Masjid Raya Sheikh Zayed Solo: Perpaduan Arsitektur Islam dan Daya Tarik Wisata Religi

Mahasiswa Program Studi Pariwisata, Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Keysha Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dari hadiah persahabatan Indonesia–Uni Emirat Arab hingga jadi magnet wisata religi
Masjid Raya Sheikh Zayed Solo kini menjadi salah satu destinasi yang ramai dibicarakan. Masjid ini merupakan hadiah dari Mohammed bin Zayed Al Nahyan kepada Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (14 November 2022), sebagai simbol persahabatan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab. Bangunannya tampil megah dengan pilar-pilar besar, arsitektur menawan khas Timur Tengah, serta area yang luas sehingga mampu memikat siapa pun yang melihatnya.
Masjid ini mulai beroperasi pada 28 Februari 2023. Sejak beroperasi, masjid ini langsung ramai dikunjungi dan masjid ini mampu menampung hingga 10.000 jamaah. Seperti masjid pada umumnya, tempat ini berfungsi sebagai sarana ibadah umat Muslim, mulai dari salat berjamaah hingga beragam kegiatan selama bulan Ramadan. Selain itu, masjid ini juga menjadi tempat singgah dan beristirahat bagi para pelancong yang sedang melakukan perjalanan.
Menariknya, daya tarik masjid ini tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai tempat ibadah. Banyak wisatawan datang berkunjung karena ingin merasakan suasana masjid ala Timur Tengah tanpa harus pergi jauh ke luar negeri. Keindahan arsitekturnya yang megah menjadikan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo bukan sekadar pusat ibadah, tetapi juga ikon wisata religi yang layak dikunjungi.
Salah satu hal yang paling menonjol dari masjid ini adalah desainnya yang terinspirasi dari Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi. Bangunan yang didominasi oleh warna putih memberi kesan bersih, tenang, dan megah. Selain itu, kubah, lengkungan, serta deretan pilar besarnya menghadirkan nuansa Timur Tengah yang jarang ditemukan di Indonesia. Karena itu, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo sering dijuluki “Abu Dhabi-nya Indonesia”. Keunikan lain terlihat pada detail interiornya. Ornamen, kaligrafi, dan tata ruang dalam dirancang untuk menciptakan suasana menenangkan sekaligus mengundang kekaguman. Halaman yang luas dan area terbuka di sekelilingnya membuat pengunjung nyaman berjalan, berfoto, atau sekadar duduk menikmati suasana. Saat sore hingga malam, pencahayaan membuat bangunan tampak semakin indah sehingga banyak pengunjung datang untuk menikmati panorama masjid di waktu tersebut.
Meski ramai dikunjungi wisatawan, masjid ini tetap menjaga fungsi utamanya sebagai tempat ibadah. Pengunjung diharapkan berpakaian sopan, menjaga ketenangan, dan menghormati jamaah yang sedang beribadah. Dengan begitu, wisata dan ibadah bisa berjalan beriringan.
Bagi yang ingin berkunjung, waktu terbaik adalah pagi hari saat suasana masih sejuk dan belum terlalu ramai, atau menjelang sore untuk menikmati cahaya matahari yang jatuh di dinding putihnya. Masjid Raya Sheikh Zayed Solo pun menjadi bukti bahwa tempat ibadah bisa menjadi ikon budaya, simbol persahabatan antarnegara, dan destinasi yang membekas di hati pengunjungnya.
