Nasib Anak Perempuan: Patriarki dalam Keluarga

Mahasiswi, S1 Ilmu Al-Qur'an Tafsir, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta a carat who's stan and love SEVENTEEN
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Khaerina Aulia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Patriarki dalam keluarga bukan sekadar tentang ayah yang lebih dominan dari ibu, tapi tentang sistem nilai yang menganggap anak perempuan harus lebih banyak mengalah, membantu, dan berkorban—hanya karena mereka perempuan. Lahir sebagai perempuan di keluarga patriarki, dituntut untuk kuat tanpa mendapatkan hak yang semestinya, memikul beban yang tak pernah mereka minta.
Bagaimana Patriarki Membentuk Beban Tak Terlihat
Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa dan otoritas. Dalam keluarga, ini terlihat dari pembagian peran yang tidak setara. Anak laki-laki diberi kebebasan dan ekspektasi “berprestasi”, sementara anak perempuan dibebani tanggung jawab emosional dan domestik sejak kecil.
Menurut Suci Ramadhani (2021) dalam Jurnal Gender dan Anak, anak perempuan dalam keluarga patriarki kerap dituntut menggantikan peran ibu saat ibu tidak hadir—baik secara fisik maupun emosional. Mereka juga sering menjadi sasaran kritik, standar ganda, dan tekanan moral untuk menjaga nama baik keluarga. Apalagi jika keluarga tersebut mengalami perpecahan atau broken home, beban anak perempuan bisa jadi berlipat ganda. Mereka diminta "jadi dewasa" sebelum waktunya. Kakaknya (jika laki-laki) bisa tetap bebas, tapi dia? Harus bisa segalanya.
Membentuk Luka yang Tak Terlihat
Fitri Handayani (2019) mencatat bahwa ketidaksetaraan dalam rumah bisa menimbulkan efek psikologis serius pada anak perempuan. Di antaranya:
Merasa tidak cukup baik: karena standar yang dikenakan sangat tinggi tapi tak pernah diakui.
Cemas dan takut membuat kesalahan: karena diminta sempurna sebagai “contoh” bagi adik atau keluarga.
Depresi ringan hingga berat: karena menahan semua perasaan tanpa ruang aman untuk mengungkapkannya.
Laporan UN Women (2022) juga memperkuat bahwa anak perempuan di lingkungan patriarkal lebih rentan mengalami tekanan emosional, terutama jika dibesarkan di keluarga yang tidak adil dalam membagi peran dan empati.
Menghantui hingga Masa Kedewasaan
Dampak dari luka masa kecil ini nggak selesai ketika mereka tumbuh dewasa. Banyak anak perempuan dari keluarga patriarkis mengalami:
Kesulitan membangun relasi sehat, karena terbiasa menjadi "penyelamat" orang lain.
Merasa bersalah saat membahagiakan diri sendiri, karena sejak kecil dididik untuk mengutamakan orang lain.
Takut membuat keputusan besar, karena tak pernah diberi kesempatan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Yang lebih menyedihkan, pola ini bisa berulang—karena mereka pun belum pernah belajar seperti apa hubungan yang sehat dan setara.
Ubah Polanya, Serukan Hak Perempuan
Setelah memahami bagaimana sistem patriarki membentuk luka yang dalam bagi anak perempuan—baik secara emosional, sosial, maupun psikologis—pertanyaannya adalah: apa yang bisa kita lakukan sekarang?
Sadar akan pola patriarki. Perubahan dimulai dari kesadaran. Orang tua dan lingkungan harus memahami bahwa anak perempuan tidak wajib menggantikan peran yang hilang dalam keluarga.
Bagi tanggung jawab secara adil. Anak laki-laki dan perempuan harus dididik sama-sama bertanggung jawab di rumah. Adil itu bukan berarti sama, tapi seimbang sesuai kapasitas dan usia.
Sediakan ruang aman dan validasi emosi. Dengarkan cerita anak perempuan tanpa menghakimi. Biarkan mereka punya hak untuk sedih, marah, dan jujur.
Edukasi gender sejak dini. Ajak anak memahami bahwa laki-laki dan perempuan punya hak dan tanggung jawab yang setara. Bukan karena jenis kelamin, tapi karena sama-sama manusia.
Memutus rantai patriarki bukan perkara instan, tapi bukan berarti tidak mungkin. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil, dari dalam rumah, dari pola pikir, hingga pada tindakan nyata yang adil dan empatik.
Anak Perempuan juga Butuh Didengar
Anak perempuan bukan tempat untuk meletakkan beban keluarga. Mereka bukan pengganti ibu, bukan penebus luka masa lalu orang tuanya, dan bukan pelengkap kebahagiaan keluarga yang belum selesai berdamai.Anak perempuan berhak tumbuh tanpa harus memikul beban keluarga yang tidak mereka buat.
Sudah saatnya kita berhenti mewariskan sistem yang menuntut mereka menjadi kuat, tanpa pernah memberi ruang untuk mereka rapuh.
