Gaji Belum Naik, Gaya Hidup Makin Mahal? Ini Pengaruh Tekanan Sosial

Saya seorang mahasiswa universitas pamulang jurusan manajemen yang sedang belajar, berkembang, dan menambah wawasan melalui tulisan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Khairani Saputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, kamu merasa ingin membeli sesuatu hanya karena melihat teman memilikinya? Awalnya mungkin kamu merasa barang itu tidak terlalu penting. Namun, setelah melihat banyak orang menggunakannya, kamu mulai tertarik dan merasa ingin punya juga. Hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika media sosial membuat kita semakin mudah melihat gaya hidup orang lain. Tanpa disadari, disitulah tekanan sosial mulai muncul dan memengaruhi keputusan belanja kita.
Sekarang, media sosial bukan hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga tempat orang menunjukkan pakaian yang dikenakan, makanan yang dibeli, tempat yang dikunjungi, hingga barang-barang terbaru yang dimiliki. Tanpa disadari, apa yang kita lihat setiap hari bisa memengaruhi cara kita memandang kehidupan sendiri. Ketika melihat orang lain terlihat mampu membeli banyak hal, kita terkadang merasa kehidupan kita kurang menarik jika tidak melakukan hal yang sama.
Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi keuangan orang lain. Seseorang yang terlihat sering nongkrong di kafe atau membeli barang bermerek belum tentu memiliki kondisi keuangan yang lebih baik. Bisa saja mereka memang mampu, tetapi bisa juga mereka memiliki prioritas keuangan yang berbeda. Sayangnya, yang sering kita lihat hanya bagian menyenangkan dari kehidupan mereka, bukan bagaimana mereka mengatur pengeluarannya.
Pengaruh media sosial terhadap cara seseorang memandang kepemilikan barang juga ditemukan dalam penelitian. Kramadibrata dari Universitas Indonesia pada 2024 meneliti 381 responden dan menemukan hubungan positif antara konsumsi TikTok, materialisme, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berkaitan dengan cara seseorang memandang barang yang dimiliki dan membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Hal ini semakin menarik jika dikaitkan dengan kebiasaan belanja. Misalnya, seseorang memiliki gaji yang sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, karena lingkungan pertemanannya sering membeli pakaian baru, makan di tempat mahal, atau mengikuti tren terbaru, ia mulai merasa perlu melakukan hal yang sama. Akhirnya, sebagian gaji digunakan untuk memenuhi keinginan tersebut, meskipun masih ada kebutuhan lain yang lebih penting.
Menurut saya, inilah salah satu bentuk tekanan sosial yang sering tidak disadari. Kita membeli sesuatu bukan semata-mata karena membutuhkan barang tersebut, melainkan karena ingin diterima, terlihat menarik, atau tidak ingin dianggap tertinggal dari orang lain. Dalam perilaku konsumen, keputusan seperti ini menunjukkan bahwa pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan dan harga, tetapi juga oleh lingkungan sosial serta keinginan mendapatkan pengakuan.
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan keinginan untuk menunjukkan status melalui barang yang dimiliki. Penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of General Psychology pada 2024, dengan melibatkan 2.296 pengguna Instagram di Indonesia, menemukan bahwa paparan unggahan tentang pembelian barang mewah dapat meningkatkan aspirasi materialistis dibandingkan paparan unggahan tentang pengalaman. Artinya, konten yang menonjolkan kepemilikan barang dapat memengaruhi apa yang dianggap menarik atau diinginkan oleh seseorang.
Masalahnya, keinginan untuk mengikuti gaya hidup orang lain tidak selalu sejalan dengan kemampuan keuangan. Ketika gaji belum meningkat, tetapi pengeluaran terus bertambah, seseorang bisa kesulitan menyisihkan uang untuk tabungan atau kebutuhan mendadak. Bahkan, ada yang menggunakan layanan paylater untuk membeli barang yang sebenarnya belum diperlukan. Pada awalnya, pembayaran mungkin terasa ringan, tetapi jika dilakukan berulang kali, cicilan dapat menumpuk dan membebani penghasilan berikutnya.
Pentingnya memahami keuangan juga terlihat dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan bersama Badan Pusat Statistik. Hasil survei tersebut menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 66,46%, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51%. Data ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat mengenai keuangan dan tingkat akses terhadap layanan keuangan merupakan dua hal yang berbeda. Dalam menghadapi tekanan sosial dan gaya hidup yang terus berkembang, akses terhadap layanan keuangan perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola uang secara bijak. Meskipun data ini tidak secara langsung membuktikan bahwa masyarakat berbelanja karena tekanan sosial, hasil tersebut mengingatkan kita akan pentingnya memahami keuangan sebelum mengambil keputusan pembelian.
Menurut saya, mengikuti tren sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Kita tetap boleh membeli pakaian baru, menikmati makanan kesukaan, atau pergi berlibur selama sesuai dengan kemampuan. Yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik keputusan tersebut. Apakah kita membeli karena memang menyukainya, atau hanya takut dianggap kurang mampu dibandingkan orang lain?
Kita tidak harus mengikuti semua tren untuk bisa diterima dalam pergaulan. Sebelum membeli sesuatu, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya apakah barang itu benar-benar dibutuhkan serta apakah harganya sesuai dengan kondisi keuangan. Mengatur anggaran, menentukan prioritas, dan tidak mudah membandingkan diri dengan orang lain merupakan langkah sederhana yang dapat membantu kita mengendalikan pengeluaran.
Pada akhirnya, gaji yang besar tidak selalu menjamin kondisi keuangan yang sehat jika pengeluaran terus mengikuti keinginan. Sebaliknya, penghasilan yang terbatas tetap dapat dikelola dengan baik jika seseorang mampu menentukan prioritas. Menurut saya, kita tidak perlu terlihat kaya di mata orang lain sampai mengorbankan ketenangan keuangan sendiri. Sebab, yang paling penting bukan seberapa mahal gaya hidup yang bisa kita tunjukkan, melainkan seberapa baik kita mampu menjalani hidup sesuai dengan kemampuan kita.
