Konten dari Pengguna

Aku Pernah Takut Punya Adik, tapi Sekarang Dia Rumah Paling Hangat

khairunnisa

khairunnisa

Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Waktu adikku lahir, jujur aku tidak langsung bahagia. Ada rasa takut yang sulit dijelaskan. Aku takut perhatian ibu yang sebelumnya hanya untukku perlahan berubah. Aku takut tidak lagi menjadi tempat paling utama untuk ibu. Bahkan, aku sempat merasa cemburu kepada seseorang yang bahkan belum mengerti apa-apa.

Aku Pernah Takut Punya Adik, tapi Sekarang Dia Rumah Paling Hangat
zoom-in-whitePerbesar

Menurutku, perasaan seperti itu sangat manusiawi. Tidak semua orang langsung siap berbagi kasih sayang, apalagi dengan kehadiran anggota keluarga baru. Awalnya aku menganggap kehadiran adikku akan membuat hidupku terasa asing dan berbeda.

Namun ternyata, aku salah.

Semakin dia tumbuh, semakin aku sadar bahwa kasih sayang tidak pernah benar-benar berkurang hanya karena dibagi. Kehadirannya justru membuat rumah terasa lebih hidup. Tawanya mengisi suasana yang sebelumnya terasa sepi. Hal-hal kecil seperti dipanggil “kakak” atau melihat dia tertawa bisa mengubah hariku menjadi jauh lebih baik.

Kasih sayang ibu tidak pernah benar-benar berkurang. Justru dengan hadirnya adikku, aku belajar bahwa hati manusia bisa punya ruang yang jauh lebih besar untuk mencintai. Kehadirannya perlahan mengubah cara pandangku tentang keluarga.

Sekarang aku merasa hidupku jauh lebih hangat karena ada dia. Aku jadi punya alasan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Aku ingin tumbuh menjadi kakak yang bisa diandalkan, bisa melindungi, dan bisa membuat dia bangga suatu hari nanti.

Menurutku, kadang seseorang hadir bukan untuk mengambil kebahagiaan kita, melainkan untuk mengisi bagian hidup yang sebelumnya terasa kosong. Dan buatku, adikku adalah salah satu alasan kenapa rumah terasa lebih hidup dan kenapa aku tidak lagi merasa sendiri.