Konten dari Pengguna

Belenggu: Emansipasi Perempuan dan Keberanian Melawan Belenggu Sosial

Khalisa Kadhia M

Khalisa Kadhia M

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khalisa Kadhia M tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Belenggu (Dokumen milik pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Novel Belenggu (Dokumen milik pribadi)

Dalam novel Belenggu karya Armijn Pane, hal ini terlihat jelas lewat tokoh Tini. Ia adalah perempuan berpendidikan yang tidak mau hanya menjadi istri pasif di rumah, tetapi ingin haknya diakui dan bisa menentukan jalannya sendiri. Terlihat dalam kutipan:

“Apa katanya tadi? Tentang perempuan sekarang? Perempuan sekarang hendak sama haknya dengan kaum laki‑laki. Apa yang hendak disamakan. Hak perempuan ialah mengurus anak suaminya, mengurus rumah tangga. Perempuan sekarang cuma meminta hak saja pandai ” .

Selain itu, Tini juga menekankan pentingnya keberanian untuk memimpin hidup sendiri:

“Sebenarnya patut kita buat kaca bagi kita, jangan berputus asa, biar berani memimpin nasib sendiri” .

Kedua kutipan ini memperlihatkan inti dari emansipasi: kebebasan berpikir, bertindak, dan menentukan pilihan hidup.

Relevansi emansipasi perempuan juga terlihat dari kasus dugaan pelecehan seksual berbasis digital yang melibatkan sejumlah mahasiswa FH UI. Kasus ini ramai dibahas karena memperlihatkan bahwa perempuan masih menghadapi bentuk “belenggu” modern, yaitu objektifikasi, pelecehan, dan ketidakamanan bahkan di lingkungan pendidikan tinggi. Dalam kasus tersebut, sejumlah korban disebut terdiri atas mahasiswi dan dosen perempuan, sehingga isu ini menjadi sorotan tentang pentingnya perlindungan, keberanian bersuara, serta penghormatan terhadap martabat perempuan. Hal ini sejalan dengan tokoh Tini dalam Belenggu, yang menunjukkan bahwa perempuan tidak seharusnya dipandang sebagai objek, melainkan sebagai manusia yang berhak dihargai, menentukan sikap, dan memimpin nasibnya sendiri.