya pun mulus. Bawa ke kasir, bayar, selesai. Cepat, jelas, tanpa usaha besar.

Giliran Membaca, Ceritanya Lain

Membaca itu aktivitas yang menuntut. Kamu perlu fokus, energi, dan waktu, sementara otak harus mengubah deretan huruf menjadi gambaran dan gagasan. Hadiahnya juga tidak datang seketika. Kadang butuh beberapa bab sampai ceritanya benar-benar terasa seru.

Di sisi lain, ada ponsel di dekat kita. Satu geseran jempol dan hadiah kecil langsung muncul: video lucu, notifikasi, kabar teman. Tidak perlu mikir, tidak perlu menunggu. Wajar kalau buku yang tadi terasa menggoda tiba-tiba kalah pamor.

Jadi kalau bukumu menumpuk, belum tentu kamu malas. Bisa jadi kamu hanya sedang bersaing dengan hal-hal yang jauh lebih gampang memberi kepuasan instan.

Tapi Tumpukan Itu Enggak Selalu Buruk

Sebelum kamu melirik rak sambil merasa bersalah, ada sudut pandang yang menenangkan.

Penulis Nassim Nicholas Taleb, dalam bukunya The Black Swan, memperkenalkan gagasan antilibrary. Ia terinspirasi dari Umberto Eco, penulis dan cendekiawan Italia yang punya perpustakaan pribadi berisi puluhan ribu buku. Banyak tamu bertanya apakah Eco sudah membaca semuanya. Menurut Taleb, pertanyaan itu keliru arah. Buku yang belum dibaca justru bernilai, karena ia mengingatkan kita pada luasnya hal yang belum kita ketahui.

Cara pandang ini sejalan dengan konsep intellectual humility dalam psikologi, yaitu kesadaran bahwa pengetahuan kita terbatas dan mungkin saja keliru. Penelitian psikolog seperti Mark Leary dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa orang dengan kerendahan hati intelektual cenderung lebih terbuka terhadap pandangan yang berbeda dan tidak mudah bias ketika menilai argumen lawan.

Catatan penting: tumpukan buku bukan jaminan seseorang rendah hati secara intelektual. Tapi sebagai pengingat visual, rak yang penuh buku belum terbaca bisa jadi cermin rasa ingin tahu yang belum habis. Asal jangan berhenti di situ saja.

Biar Tumpukan Itu Enggak Sekadar Jadi Tumpukan

Berikut beberapa hal kecil yang bisa dicoba:

  • Mulai dari 10 menit. Target kecil lebih gampang dijalani dibanding "harus tamat minggu ini".

  • Taruh buku di tempat yang kelihatan. Di samping kasur atau di meja, bukan terselip di rak paling atas.

  • Jauhkan ponsel saat membaca. Letakkan di ruangan lain kalau perlu.

  • Boleh berhenti di tengah jalan. Kalau bukunya memang tidak cocok, tinggalkan tanpa rasa bersalah, lalu ambil yang lain.

  • Coba aturan satu masuk, satu dibaca. Sebelum beli buku baru, selesaikan dulu satu dari tumpukan.

Jadi, kalau suatu hari kamu kepergok membeli buku lagi, tidak apa-apa. Itu tanda otakmu masih antusias pada hal baru.

Tapi malam ini, coba ambil satu buku dari tumpukan dan baca satu bab saja. Siapa tahu, sensasi tenggelam dalam ceritanya ternyata lebih nagih daripada momen melangkah ke kasir.