Politik Kampus Hasil Voting? atau Hasil Aklamasi?

I am 18 years old and I reside in Tangerang Selatan. I am a student at the Faculty of Psychology, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. I have interest in public speaking, basic design, and secretariat.
Tulisan dari KHAIRA ANNISA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini banyak sekali kampus di Indonesia yang sedang melakukan Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA). Beberapa kampus tersebut ada yang memiliki pihak eksternal yang akan berkerjasama dan berdemokrasi demi memenangkan kursi-kursi kekuasaan yang berada di Kampus. Namun adapula kampus di Indonesia yang menggunakan jalur aklamasi.
Nah, kampus yang memilih untuk menggunakan jalur aklamasi ini pastinya juga sudah mempunyai pertimbangan yang cukup matang dan mempunyai faktor-faktor pendorong yang kuat sehingga mereka dapat berani mengambil keputusan bahwa mereka akan mengaklamasi PEMIRA tersebut.
Jika setiap tahun PEMIRA selalu melalui jalur aklamasi, lantas bagaimana nasib demokrasi di sistem politik kampus kedepannya?
Apa Itu Aklamasi?
Menurut Wikipedia, Aklamasi adalah pertemuan maupun pemilihan umum dan atau mengakui hasil pemilihan umum dalam bentuk penegasan yang dengannya seseorang dengan tepuk tangan, sorak sorai atapun pekikan penghargaan lain dinyatakan terpilih. Dalam kasus ini, pemungutan suara tidak dilakukan.
Berdasarkan pengertian diatas, aklamasi secara singkat adalah sistem pemilihan umum dengan cara tidak melakukan pemungutan suara tetapi melalui pernyataan setuju secara lisan.
Lalu Apa Saja Faktor Pendorong Terjadinya Aklamasi di Sistem Politik Kampus di Indonesia?
Faktor pendorong terjadinya aklamasi di sistem politik kampus di Indonesia adalah :
Jiwa musyawarah yang tinggi
Kampus yang memiliki jiwa musyawarah yang tinggi akan lebih mudah untuk mengaklamasi PEMIRA tiap tahunnya. Mengapa begitu? Mereka merasa bahwa dengan adanya musyawarah mereka akan lebih mudah untuk mendapatkan kriteria calon pemimpin yang bagus kedepannya.
Takut kalah dalam hasil pemungutan suara (voting)
Tak bisa dipungkiri manusia pada dasarnya tidak pernah merasa cukup akan sesuatu hal. Mereka akan terus berusaha untuk mencari kepuasan yang tidak ada ujungnya. Begitu juga dalam politik kampus ini, perlu diakui banyak mahasiswa di Indonesia yang masih belum memiliki mental yang cukup untuk bertarung di dalam sistem politik kampus ini.
Bagaimana Nasib Demokrasi di Sistem Politik Kampus di Indonesia Kedepannya? Akankah Sistem Demokrasi Tergantikan Oleh Aklamasi?
Jika, setiap tahun PEMIRA selalu melalui aklamasi hal ini dapat mengurangi elemen demokrasi dalam sistem politik kampus. Proses demokratisasi yang seharusnya melibatkan pemilihan umum dapat tergeserkan dengan adanya sistem aklamasi ini. Yang mungkin dimana aklamasi mengarah pada kurangnya variasi pandangan dan partisipasi aktif. Dan perlu dipastikan bahwa setiap adanya pemilihan harus adil dan terbuka untuk menjaga prinsip dasar demokrasi.
Nah, Jadi menurut kalian gimana? Kalian tim demokrasi atau tim aklamasi nih?
