Konten dari Pengguna

Perang Harga di E-Commerce: Ketika Diskon Justru Membunuh Brand

Khailas Maical Alfanco

Khailas Maical Alfanco

Manajemen Student at Pamulang University

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khailas Maical Alfanco tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi diskon belanja online. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi diskon belanja online. Foto: Generated by AI

Setiap tanggal kembar, jutaan konsumen Indonesia bersiap di depan layar dengan jari siap klik. Flash sale, voucher gratis ongkir, cashback berlipat, potongan harga hingga 90 persen. Angka penjualan meroket, server e-commerce kewalahan, dan media ramai memberitakan rekor transaksi yang dipecahkan.

Tapi di balik euforia itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah semua diskon besar-besaran itu benar-benar menguntungkan brand yang berjualan di sana?

Jawabannya, bagi banyak brand lokal Indonesia, adalah tidak.

Ketika Diskon Menjadi Standar, Bukan Promosi

Masalah terbesar dari budaya flash sale yang sudah mengakar di ekosistem e-commerce Indonesia adalah pergeseran ekspektasi konsumen. Ketika sebuah brand rutin memberikan diskon 50 persen setiap bulan, konsumen akan belajar satu hal dengan sangat cepat: tidak ada gunanya membeli di luar periode sale.

Ini bukan spekulasi. Ini adalah perilaku konsumen yang sudah diprediksi oleh teori manajemen pemasaran sejak lama. Konsep yang dikenal sebagai reference price theory menjelaskan bahwa konsumen membentuk harga referensi dalam benaknya berdasarkan harga yang paling sering mereka lihat. Ketika harga diskon lebih sering muncul dari harga normal, maka harga diskon itulah yang menjadi referensi. Harga normal tiba-tiba terasa mahal, bahkan tidak masuk akal.

Akibatnya, brand terjebak dalam siklus yang sulit diputus: jika tidak diskon, tidak ada yang beli. Jika terus diskon, margin terkikis hingga titik yang tidak lagi berkelanjutan.

Brand Lokal yang Paling Merasakan Dampaknya

Platform e-commerce besar memang diuntungkan dari perang harga ini. Lebih banyak transaksi berarti lebih banyak komisi, lebih banyak data pengguna, dan valuasi yang terus naik. Biaya promosi flash sale sebagian besar ditanggung oleh penjual, bukan platform.

Di sinilah asimetri yang paling menyakitkan terjadi. Brand asing dengan modal besar dan margin tinggi bisa dengan mudah membiayai diskon besar tanpa mengancam kelangsungan bisnis mereka. Brand lokal yang modal kerjanya terbatas dan margin produknya tipis tidak punya kemewahan yang sama.

Sebuah studi Katadata Insight Center pada 2025 menemukan bahwa lebih dari 60 persen pelaku UMKM yang berjualan di platform e-commerce mengalami tekanan margin yang signifikan akibat tuntutan untuk terus berpartisipasi dalam program promosi platform. Banyak yang mengaku terpaksa memangkas kualitas bahan baku atau mengurangi biaya operasional lain hanya untuk bisa tetap menawarkan harga yang kompetitif di tengah perang diskon yang tidak ada habisnya.

Paradoks: Semakin Murah, Semakin Tidak Dipercaya

Ada sisi lain dari perang harga yang justru kontra produktif dari perspektif manajemen merek. Dalam literatur branding, harga bukan hanya angka transaksi. Ia adalah sinyal kualitas.

Ketika sebuah brand terlalu sering menawarkan diskon besar, konsumen mulai mempertanyakan nilai sebenarnya dari produk tersebut. Jika bisa dijual 50 persen lebih murah, apakah harga normalnya memang terlalu tinggi sejak awal? Apakah produknya memang tidak laku? Keraguan ini perlahan menggerus persepsi kualitas yang sudah dibangun dengan susah payah.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi konsumen sebagai discount devaluation effect, dan dampaknya paling keras dirasakan oleh brand yang sedang dalam tahap membangun reputasi, yang notabene adalah mayoritas brand lokal Indonesia.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Keluar dari jebakan perang harga bukan perkara mudah, tapi bukan tidak mungkin. Beberapa brand lokal yang berhasil bertahan justru memilih untuk tidak bermain di arena yang sama.

Strategi pertama adalah membangun diferensiasi yang tidak bisa dikompetisikan hanya dengan harga. Cerita di balik produk, nilai keberlanjutan, keterlibatan komunitas, dan pengalaman pelanggan yang personal adalah hal-hal yang tidak bisa dikalahkan hanya dengan diskon lebih besar. Konsumen yang membeli karena nilai-nilai ini jauh lebih setia dan tidak mudah berpindah hanya karena kompetitor menawarkan harga Rp5.000 lebih murah.

Strategi kedua adalah mendiversifikasi saluran penjualan. Ketergantungan penuh pada satu atau dua platform e-commerce membuat brand rentan terhadap kebijakan promosi platform yang bisa berubah kapan saja. Membangun toko online sendiri, komunitas pelanggan yang kuat, dan saluran penjualan langsung memberikan fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh brand yang semua telornya ada dalam satu keranjang.

Strategi ketiga, dan ini yang paling menantang, adalah keberanian untuk tidak ikut flash sale. Bagi brand yang sudah punya basis pelanggan setia dan proposisi nilai yang jelas, ketidakhadiran dalam flash sale justru bisa menjadi pernyataan positioning yang kuat. Tapi strategi ini hanya berhasil jika dieksekusi dengan konsistensi dan komunikasi yang tepat kepada konsumen.

Kesimpulan

Perang harga di e-commerce Indonesia bukan sekadar fenomena pasar yang akan selesai dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari struktur insentif yang saat ini lebih menguntungkan platform dan brand besar, sementara brand lokal yang justru menjadi tulang punggung ekosistem perdagangan digital Indonesia menanggung biaya yang paling besar.

Selama platform e-commerce terus menggunakan harga sebagai senjata utama untuk menarik pengguna dan brand lokal tidak punya pilihan selain mengikuti, ekosistem ini akan terus menghasilkan pemenang dan pecundang yang sama. Yang perlu berubah bukan hanya strategi masing-masing brand, tapi juga bagaimana kita sebagai konsumen, platform, dan regulator memandang nilai sebuah produk lokal yang sesungguhnya.