Konten dari Pengguna

Dukungan Barat terhadap Palestina: Antara Citra Moral dan Kalkulasi Kekuasaan

Muhammad Khairur Rasyid

Muhammad Khairur Rasyid

S1 dan S2 Hubungan Internasional UIN jakarta kajian Komunikasi Internasional, Konflik Internasional. Bekerja sebagai Citizen Journalisme di Universitas Esa Unggul dan Universitas Prasetiya Mulya. Ketua Forum Lingkar Pena Jakarta 2021/2022.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Khairur Rasyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
sumber: unsplash

Dalam beberapa bulan terakhir, dukungan negara Barat terhadap Palestina menjadi sorotan dunia. Langkah Spanyol, Irlandia, dan Norwegia mengakui Palestina dianggap berani, namun juga memicu perdebatan: apakah ini murni demi kemanusiaan, atau ada kepentingan geopolitik yang tersembunyi?

Dalam kacamata realisme klasik ala Hans Morgenthau, setiap kebijakan luar negeri digerakkan oleh kepentingan nasional yang didefinisikan dalam kerangka kekuasaan. Dukungan negara Barat terhadap Palestina bisa dibaca sebagai strategi untuk memperluas pengaruh di Timur Tengah, bukan sekadar solidaritas moral.

Morgenthau berpendapat bahwa sifat manusia cenderung mencari dominasi, dan hal itu tercermin dalam politik internasional. Mengakui Palestina memberi negara-negara Eropa posisi tawar lebih kuat terhadap Amerika Serikat dan Israel, sambil memoles citra mereka di mata dunia Arab.

Dari perspektif liberalisme, langkah ini terlihat sebagai upaya mendukung norma internasional seperti hak asasi manusia, self-determination, dan penghormatan hukum internasional. Namun, idealisme ini sering kali terjebak dalam tarik-menarik kepentingan ekonomi dan keamanan.

Konstruktivisme memberi sudut pandang berbeda: dukungan negara Barat terhadap Palestina dipengaruhi oleh perubahan identitas dan opini publik. Gambar-gambar penderitaan warga Gaza di media sosial membentuk narasi bahwa negara yang diam dianggap mendukung ketidakadilan.

Tekanan politik domestik di negara-negara Eropa semakin besar. Komunitas Muslim, partai kiri, dan LSM HAM menjadi kekuatan politik yang menuntut pemerintah mereka bersikap. Dalam teori Foreign Policy Analysis, tekanan domestik ini sering memaksa perubahan kebijakan luar negeri.

Di sisi lain, pengakuan ini juga merupakan bentuk diplomasi citra atau image diplomacy. Negara-negara Barat ingin memulihkan reputasi mereka yang selama ini dianggap bias terhadap Israel, terutama setelah kritik keras dari dunia Muslim dan Global South.

Namun, dari sudut pandang Offensive Realism, langkah ini bisa saja bertujuan menekan Israel agar tidak sepenuhnya mengandalkan dukungan Amerika Serikat. Eropa ingin menjaga relevansi strategisnya di Timur Tengah.

Bagi Palestina, dukungan ini memberikan legitimasi diplomatik dan membuka peluang untuk memperkuat posisi di PBB serta Mahkamah Pidana Internasional. Tetapi, tanpa langkah lanjutan, dukungan ini hanya akan menjadi berita besar tanpa hasil nyata.

Israel tentu tidak tinggal diam. Dalam kerangka Defensive Realisme, Israel akan mempertahankan status quo dan memanfaatkan lobi politiknya untuk melawan pengaruh negara-negara yang mengakui Palestina.

Amerika Serikat, sebagai sekutu utama Israel, melihat perkembangan ini sebagai potensi gesekan dalam hubungan transatlantik. Perbedaan sikap terhadap Palestina menjadi ujian bagi kesolidan kerja sama Eropa-AS.

Risiko terbesar dari gelombang pengakuan ini adalah sifatnya yang simbolis. Tanpa tekanan ekonomi, embargo senjata, atau mediasi aktif, dukungan negara Barat terhadap Palestina berisiko menjadi slogan diplomatik belaka.

Realpolitik mengajarkan bahwa dukungan ini juga bisa digunakan sebagai alat tawar-menawar dalam isu lain seperti perdagangan energi, kerja sama keamanan, atau aliansi militer. Palestina bisa saja dijadikan pion dalam permainan kekuatan besar.

Meski demikian, teori kritis melihat momen ini sebagai peluang untuk mengubah narasi global. Semakin banyak negara yang mengakui Palestina, semakin sulit bagi narasi pro-Israel mendominasi wacana internasional.

Pada akhirnya, dukungan negara Barat terhadap Palestina adalah kombinasi rumit antara idealisme dan pragmatisme. Ia mencerminkan wajah ganda politik internasional: satu sisi menampilkan kepedulian moral, sisi lain tetap berorientasi pada perhitungan kekuasaan.