Isra Mi'raj dan Artinya Bagi Kehidupan Kita

Wakil Ketua Umum MUI, Ketua PP Muhammadiyah
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari KH Anwar Abbas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isra' artinya berjalan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Sementara Mi'raj artinya adalah naik ke langit dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. Jadi dari peristiwa ini terlihat ada dua bentuk perjalanan yang dilakukan nabi, dan yang juga akan kita lalui, yaitu perjalanan yang bersifat horizontal dan vertikal.
Perjalanan yang bersifat horizontal adalah perjalanan duniawi kita, di mana kita harus bekerja dan berusaha untuk mengurusi hidup dan kehidupan, serta keduniaan kita. Tapi di sisi lain, kita juga harus mensubstansiasi dan memaknainya dengan sesuatu yang diharapkan dan diinginkan oleh Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, yaitu Allah SWT.
Ini artinya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, dalam bidang apa pun itu, termasuk dalam bidang ekonomi dan politik, kita harus "mi'raj" atau mengaitkan dan mengomunikasikannya dengan Tuhan. Kita harus berusaha untuk membuat semua yang kita lakukan dan kerjakan tidak bertentangan dengan keinginan dan kehendak-Nya.
Dalam perjalanan isra dan mi'raj itu, salah satu tugas mulia dan yang didapatkan dan dijemput oleh Nabi Muhammad SAW adalah perintah salat. Kita diwajibkan menjalankan ibadah tersebut lima kali dalam sehari semalam. Tak peduli apa pun jabatan dan tugas kita. Sesibuk apa pun kita dalam urusan-urusan duniawi ini, bila telah tiba waktu salat maka kita harus mengerjakannya.
Tuhan sudah menyatakan dalam firman-Nya, seperti yang terdapat pada Surah Al-'Ankabut Ayat 45, bahwa salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Orang yang sudah mengerjakan salat diharapkan oleh Allah SWT akan bisa meninggalkan segala perbuatan keji dan munkar.
Lalu bagaimana halnya jika hidup kita masih dihiasi oleh perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT? Itu suatu pertanda bahwa iman kita kepada-Nya belum bersifat permanen.
Imam Syafii mengatakan, iman yang ada pada seseorang itu yazid wa yanqush, masih naik-turun dan bahkan bisa benar-benar menghilang dari dalam diri seseorang untuk kemudian datang dan muncul kembali. Hal itu terlihat jelas dalam hadis nabi yang mengatakan bila ada orang yang mencuri atau korupsi, maka iman mereka telah terbang dari dalam diri mereka.
Dari sanalah kita melihat hikmah perintah mengerjalan salat wajib lima waktu dalam sehari semalam. Kita diharapkan bisa menjaga hubungan dengan Allah SWT sehingga kita tidak jatuh ke dalam hal-hal yang tidak disukai-Nya.
Jika kita bisa melakukan hal-hal demikian dengan baik, maka kita tentu tak hanya akan dicintai oleh Yang Ada di Langit, Allah SWT, tapi juga dicintai oleh yang ada di bumi, yaitu manusia dan makhluk lainnya.
