Mengulik Makna Kata Semongko yang Viral di Media Sosial

Wanita kelaahiran serang 14 meni 2000 yang berstatus sebagai seorang mahasiswa di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Khairunnisa Nisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah dengar kata semongko di media sosial? Tentu orang jawa akan familiar dengan kata ini. Namun, sebelum mengkaji arti dari kata tersebut, mari baca kondisi terlebih dahulu. Bahasa yang berkembang dan menjadi viral ternyata dipengaruhi oleh lingkungan, dalam hal ini yaitu media sosial. Seperti halnya di bahas dalam penelitian Retna Rahayu Widawati dengan judul Pengaruh Media Sosial Terhadap Kebiasaan Berbahasa, Retna menyebutkan bahwa penggunaan media sosial memberi andil yang cukup besar dalam perkembangan bahasa indonesia. Khususnya di kalangan remaja yang senang menggunakan bahasa yang bermakna ganda seperti metafor, sindiran, dan bermain kata dalam mengungkapkan pikiran.
Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai jargon yang viral sebagai pengaruh dari media sosial. Jargon "Tarik sis.. semongko" banyak digunakan dan berseliweran di Instagram, facebook, dan WhatsApp. Penting sekali bagi pengguna bahasa untuk mengetahui arti dari bahasa yang digunakan. Saya melakukan penelitian dengan menggunakan angket online, seluruh responden menjawab sering melihat status dan video yang menggunakan istilah ‘Tark sis, semongko" di media sosial, kemudian hampir seluruh responden menggunakan jargon tersebut di media sosial, selanjutnya reponden diberi petanyaan apakah arti jargon "Tarik sis semongko". Dari lima puluh responden yang terdiri dari siswa dan mahasiswa, yang mengetahui arti dari jargon tersebut hanya beberapa sisanya menebak dan ada yang jawab tidak tahu.
Asal-usul Jargon "Tarik Sis Semongko"
Jargon tersebut pertama kali muncul di Banyuwangi, saat itu sedang digelar acara musik 2nd Anniversary Pemuda Damlimo Community. Terdapat oreks dangdut yang membawakan lagu berjudul Bunga, lagu tersebut dinyanyikan oleh Anggun Pramudita dengan nuansa koplo. Lalu MC kondang Banyuwangi Ridho Woyo-woyo mengeluarkan jargon “Tarik Sis Semongko”. Jargon tersebut kemudian viral di youtube dan video Tiktok.
Untuk mengkaji arti pada topik di atas mari bahas bagaimana ilmu bahasa mengkajinya. Bidang linguistik yang mengkaji arti bahasa adalah semantik. Cakupan semantik hanya pada pembahasan arti sebagai komunikasi verbal. Lalu bagaimana batasan pembahasan semantik?.. dalam (Subuki, 2011: 5) Strenzy mengemukakan batasan arti dalam semantik, yakni terkait dengan persoalan arti kalimat dan bagaimana arti tersebut dibentuk oleh arti setiap komponen yang turut membentuknya (klausa, kata, dan morfem).
Kajian Semantik Leksikal dan Gramatikal
Cruse mendefinisikan semantik leksikal sebagai disiplin dalam semantik yang mengkaji keterkaitan arti dari kata-kata (Subuki, 2011: 11). Sedangkan dalam (Dewi, 2009: 3) menyebutkan makna leksikal sebagai makna yang terdapat pada kata dasarnya tanpa bergabung dengan bentuk lain. Jadi, berdasarkan pengertian di atas semantik leksikal mengkaji arti atau makna sebenarnya pada kata atau leksem. Untuk lebih jelas perhatikan contoh berikut
1. Tikus itu menghabiskan makanan di dapur.
2. Tikus kantor yang menghabiskan uang rakyatt.
Pada kalimat pertama, arti leksem tikus merupakan arti sebenarnya, yaitu hewan berkaki empat yang memakan segala, biasanya berwarna hitam atau kelabu, tetapi ada juga yang berwarna putih. Sedangkan pada kalimat kedua bukan makna leksikal karena tikus yang dimaksud adalah seorang koruptor. Dalam bahasa indonesia makna leksikal tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Leksem tersebut terdiri dari beberapa kategori kata diantaranya kata kerja, kata sifat, kata benda, kata keterangan.
