Narendra Modi ke Indonesia dan Otonomi Strategis Prabowo

Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), pengamat isu pertahanan, keamanan, dan geopolitik.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Khairul Fahmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026 tidak seharusnya dibaca sebagai agenda diplomatik biasa. Ia bukan sekadar kunjungan balasan atas lawatan Presiden Prabowo Subianto ke India, bukan pula seremoni hubungan dua negara besar yang memiliki akar sejarah panjang. Lebih dari itu, kunjungan ini menjadi momentum untuk menguji seberapa jauh kedekatan personal dua pemimpin dapat diterjemahkan menjadi kemitraan strategis yang konkret dan berdampak bagi kepentingan nasional.
Hubungan Prabowo dan Modi sejak awal tampak hangat. Saat berkunjung ke India, Presiden Prabowo menyebut Modi sebagai “my good brother”. Ungkapan itu bukan sekadar basa-basi diplomatik, tetapi mencerminkan gaya kepemimpinan Prabowo yang menempatkan relasi personal sebagai pintu masuk untuk memperkuat kerja sama antarnegara.
Namun dalam diplomasi, keakraban hanya bernilai apabila mampu menghasilkan agenda nyata. Persahabatan antarpemimpin perlu turun menjadi kerja sama ekonomi, teknologi, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, energi, pertahanan, dan konektivitas masyarakat. Di sinilah kunjungan Modi ke Jakarta dan Yogyakarta menemukan makna strategisnya.
Dari Peradaban ke Agenda Konkret
Sebelum Modi tiba di Indonesia, relasi kedua negara telah lebih dulu memperoleh momentum simbolik melalui pidato Presiden Prabowo di Sidang Majelis Umum PBB ke-80. Sebagaimana dicatat Dirgayuza dalam artikel “Pidato Prabowo Viral di India, Diplomasi Peradaban Sambut Kunjungan PM Modi” yang dipublikasikan InvestorTrust, salam lintas agama dan tradisi yang disampaikan Presiden, termasuk “Om Swastyastu” dan “Om Shanti Shanti Shanti Om”, dapat dibaca sebagai bentuk diplomasi peradaban.
Gestur itu penting karena diplomasi tidak selalu dimulai dari nota kesepahaman, kontrak investasi, atau kerja sama pertahanan. Ada kalanya diplomasi dibangun oleh penghormatan, ingatan sejarah, dan pengakuan terhadap kedekatan peradaban. Bagi India, pesan itu memperlihatkan wajah Indonesia sebagai bangsa religius, majemuk, dan mampu merawat warisan Hindu, Buddha, Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, serta tradisi Nusantara dalam satu identitas nasional.
Dalam konteks itu, rencana kunjungan Modi ke Prambanan tidak dapat dibaca sebagai agenda budaya biasa. Prambanan adalah simbol bahwa hubungan Indonesia dan India memiliki akar yang jauh lebih tua daripada negara modern. Ia mengingatkan bahwa hubungan kedua bangsa telah hidup dalam bahasa, seni, sastra, arsitektur, agama, filsafat, perdagangan, dan jalur maritim yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Nusantara.
Namun romantisme sejarah saja tidak cukup. Tantangan hari ini bukan sekadar merawat memori peradaban, melainkan mengubah kedekatan itu menjadi kerja sama konkret di bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, kesehatan, energi, pangan, kebudayaan, pertahanan, dan stabilitas kawasan.
Pertahanan, Maritim, dan Jalan Tengah
Dimensi penting lainnya adalah pertahanan dan keamanan maritim. India adalah kekuatan besar di Samudra Hindia, sedangkan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar yang berada di simpul strategis Indo-Pasifik. Keduanya memiliki kepentingan yang beririsan dalam menjaga stabilitas kawasan, keamanan jalur laut, ketahanan rantai pasok, dan keseimbangan kekuatan.
Dalam beberapa waktu terakhir, isu kerja sama pertahanan Indonesia-India ikut menjadi perhatian, termasuk kemungkinan pembahasan BrahMos dan potensi kerja sama kapal selam. Isu seperti ini tentu menarik secara geopolitik. Namun ia perlu dibaca secara hati-hati dan proporsional.
Bagi Indonesia, kerja sama pertahanan dengan India tidak boleh dipahami sebagai langkah memihak blok tertentu atau menjauh dari mitra lain. Indonesia tidak sedang mencari patron baru. Indonesia sedang memperluas ruang gerak strategisnya.
Di bawah Presiden Prabowo, arah itu menjadi penting. Indonesia perlu memperkuat daya tangkal, memodernisasi alutsista, membangun industri pertahanan, memperluas transfer teknologi, serta memastikan kemandirian dalam pemeliharaan, perawatan, suku cadang, amunisi, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan kata lain, kerja sama pertahanan tidak boleh dipersempit menjadi transaksi pembelian, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan ekosistem pertahanan nasional.
India juga memberi pelajaran tentang realpolitik. Di bawah Modi, India percaya diri mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri. India dapat dekat dengan Barat, bekerja sama dengan Israel, menjaga hubungan dengan Rusia, aktif dalam BRICS, terlibat dalam Quad, tetapi tetap mempertahankan kalkulasi strategisnya sendiri.
Indonesia tentu tidak harus menempuh jalan yang sama persis. Politik luar negeri Indonesia memiliki mandat konstitusional, tradisi bebas aktif, dan komitmen kuat pada kemanusiaan, termasuk dalam isu Palestina. Namun dari India, Indonesia dapat membaca satu pelajaran penting: dalam dunia yang semakin multipolar, negara besar tidak boleh menggantungkan nasib strategisnya pada satu poros.
Membangun Jalan Sendiri
Itulah makna otonomi strategis. Indonesia berteman dengan semua, tetapi tidak tunduk kepada siapa pun. Indonesia membuka kerja sama dengan India, tetapi tetap menjaga hubungan dengan ASEAN, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Eropa, Australia, Timur Tengah, dan kekuatan lainnya.
Pada akhirnya, kunjungan Modi akan bernilai jika mampu mengubah kedekatan menjadi agenda kerja. Simbol peradaban harus melahirkan kolaborasi masa depan. Diplomasi personal harus menghasilkan manfaat nasional. Kemitraan strategis harus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara besar yang mandiri, percaya diri, dan aktif membentuk keseimbangan kawasan.
Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan tidak pasti, Indonesia membutuhkan lebih banyak sahabat, lebih banyak pilihan, dan lebih banyak ruang manuver. India adalah salah satu mitra penting dalam peta itu. Tetapi yang paling utama, kunjungan Modi harus mempertegas satu hal: Indonesia di bawah Presiden Prabowo tidak sedang mengikuti arah siapa pun, melainkan sedang membangun jalannya sendiri.
