Jauhkan Negeri Ini dari Pemimpin yang Demagog

KH Anwar Abbas
Wakil Ketua Umum MUI, Ketua PP Muhammadiyah
Konten dari Pengguna
13 Februari 2024 8:53 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari KH Anwar Abbas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi kunci jadi pemimpin. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kunci jadi pemimpin. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Istilah demagog merupakan istilah politik yang berasal dari bahasa Yunani “demos” yang bermakna rakyat dan “agogos” yang bermakna pimpinan dalam arti negatif. Jadi pemimpin demagog adalah pemimpin yang menyesatkan karena alasan yang dia jadikan sebagai dasar dalam membuat kebijakan dan tindakannya adalah kepentingan pribadi dan kepentingan dari kroni-kroninya.
ADVERTISEMENT
Jadi, corak kepemimpinan demagog ini jelas-jelas sangat bertentangan dengan corak kepemimpinan yang diharapkan dan diamanatkan oleh falsafah Pancasila dan UUD 1945, di mana dalam sila kelima dari Pancasila--tujuan dari sebuah kepemimpinan di negeri ini haruslah diarahkan bagi terciptanya keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Di dalam Pasal 33 dan 34 UUD 1945 terkait dengan masalah ekonomi dan sosial sudah dijelaskan bahwa tugas pemimpin itu adalah untuk menciptakan sebesar-besar kemakmuran rakyat dan untuk melindungi mereka-mereka yang fakir dan miskin, serta rakyat yang hidupnya dalam keadaan telantar.
Jadi kepemimpinan yang kita harapkan dan perlukan adalah kepemimpinan yang bersifat people oriented artinya kepemimpinan yang berorientasi kepada kepentingan rakyat bukan kepada kepentingan dari sang pemimpin. Rasanya akhir-akhir ini terasa rakyat yang kurang kita dapatkan, di mana para pemimpin kita tampak lebih sibuk dengan dirinya dan kroni-kroninya.
ADVERTISEMENT
Sehingga masalah kedaulatan di negeri ini sudah tidak lagi sesuai dengan amanat konstitusi, karena sudah bergeser dari negara yang berdasar kepada kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan penguasa--sehingga lahirlah kepemimpinan yang tidak diharapkan, yaitu kepemimpinan yang bersifat demagog.
Oleh karena itu, tugas kita ke depan sebagai rakyat adalah mengawasi dan mengupayakan bagaimana caranya supaya para pemimpin yang berkuasa di negeri ini tetap berpegang teguh kepada falsafah Pancasila dan hukum dasar negara kita yaitu UUD 1945. Ini penting dilakukan agar mereka-mereka yang kita amanati untuk menjadi pemimpin tersebut jangan sampai keluar dari garis yang ditentukan oleh falsafah dan konstitusi negara kita.
Sebab, bila itu mereka langgar--maka risikonya akan sangat besar dan berbahaya bagi masa depan bangsa dan negara. Tentu saja hal itu akan mengusik rasa persatuan dan kesatuan di antara warga bangsa dan tentu saja jangan sampai hal itu terjadi.
ADVERTISEMENT