Konten dari Pengguna

Konflik Thailand-Kamboja: Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu

KH Anwar Abbas

KH Anwar Abbasverified-green

Wakil Ketua Umum MUI, Ketua PP Muhammadiyah

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KH Anwar Abbas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peta Thailand dan Kamboja. Foto: sasirin pamai/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peta Thailand dan Kamboja. Foto: sasirin pamai/Shutterstock

Sebagai sesama anggota ASEAN, kita sangat menyesalkan terjadinya perang antara Thailand-Kamboja yang meletus pada Kamis pagi (24/7/25). Masing-masing negara telah menuduh pihak lain yang memulai.

Thailand misalnya, mengatakan bahwa Kamboja merupakan pihak pertama yang melepaskan tembakan. Sementara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja mengatakan bahwa Thailand secara sengaja telah mengerahkan pasukannya dalam jumlah yang cukup besar ke daerah konflik, dengan membawa senjata berat. Para pasukan itu, menurut mereka, telah melancarkan serangan udara guna menduduki wilayah Kamboja.

Imbasnya, perang antara kedua negara pun pecah, setidaknya belasan orang tewas, dan puluhan ribu lainnya mengungsi.

Keadaan semakin memburuk setelah pemerintah Thailand mengusir Duta Besar Kamboja dan menarik utusannya dari Phnom Penh. Kita berharap agar kedua negara bisa secepatnya menghentikan peperangan, lalu menyelesaikan masalah mereka melalui meja perundingan.

"Menang jadi arang, kalah jadi abu"

Kata-kata ini hendaknya benar-benar disadari oleh kedua belah pihak. Jika perang ini terus berlanjut maka baik yang menang maupun yang kalah akhirnya akan sama-sama hancur dan mengalami kerugian.

Untuk itu kita berharap agar Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sebagai Ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) saat ini untuk melakukan langkah-langkah konkret demi menghentikan peperangan dan mendesak kedua negara agar dapat menyelesaikan masalah mereka melalui meja perundingan.

Ini sangat penting dilakukan karena kita ingin kawasan ASEAN tetap menjadi kawasan yang aman, tentram, dan damai.