Konten dari Pengguna

AS-Israel vs Iran: Setelah Islamabad Buntu, Kewarasan Publik Diuji

Khairul Fahmi

Khairul Fahmi

Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), pengamat isu pertahanan, keamanan, dan geopolitik.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khairul Fahmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang pejabat Pakistan berdiri saat menyambut kedatangan JD Vance untuk pembicaraan perdamaian AS-Iran, Sabtu (11/4/2026). Foto: Jacquelyn Martin/POOL/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pejabat Pakistan berdiri saat menyambut kedatangan JD Vance untuk pembicaraan perdamaian AS-Iran, Sabtu (11/4/2026). Foto: Jacquelyn Martin/POOL/AFP

Kebuntuan perundingan Amerika Serikat dan Iran di Islamabad seharusnya mengakhiri satu ilusi penting: bahwa jeda dua minggu otomatis akan membuka jalan cepat menuju de-eskalasi. Setelah sekitar 21 jam pembicaraan, kedua delegasi meninggalkan Pakistan tanpa kesepakatan, sementara Iran menegaskan diplomasi belum berakhir dan komunikasi dengan Pakistan serta mitra kawasan akan tetap berlanjut. Artinya, dunia belum masuk ke fase damai, tetapi juga belum sepenuhnya keluar dari jalur diplomatik.

Justru karena itulah situasi ini menjadi berbahaya. Ketika perang belum benar-benar meledak tetapi ketegangan tak kunjung reda, ruang abu-abu dipenuhi spekulasi, kecemasan, dan tafsir yang liar. Dalam keadaan seperti itu, ancaman paling cepat sering kali bukan datang dari rudal, melainkan dari runtuhnya kejernihan publik dalam membaca krisis.

Perundingan yang buntu memang menyangkut isu-isu keras: nuklir Iran, tuntutan Washington, keamanan kawasan, dan masa depan jalur energi strategis. Tetapi bagi masyarakat luas, kompleksitas itu biasanya diterjemahkan menjadi kalimat-kalimat yang jauh lebih sederhana dan menakutkan: perang akan pecah, harga-harga akan melonjak, ekonomi akan runtuh. Di situlah kecemasan geopolitik berubah menjadi kegelisahan sosial yang sangat mudah menular.

Dari Kebuntuan Diplomasi ke Kepanikan Digital

Di era media sosial, ketegangan internasional tidak lagi bergerak hanya lewat kantor berita, pidato resmi, atau siaran televisi. Ia melesat ke dalam genggaman tangan kita dalam bentuk potongan video, unggahan emosional, utas provokatif, dan pesan berantai yang sering kali lebih cepat daripada verifikasi. Kebuntuan Islamabad pun dengan mudah dipelintir menjadi narasi kiamat yang seolah-olah sudah pasti akan terjadi besok pagi.

Naluri manusia memang mendorong kita mencari informasi saat krisis terjadi. Namun algoritma digital bekerja dengan logika yang berbeda: ia memberi panggung lebih besar kepada konten yang mengguncang emosi, bukan yang paling akurat atau paling menenangkan. Akibatnya, publik tidak sekadar mengikuti perkembangan, melainkan terjebak dalam doomscrolling, menyerap kecemasan berulang-ulang, lalu memantulkannya lagi ke lingkungan sosial masing-masing.

Dalam kondisi seperti ini, fakta resmi hampir selalu kalah lincah dibanding rumor yang sensasional. Pernyataan bahwa diplomasi masih berlanjut akan terdengar kalah dramatis dibanding prediksi amatir tentang perang regional, penutupan total Selat Hormuz, atau kehancuran ekonomi global. Padahal justru di tengah ketidakpastian seperti sekarang, perbedaan antara fakta, analisis, dan spekulasi harus dijaga dengan disiplin yang jauh lebih ketat.

Masalahnya, ruang digital tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk suasana batin publik. Ketika orang terus-menerus mengonsumsi narasi ancaman, akal sehat perlahan digeser oleh dorongan bertahan hidup yang berlebihan. Dari sanalah lahir kepanikan yang kadang terasa lebih nyata daripada ancaman objektif yang sedang dihadapi.

Ketika Ketakutan Menjadi Gangguan Ekonomi

Kepanikan digital tidak berhenti sebagai persoalan psikologis. Dalam masyarakat yang sangat terhubung, rasa takut yang masif mudah berubah menjadi tindakan ekonomi yang sama-sama masif, meski sering kali tidak rasional. Orang membeli lebih banyak dari yang diperlukan, memindahkan aset karena panik, atau menahan pengeluaran produktif karena merasa bencana sudah di ambang pintu.

Bagi Indonesia, ini penting dicermati karena dampak konflik Timur Tengah memang bisa menjalar lewat harga energi, ongkos logistik, kurs, dan inflasi impor. Tetapi ancaman eksternal itu bisa menjadi jauh lebih berat bila di dalam negeri muncul respons berlebihan yang mempercepat keresahan pasar dan mengganggu perilaku konsumsi masyarakat. Dengan kata lain, gejolak dari luar dapat diperparah oleh kepanikan dari dalam.

Kita pernah berulang kali melihat bagaimana rasa takut memproduksi kelangkaan semu. Barang yang sesungguhnya belum langka tiba-tiba terasa langka karena orang berebut lebih dulu, bukan karena kebutuhan riil, melainkan karena takut orang lain akan melakukannya. Dalam logika seperti itu, rumor bisa menjadi pemicu, kepanikan menjadi mesin, dan masyarakat sendiri tanpa sadar ikut memperbesar tekanan yang semula hanya bersifat potensial.

Itulah mengapa kewarasan publik dalam situasi seperti sekarang sesungguhnya merupakan bagian dari ketahanan nasional. Negara boleh menyiapkan bantalan fiskal, stabilisasi pasar, dan langkah mitigasi, tetapi semua itu akan bekerja lebih berat bila ruang publik sudah terlanjur dipenuhi histeria. Ketika warga kehilangan kemampuan membedakan informasi yang perlu diwaspadai dan informasi yang sengaja dirancang untuk memancing panik, maka krisis global mendapatkan sekutu paling efektifnya: ketakutan yang tak terkelola.

Menjaga Nalar di Tengah Krisis

Karena itu, respons yang dibutuhkan sekarang bukan sikap masa bodoh, melainkan kedisiplinan mental. Publik tetap perlu mengikuti perkembangan, tetapi dengan ritme yang sehat, sumber yang jelas, dan kesadaran bahwa tidak setiap kabar dramatis layak dipercaya atau dibagikan. Di tengah suasana yang mudah memanas, menahan jempol sering kali sama pentingnya dengan menguatkan argumen.

Kita tentu tidak bisa mengendalikan ego para pemimpin dunia, manuver militer kawasan, atau hasil negosiasi antarnegara. Tetapi kita masih bisa mengendalikan cara meresponsnya. Di situlah letak ujian paling nyata setelah Islamabad buntu: bukan hanya apakah diplomasi akan berlanjut, melainkan apakah publik mampu menjaga nalar ketika dunia bergerak makin dekat ke tepi jurang.

Pada akhirnya, kebuntuan Islamabad belum menutup diplomasi, tetapi jelas memperlihatkan betapa rapuhnya jeda yang semula diharapkan menjadi jalan keluar. Dalam situasi yang menggantung seperti ini, kepanikan massal justru bisa menjadi ancaman yang datang lebih cepat daripada ledakan militer itu sendiri. Maka sebelum harga energi melonjak lebih jauh atau konfrontasi kawasan benar-benar membesar, hal pertama yang harus dijaga adalah kewarasan publik.