Konten dari Pengguna

Pengaruh Kebijakan Ekonomi Justin Trudeau Terhadap Posisinya Sebagai PM Kanada

Kezya Mamengko

Kezya Mamengko

International Relation student at Satya Wacana Christian University

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kezya Mamengko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

photo edited by Kezya
zoom-in-whitePerbesar
photo edited by Kezya

Merujuk pada google arts and culture, Kanada merupakan negara monarki konstitusional dimana bentuk sistem pemerintahannya adalah pemerintahan demokrasi parlementer federal. Ini berarti raja sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Justin Trudeau sendiri telah menjadi Perdana Menteri Kanada untuk dua periode sejak 2015. Sosok Trudeau yang memiliki banyak simpati dan cinta dari masyarakat dalam memerintah telah banyak memberi kontribusi terhadap perkembangan Kanada di masa kepemimpinannya. Gaya kepemimpinannya yang liberal membuat Trudeau telah menghasilkan perwujudan Kanada yang lebih demokratis juga kebijakan ekonomi yang adil bagi seluruh masyarakat.

Berkat komitmen dan kegigihan Trudeau yang tidak terpaku pada setiap aturan yang diikuti negara lain, ia dianggap akhirnya berhasil menghasilkan kebijakan termasuk dalam bidang ekonomi, yang dianggap baik bagi pertumbuhan ekonomi Kanada. Kebijakan pemerintahan Trudeau antara lain kebijakan fiskal ekspansif, CCB (Canada Child Benefit), pajak karbon dan kebijakan iklim, dsb. Kebijakan yang dianggap cukup berhasil dalam masa pemerintahannya membawa Trudeau dan Partai Liberalnya memenangkan pemilu sekali lagi di tahun 2021 dan menjabat dalam periode hingga saat ini.

Tantangan baru kemudian muncul dalam dinamika politik Kanada. Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat secara nyata memberikan dampak terhadap Kanada. Salah satunya adalah kebijakan Trump tentang tarif 25% bagi impor Kanada ke AS. Menanggapi kebijakan tarif impor yang ditetapkan pemerintahan Trump, Trudeau melakukan defence terhadap negaranya dengan merespon kebijakan tersebut. Trudeau merespon dengan kebijakan tarif 25% untuk kendaraan AS. Pertarungan kebijakan yang terjadi telah mengundang banyak kontroversi terhadap stabilitas ekonomi Kanada. Selain dari kebijakan terkait tarif, ada lagi beberapa kebijakan yang dianggap semakin memperparah citra Trudeau dan popularitasnya menurun.

Ditengah begitu banyak guncangan yang mengancam posisinya serta peluang dalam pemilu selanjutnya, kepemimpinan Trudeau digoyahkan ketika Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Kanada, Chrystia Freeland mengundurkan diri tepat sebelum dirinya harus tampil untuk mengumumkan laporan fiskal tahunan. Freeland sebelumnya salah satu menteri yang paling dipercaya Trudeau dalam kabinetnya, namun mundurnya ia dari parlemen menjadi salah satu alasan bahwa adanya pergerakan tidak sejalan dalam kepemimpinan. Diduga alasan mundurnya Freeland adalah karena ketidaksetujuan terhadap kebijakan ekonomi yang ingin diterapkan Trudeau. Menurut Freeland, Kanada tidak mampu menerapkan kebijakan ini apalagi di tengah tantangan menghadapi kebijakan Trump terhadap Kanada.

Dalam laporan portal berita kompas, mundurnya Freeland yang turut memberi guncangan pada posisi Trudeau adalah karena kebijakan pemotongan pajak. Sumber lain seperti CNN Indonesia kemudian menyebutkan bahwa kebijakan tersebut diduga justru merujuk pada libur pajak penjualan selama dua bulan di Kanada. Merespon pergolakan yang terjadi, kabinet parlemen pun banyak menyuarakan untuk Trudeau mundur dari posisinya karena dianggap tak lagi dapat mengatasi permasalahan ekonomi di Kanada. Pasalnya, kekacauan semakin didukung dengan terjadinya demo terhadap kebijakan ini. Masyarakat Kanada menganggap bahwa pemerintah tak lagi sanggup mengatasi masalah yang terjadi. Kebijakan yang dikeluarkan tak sejalan dengan kebutuhan, karena masalah krisis perumahan dan harga bahan pokok yang meninggi dan belum teratasi yang berdampak pada kesejahteraan hidup masyarakatnya. Dengan keluarnya kebijakan baru tanpa teratasinya permasalahan lama ini kemudian menimbulkan benturan antara masyarakat dengan pemerintah, dalam hal ini mengarah khusus kepada Perdana Menteri Trudeau.

Menganalisis lebih jauh, kondisi ini dipandang sebagai sebuah titik lemah Kanada sebagai sebuah negara maju. Kebijakan Trudeau dianggap melemahkan kekuatan ekonomi Kanada karena menerima kritik besar-besaran dalam hal ini. Juga semenjak dua tahun terakhir, Trudeau dengan kebijakan ekonominya tak lagi mampu mengatasi krisis ekonomi mikro dalam beberapa kondisi yang menyebabkan krisis ini membesar secara jumlah dan dampaknya. Dilihat juga dari mundurnya wakil perdana menteri dan beberapa anggota dalam parlemen serta desakan internal partai, Trudeau dianggap perlu mundur dari jabatannya sebelum ekonomi Kanada semakin lemah dibuatnya. Desakan mundur semakin menguat setelah pernyataan Freeland bahwa menurutnya Kanada tak akan mampu menerapkan kebijakan ini, karena Ottawa sedang menghadapi kemungkinan serius tentang penerapan tarif yang berpotensi dikenakan Presiden Terpilih Amerika Serikat.

