Uighur Xinjiang: Daerah Kaya di Jantung Benua Asia

Wakil Ketua Umum MUI, Ketua PP Muhammadiyah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari KH Anwar Abbas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daerah Otonomi Uighur Xinjiang adalah wilayah otonom di barat laut Tiongkok yang secara geografis berada tepat di jantung Benua Asia. Luasnya sekitar 1.664.900 kilometer persegi, hampir menyamai luas daratan Indonesia. Dengan cakupan sekitar seperenam total daratan Tiongkok, Xinjiang merupakan wilayah setingkat provinsi terbesar di negara tersebut. Jumlah penduduknya pada 2025 diperkirakan mencapai 26,2 juta jiwa, dengan etnis Uighur yang mayoritas beragama Islam sebagai kelompok etnis terbesar.
Wilayah ini berbatasan langsung dengan Rusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, India, dan Mongolia. Secara alamiah, Xinjiang didominasi bentang pegunungan seperti Pegunungan Tianshan, padang rumput luas, serta kawasan gurun besar seperti Gurun Taklamakan. Di antara bentang alam tersebut terdapat cekungan-cekungan subur seperti Cekungan Tarim, Cekungan Junggar, dan wilayah Turpan yang menjadi pusat kegiatan pertanian dan permukiman.
Bagi Tiongkok, Xinjiang bukan sekadar wilayah perbatasan strategis, melainkan juga salah satu lumbung pangan terpenting. Sistem irigasi yang memanfaatkan lelehan salju dari pegunungan dipadukan dengan teknologi pertanian modern menjadikan kawasan ini memiliki tingkat swasembada pangan yang tinggi. Xinjiang dikenal sebagai produsen kapas berkualitas tertinggi dan terbesar di Tiongkok, terutama dari wilayah Tarim dan Turpan. Selain kapas, daerah ini menghasilkan gandum, jagung, padi, jawawut, dan sorgum yang tumbuh subur pada musim dingin dan musim semi. Xinjiang juga tersohor sebagai pusat buah-buahan manis dan segar seperti anggur tanpa biji dari Turpan, melon Hami, apel, dan pir wangi Korla, serta komoditas lain seperti bit gula dan kepompong ulat sutera.
Di luar sektor pertanian, Xinjiang memiliki posisi sangat penting dalam ketahanan energi nasional Tiongkok. Wilayah ini menyumbang sekitar 38 persen dari total cadangan batu bara nasional. Selain itu, cadangan minyak dan gas bumi yang besar terdapat di Junggar, Tarim, dan Turpan, yang jumlahnya diperkirakan lebih dari seperempat total cadangan nasional. Xinjiang juga kaya akan logam mulia dan logam industri seperti emas, besi, tembaga, nikel, serta kandungan garam dan sodium yang melimpah di danau-danau garamnya.
Kekayaan sumber daya alam tersebut turut mendorong tingkat kesejahteraan ekonomi wilayah ini. Pada 2025, pendapatan per kapita Xinjiang diperkirakan mencapai sekitar USD 11.421, jauh di atas beberapa provinsi di Indonesia seperti Jawa Timur dan Jawa Barat pada tahun yang sama, meskipun masih berada di bawah Jakarta dan jauh di bawah Beijing. Kemajuan ekonomi ini terlihat nyata dari pesatnya pembangunan di ibu kota wilayah tersebut, Urumqi, yang menunjukkan wajah kota modern dengan infrastruktur yang berkembang cepat.
Namun, di balik kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik tersebut, muncul pertanyaan penting yang layak menjadi perhatian dalam perjalanan ini: bagaimana sesungguhnya kondisi sosial ekonomi dan peran umat Islam Uighur dalam perkembangan Xinjiang? Sejauh mana mereka terlibat dan merasakan manfaat dari kemajuan yang terjadi? Dalam konteks ini, sikap dan kebijakan pemerintah Tiongkok menjadi faktor yang sangat menentukan dinamika kehidupan sosial, ekonomi, dan keagamaan di wilayah yang sangat strategis ini.
