Misi Danantara Bangun Kampung Haji Makkah: Uang Jemaah Gak Lari ke Asing!

Aparatur Sipil Negara pada Kementerian Keuangan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Khairul Azwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda membayangkan saat beribadah di tanah suci, Anda menginap di hotel milik Indonesia, menyantap masakan koki asal tanah air, dan mendapatkan layanan medis dari dokter bangsa sendiri? Selama berpuluh-puluh tahun, miliaran rupiah uang jemaah haji dan umrah Indonesia mengalir deras ke kantong pengusaha asing. Namun, sebuah langkah besar sedang dipersiapkan untuk mengubah narasi tersebut.
Melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, pemerintah Indonesia kini mengusung misi ambisius: membangun "Kampung Haji" atau "Kampung Indonesia" di Makkah. Langkah ini bukan sekadar soal kebanggaan nasional, melainkan strategi jitu untuk memastikan perputaran uang jemaah tetap memberikan manfaat ekonomi bagi rakyat Indonesia sendiri.
Misi Besar Danantara di Tanah Suci
Danantara hadir membawa misi untuk menyatukan kekuatan investasi negara. Proyek Kampung Haji di Makkah dirancang menjadi kawasan terpadu yang mencakup akomodasi, katering, hingga layanan kesehatan khusus bagi warga Indonesia. Saat ini, jemaah kita sering kali harus terpencar di berbagai hotel yang dikelola oleh pihak internasional. Dengan adanya Kampung Haji, kenyamanan jemaah akan lebih terjamin karena standar layanannya dikontrol langsung oleh Indonesia.
Bayangkan efisiensi yang bisa tercipta. Jika selama ini biaya transportasi dan penginapan menjadi komponen paling mahal dalam biaya haji, maka kepemilikan aset secara mandiri akan memotong rantai perantara yang panjang. Ini adalah cara cerdas untuk menjaga stabilitas biaya ibadah agar tetap terjangkau di tengah kenaikan inflasi global.
Menghentikan Kebocoran Devisa Lewat Investasi Strategis
Potensi ekonomi dari haji dan umrah sangatlah fantastis. Dengan jumlah jemaah yang mencapai jutaan orang per tahun, ada triliunan rupiah yang berputar. Selama ini, sebagian besar uang tersebut keluar dari ekosistem ekonomi kita—sebuah fenomena yang sering disebut sebagai capital flight atau pelarian modal.
Dengan membangun infrastruktur sendiri di Makkah, Indonesia sedang berupaya menarik kembali potensi tersebut. Uang yang dibayarkan jemaah untuk hotel atau makanan tidak lagi berhenti di pengusaha lokal Saudi atau jaringan hotel global, melainkan kembali ke kas perusahaan negara Indonesia. Devisa yang biasanya menguap kini bisa menetap dan memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Pajak Rakyat di Balik Kemandirian Fiskal
Lalu, apa hubungannya dengan pajak dan kebijakan fiskal kita? Sangat erat. Danantara bekerja sebagai pengelola kekayaan negara yang modal awalnya berasal dari APBN. Kita tahu bahwa sekitar 80 persen pendapatan APBN bersumber dari pajak yang kita setorkan setiap hari, mulai dari Pajak Penghasilan (PPh) hingga Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Kebijakan fiskal Indonesia kini beralih dari sekadar belanja konsumtif menjadi investasi produktif. Pemerintah tidak lagi hanya "memberi subsidi" yang sekali habis, tetapi menyuntikkan modal ke lembaga seperti Danantara untuk membangun aset yang menghasilkan pendapatan. Hasil dari investasi ini nantinya akan masuk ke kas negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) atau dividen. Uang ini kemudian digunakan kembali untuk membiayai pembangunan jalan, sekolah, hingga layanan kesehatan di seluruh pelosok Indonesia.
Dampak Nyata Bagi UMKM dan Lapangan Kerja
Proyek Kampung Haji juga akan menjadi etalase raksasa bagi produk-produk Indonesia di pasar global. Kebutuhan katering yang mencapai jutaan porsi bisa menjadi pintu masuk bagi produk bumbu, beras, hingga olahan daging dari UMKM kita. Kebijakan fiskal yang mendukung ekspor dan pemberdayaan UMKM akan mendapatkan momentum emas di sini.
Selain itu, pengelolaan kawasan ini tentu membutuhkan tenaga kerja yang masif. Dari staf hotel, koki, hingga manajemen, prioritas tentu akan diberikan kepada putra-putri terbaik bangsa. Ini adalah bentuk nyata bagaimana uang pajak yang dikelola secara strategis mampu menciptakan lapangan kerja baru dan menggerakkan roda ekonomi lintas negara.
Harapan Baru untuk Kedaulatan Ekonomi Ibadah
Membangun gedung di negeri orang memang penuh tantangan administrasi dan diplomasi. Namun, langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya ingin menjadi konsumen atau penonton di pasar ibadah dunia. Kita sedang bergerak menjadi pemain kunci yang berdaulat secara ekonomi.
Saya merasa sangat optimis melihat pergeseran cara pandang pemerintah ini. Kebijakan untuk "menjemput bola" investasi di Makkah adalah tanda bahwa negara semakin cerdas mengelola uang rakyat. Jika proyek Kampung Haji ini sukses, kita tidak hanya akan melihat wajah Indonesia yang lebih bermartabat di tanah suci, tetapi juga merasakan dampak positifnya pada stabilitas ekonomi nasional. Inilah saatnya setiap tetes keringat wajib pajak berbuah aset abadi yang memberikan manfaat lintas generasi. Mari kita kawal bersama agar misi mulia ini segera menjadi nyata!