Disisi lain sosok Trudeau dan Partai Liberal pun mengalami lack of electability atau mengurangnya elektabilitas dalam pemilu selanjutnya. Kondisi ini kemudian dilihat sebagai peluang oleh partai pesaingnya yaitu Partai Konservatif. Bagi Partai Konservatif, melemahnya posisi Trudeau dan Partai Liberal membuka kesempatan untuk merebut kekuasaan dengan memenangkan pemilu selanjutnya. Kemudian, kesempatan juga dipandang dari sisi negara lain seperti Amerika Serikat. Dalam beberapa portal berita, Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespon mundurnya Perdana Menteri Trudeau dengan berkata bahwa Kanada lebih baik bergabung menjadi bagian Amerika Serikat. Trump memberi argumen bahwa jika Kanada bergabung dengan Amerika Serikat maka tidak akan ada lagi kelemahan ekonomi yang terjadi dan kesejahteraan lebih terjamin. Beberapa pihak dalam parlemen Kanada pun merasa ini sebagai ancaman maka desakan untuk mundurnya Trudeau semakin menguat meresponi ancaman Amerika Serikat.

Realisme dalam konteks politik: Mundurnya Trudeau adalah bentuk kepentingan negara dan beberapa kelompok

Sebagai sebuah cara pandang, realisme memiliki asumsi yang khas tentang politik apalagi politik internasional. Dalam realisme, konsep mengemukakan kepentingan nasional adalah yang utama. Dimana negara sebagai aktor utama dalam politik internasional. Kemudian realisme memunculkan beberapa konsep seperti self-help, security dilemma, serta keamanan dan kekuatan (power). Selain itu, realisme berhubungan erat dengan ekonomi dan keamanan. Ini karena realisme percaya bahwa negara harus berusaha memperkuat dirinya dan hal yang dapat dilakukan adalah memperkuat aspek ekonomi dan militer. Ekonomi dan militer dalam konteks realis berhubungan erat. Semakin kuat perekonomian, maka negara semakin dapat memperkuat kekuatan militer. Semakin kuat pertahanan militer negara akan menunjang keuntungan bagi perekonomian negara (Rosyidin, 2020 : 25-31).

Dalam konteks Kanada dan posisi Justin Trudeau, konsep realisme nyata dalam menjelaskan fenomena ini.

  • Timbulnya kebijakan ekonomi ini adalah bentuk self-help Trudeau terhadap elektabilitasnya. Langkah ini memperlihatkan bahwa keinginan untuk penerapan kebijakan libur pajak penjualan dan kebijakan pemotongan harga untuk sebagian besar pekerja. Menurut laporan CNN, Trudeau ingin kebijakan ini sebagai “hadiah” menjelang pemilu untuk menarik kembali jumlah pemilih. Trudeau mungkin menganggap power yang ia miliki sebagai Kepala Pemerintahan akan membantunya dalam menolong diri dan partainya.

  • Kemudian kritik terhadap kebijakan yang diperlihatkan melalui pengunduran dir beberapa menteri dan desakan parlemen untuk mundurnya Trudeau dari posisinya adalah bentuk security dilemma. Dimana kebijakan Trudeau dianggap melemahkan kekuatan ekonomi Kanada sebagai negara. Inipun dilihat sebagai ancaman oleh menteri dan parlemen karena mempengaruhi citra Kanada dan kekuatannya sebagai negara maju di internasional.

  • Internal partai Trudeau pun turut menyuarakan Trudeau untuk mundur dari posisi perdana menteri sekaligus ketua partai ini juga dianggap sebagai bentuk security dilemma dan self-help partai. Dimana partai merasa terancam dengan semakin menurunnya elektabiltas yang disebabkan oleh konflik kebijakan Trudeau. Kemudian partai meminta Trudeau mundur sebagai perdana menteri dan ketua partai untuk menghentikan semakin buruknya citra partai.

  • Kemudian dari sisi kelompok lain yakni partai oposisi dan negara tetangga, mundurnya Trudeau karena kebijakan yang melemahkan negara dianggap sebagai peluang merebut kekuasaan. Ini dianggap sebagai peluang karena kepentingannya masing-masing. Partai oposisi memiliki kepentingan untuk menang dalam pemilu dan menjadi partai penguasa di Kanada. Sedangkan dari sisi negara lain seperti Amerika Serikat, kepentingan nasional untuk ekspansi kekuatan dan wilayah dianggap akan terwujud jika Kanada bergabung menjadi bagian Amerika Serikat.

Intinya dampak kebijakan ekonomi Justin Trudeau terhadap posisinya sebagai Perdana Menteri Kanada adalah karena dalam konteks ini, konsep realisme dalam politik menjelaskan bahwa kebijakan Trudeau merupakan upaya untuk memperkuat posisinya di tengah ancaman terhadap kekuatan ekonomi Kanada. Namun, situasi ini berpotensi membuka peluang bagi partai oposisi, seperti Partai Konservatif, untuk merebut kekuasaan dalam pemilu mendatang, mengingat penurunan elektabilitas dan tantangan yang dihadapi oleh Trudeau dan Partai Liberal. Sehingga Trudeau pun harus mundur dari posisinya.