Konten dari Pengguna

Semua Orang Ikut Tren, Tapi Apakah Kita Benar-Benar Menginginkannya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KHAIRANI DWI RAHMAWATI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Unsplash/Swello (@getswello)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Unsplash/Swello (@getswello)

Pernahkah kamu membeli sesuatu hanya karena barang tersebut sedang ramai dibicarakan di media sosial? Atau merasa ketinggalan ketika teman-teman membahas tren yang sedang viral, sementara kamu bahkan belum mengetahui apa yang sebenarnya membuat tren tersebut begitu populer?

Fenomena seperti ini semakin mudah ditemukan di kehidupan sehari-hari. Mulai dari makanan, produk kecantikan, gaya berpakaian, tempat wisata, hingga kebiasaan tertentu, semuanya bisa mendadak populer setelah mendapatkan perhatian besar di media sosial. Menariknya, tidak sedikit orang yang akhirnya ikut mencoba tren tersebut, bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena tidak ingin merasa tertinggal.

Ketika Viral Menjadi Ukuran Kepopuleran

Media sosial telah mengubah cara masyarakat menemukan informasi dan menentukan sesuatu yang dianggap menarik. Konten yang mendapatkan banyak penonton, komentar, dan tanda suka sering kali terlihat lebih meyakinkan dibandingkan sesuatu yang belum banyak dikenal.

Akibatnya, popularitas terkadang menjadi pertimbangan utama sebelum seseorang memutuskan untuk membeli produk, mengunjungi suatu tempat, atau mengikuti kebiasaan tertentu. Ketika banyak orang membicarakan hal yang sama, muncul anggapan bahwa hal tersebut layak dicoba.

Dalam psikologi sosial, kecenderungan mengikuti perilaku orang lain dapat berkaitan dengan social proof, yaitu ketika seseorang menggunakan tindakan orang lain sebagai petunjuk dalam mengambil keputusan. Hal ini sebenarnya tidak selalu buruk. Rekomendasi orang lain dapat membantu kita menemukan produk atau pengalaman baru. Namun, masalah muncul ketika keputusan dibuat hanya karena mengikuti keramaian tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan diri sendiri.

FOMO dan Tekanan untuk Selalu Mengikuti Tren

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan fear of missing out atau FOMO, yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau informasi yang dianggap penting. Media sosial dapat memperkuat perasaan ini karena pengguna terus melihat pengalaman orang lain yang terlihat menyenangkan, menarik, atau mengesankan.

Sebagai contoh, ketika sebuah produk menjadi viral, seseorang mungkin merasa perlu membelinya agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Begitu pula ketika suatu tempat wisata ramai dikunjungi, muncul keinginan untuk datang dan membagikan pengalaman serupa di media sosial.

Padahal, apa yang terlihat di internet belum tentu menggambarkan keseluruhan kenyataan. Seseorang mungkin hanya menampilkan sisi menarik dari kehidupannya, sementara biaya, kesulitan, atau pengalaman kurang menyenangkan tidak ikut diperlihatkan.

Jika kebiasaan ini terus berlangsung tanpa disadari, seseorang dapat lebih mudah mengambil keputusan berdasarkan tekanan sosial dibandingkan pertimbangan pribadi. Dalam jangka panjang, kebiasaan mengikuti tren juga berpotensi memengaruhi pengeluaran dan cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Menjadi Bagian dari Tren Tanpa Kehilangan Kendali

Mengikuti tren bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Tren dapat menjadi sarana hiburan, kreativitas, bahkan peluang usaha bagi masyarakat. Banyak pelaku UMKM, misalnya, memanfaatkan popularitas suatu produk untuk memperkenalkan bisnis mereka kepada konsumen yang lebih luas.

Namun, masyarakat perlu membedakan antara keinginan pribadi dan dorongan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Sebelum membeli produk yang sedang viral, seseorang dapat mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, sesuai anggaran, dan memiliki manfaat yang sepadan dengan harganya.

Selain itu, penting untuk tidak langsung menganggap sesuatu berkualitas hanya karena banyak orang membicarakannya. Membandingkan informasi, membaca ulasan dari berbagai sumber, dan mempertimbangkan pengalaman pengguna lain dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih bijak.

Kesimpulannya

Tren akan selalu berubah, dan sesuatu yang hari ini ramai dibicarakan belum tentu masih menarik beberapa minggu kemudian. Karena itu, mengikuti perkembangan zaman seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menentukan pilihannya sendiri.

Pada akhirnya, kita tidak harus mencoba semua hal yang sedang viral untuk membuktikan bahwa kita mengikuti perkembangan zaman. Mengetahui sebuah tren boleh saja, tetapi keputusan untuk mengikutinya tetap perlu didasarkan pada kebutuhan, kemampuan, dan pertimbangan pribadi.

Sebab, menjadi bagian dari masyarakat modern bukan berarti harus selalu mengikuti keramaian, melainkan mampu menentukan pilihan di tengah banyaknya pengaruh yang datang setiap hari.