Kajian gramatikal adalah kebalikan dari makna leksikal. Makna leksikal berdirI sendiri atas satu leksem, sedang makna gramatikal muncul sebagai akibat penggabungan bentuk yang satu dengan bentuk yang lain. Penggabungan bentuk yang dapat membuat makna gramatikal dapat berupa proses afiksasi, reduplikasi, pemajemukan, atau penggabungan kata-kata dalam kalimat (Darmawati, 2019: 10 ). Sebagai contohnya kata dijual yang bermakna diberikan sesuatu kepada orang lain untuk memperoleh uang. Disebut makna kata dijual disebut makna kata gramatikal karena makna kata dijual muncul setelah bergabung dengan awalan di-. Contoh lain pada kata kupu-kupu dari kategori kata nomina yang bermakna serangga bersayap lebar, umumnya berwarna cerah, mencari makan dengan cara mengisap madu. Disebut makna gramatikal karena muncul setelah terjadi proses reduplikasi atau pengulangan.
Analisis Kata Semongko, Kajian Semantik Leksikal
Seperti yang kita ketahui bahwa Tarik sis bisa digunakan sebagai permulaan untuk memulai pertunjukan dangdut. Biasanya digunakan untuk menyemangati penyanyi atau membuat suasana menjadi lebih asyik. Untuk mengkaji arti Semongko disini akan dikaji bagaimana leksem tersebut terbentuk.
Jika dikaji berdasarkan unsur pembentukan leksem melalui ‘akar’. Seperti yang dikemukakan Bauer dan Haspelmath bahwa leksem adalah kosakata asal yang dapat diasosiasikan dalam teks, maka sumber leksem yang utama adalah akar dari setiap kata penuh dalam bahasa (Subuki, 2011: 64).
Video viral yang menggunakan jargon tersebut berasal dari Jawa Timur, leksem Semongko berdasarkan akarnya dalam bahasa jawa memiliki arti semangka. Namun, arti yang dimaksud pada jargon Tarik sis, semongko ternyata juga memiliki kemungkinan lain, berdasarkan asal-usul jargon Tarik Sis Semongko Versi Netizen dilansir dari berbagai media ada yang berpendapat jika kata semongko adalah sebuah kepanjangan. Bagaimana kepanjangan tersebut dikaji dalam analisis semantik akan dibahas di bawah ini
Jika penulis amati leksem semongko yang viral muncul setelah terjadinya proses peleburan. Peleburan dijelaskan dalam (Subuki, 2011: 67) yaitu penyingkatan terhadap beberapa kata terkadang tidak dilakukan dengan mengambil huruf awal dari kata-kata yang disingkat, melainkan dengan mengambil penggalan kata-kata tersebut. Penyingkatan yang terjadi menghasilkan leburan, yaitu peleburan dua kata atau lebih. Sebagai contoh dalam bahasa indonesia yaitu puskesmas merupakan peleburan dari pusat kesehatan masyarakat, kemudian kepsek merupakan leburan dari kepala sekolah. Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, hal ini dibahas dalam pembentukan yang disebut akronim. Dijelaskan bahwa kategori ini termasuk pada akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil. Leksem Semongko terbentuk setelah terjadinya leburan, yakni penyingkatan dari semangato sampe bengko atau dalam bahasa indonesianya semangatlah sampai mati.
Netizen menggunakan jargon tersebut dalam berbahasa baik di dunia maya atau dunia nyata. Berdasarkan angket yang penulis buat banyak responden yang menggunakan jargon tersebut untuk sekedar menyemangati teman atau dijadikan caption dalam status. Selain itu, ada seorang netizen yang membuat konten dalam video tiktoknya mewawancarai beberapa anak dengan sambung pribahasa, anak-anak yang diwawancarai kesulitan menyambung pribahasa. Namun, yang membuat video itu viral adalah ketika anak diminta sambung jargon ‘Tarik sis’ mereka sontak menjawab ‘semongko’.
Referensi:
Darmawati, Uti. 2019. Semantik Menguak Makna. Jakarta: Pakar Raya.
Dewi, Wendi Widya Ratna. 2012. Semantik Bahasa Indonesia. Klaten: Intan Pariwara.
Subuki, Makyun. 2011. Semantik: Pengantar Memahami Makna Bahasa. Jakarta: Trans Pustaka.
Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Widawati Retna Rahayu. Prosiding SAGA. Pengaruh Media Sosial Terhadap Kebiasaan Berbahasa, http://seminar.uad.ac.id/index.php/saga/article/download/1093/383.
https://m.liputan6.com/hot/read/4388371/viral-di-medsos-ini-asal-usul-jargon-tarik-sis-semongko-versi-netizen
