Board of Peace: Belajar dari Sarajevo, Jangan Gagal di Gaza

Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), pengamat isu pertahanan, keamanan, dan geopolitik.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Khairul Fahmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk diuji kembali.
Di sebuah gazebo kecil tak jauh dari Kementerian Pertahanan Bosnia dan Herzegovina, saya membaca kembali Life Against Death karya Kadir Habibovich. Kota Sarajevo malam itu tampak tenang. Trem melintas, kafe-kafe hidup, dan gedung-gedung berdiri rapi.
Namun, sulit membayangkan bahwa kota yang sama pernah dikepung selama hampir empat tahun. Tanpa listrik, tanpa air, dengan sniper yang mengintai dari bukit.
Habibovich tidak sekadar menulis tentang perang. Ia menulis tentang kegagalan moral dunia. Tentang bagaimana komunitas internasional "hadir" di Bosnia, tetapi tidak cukup hadir. Tentang zona aman yang ternyata semu. Tentang dunia yang tahu, namun menunggu terlalu lama untuk bertindak.
Hari ini, Sarajevo adalah sebuah monumen peringatan tentang bahaya keterlambatan. Dan peringatan itu kini bergaung keras ke arah Gaza.
Pantulan Sejarah di Dinding Kota
Menyusuri Kanton Sarajevo, solidaritas terhadap Palestina bukan sekadar slogan politik. Ia lahir dari trauma yang sama.
Di dinding-dinding kota, tergambar bendera Palestina. Di jembatan menuju Balai Kota, terbentang spanduk panjang tentang genosida yang “masih berlangsung”. Bosnia melihat Gaza bukan sebagai isu nun jauh di sana. Mereka melihat pantulan sejarahnya sendiri: pengepungan, isolasi, dan dunia yang terbelah.
Pada 1990-an, dunia tidak kekurangan informasi tentang Bosnia. Yang kurang adalah keberanian politik. Pasukan penjaga perdamaian ada, tetapi mandatnya terbatas. Resolusi PBB ada, tetapi eksekusinya lambat. Srebrenica menjadi simbol pahit bahwa niat baik tanpa daya paksa (power) hanya akan berakhir menjadi tragedi.
Setelah Perjanjian Dayton 1995, perang memang berhenti. Uni Eropa masuk, stabilitas ditegakkan lewat pengawasan politik dan militer. Bosnia selamat dan dibangun kembali. Namun, stabilitas itu datang dengan harga mahal: politik yang tetap terbelah, ketergantungan internasional yang akut, dan rekonsiliasi yang berjalan tertatih.
Jangan Seperti Bosnia
Dari Bosnia, dunia harus belajar dua hal sekaligus. Pertama, terlambat bertindak adalah dosa yang mematikan. Kedua, membangun stabilitas tanpa fondasi politik yang kokoh hanya menyisakan kerentanan jangka panjang.
Gaza kini berada di persimpangan serupa. Wacana tentang mekanisme perdamaian, stabilisasi, dan rekonstruksi mulai berdengung. Upaya kolektif seperti Board of Peace muncul untuk memastikan kekosongan pasca-konflik tidak melahirkan kekacauan baru.
Namun, pertanyaannya bukan sekadar apakah forum itu ada. Pertanyaannya adalah: apakah ia memiliki mandat, keberanian, dan konsistensi untuk benar-benar melindungi kehidupan?
Refleksi dari Sarajevo memberi peringatan keras: perdamaian bukan sekadar absennya suara peluru. Perdamaian adalah hadirnya perlindungan nyata dan jalan politik yang adil.
Gaza tidak boleh menjadi "Bosnia Kedua" dalam arti menjadi korban keterlambatan dunia, ataupun menjadi proyek stabilisasi yang kehilangan horizon politiknya.
Peran Strategis Indonesia
Di titik inilah, keterlibatan Indonesia menjadi krusial. Bergabung dalam inisiatif perdamaian bukan sekadar gestur diplomatik, melainkan pilihan etis untuk tidak berdiri di pinggir sejarah.
Indonesia membawa perspektif Global South (Selatan Global), komitmen solusi dua negara, dan konsistensi dukungan terhadap Palestina dalam kerangka hukum internasional.
Kehadiran ini penting agar mekanisme perdamaian tidak dimonopoli satu narasi atau satu kepentingan blok tertentu. Agar "stabilisasi" tidak menjadi eufemisme untuk pembiaran penjajahan, dan agar rekonstruksi tidak meminggirkan martabat rakyat Gaza.
Di depan Balai Kota Sarajevo, gedung bergaya Moor yang pernah dibakar pada 1992 beserta ribuan manuskrip di dalamnya, saya merenung cukup lama. Penghancuran itu adalah percobaan menghapus identitas. Namun, kota ini memilih membangun kembali. Ia tidak membiarkan api menjadi akhir cerita.
Habibovich menyebut perjuangan itu sebagai life against death—hidup melawan kematian. Dalam konteks Gaza, itu berarti memastikan dunia tidak kembali terjebak dalam keraguan.
Jika dunia benar-benar belajar dari sejarah, maka setiap langkah perdamaian harus dilandasi keberanian nyata: mandat jelas, komitmen tegas, dan perlindungan yang tidak setengah hati.
Kita tidak boleh sekadar menyaksikan atau berdebat istilah. Kita harus memastikan bahwa kehidupanlah yang dimenangkan. Sejarah sudah memberi peringatan keras melalui Sarajevo. Dunia tidak punya alasan untuk terlambat dan gagal.
