Konten dari Pengguna

Perubahan Makna Bahasa dalam Semantik : Kata “Kocak” Tak Lagi Sekadar Lucu

Khalisa Kadhia M

Khalisa Kadhia M

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khalisa Kadhia M tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kajian Semantik tentang perubahan Makna Kata

(Sumber : AI) Perubahan Makna "Kocak"
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber : AI) Perubahan Makna "Kocak"

Perubahan makna dalam kehidupan sehari-hari terlihat dari cara anaik muda berkomunikasi dalam menggunakan kata-kata tertentu. sekarang, makna pada suatu kata, tidak selalu punya makna yang sama dengan arti awalnya. contohnya seperti "Lah, kocak lu"

Kalimat ini sering muncul di tongkrongan, chat, atau kolom komentar media sosial. Sekilas, kata kocak terdengar seperti sesuatu yang lucu. Tapi kalau dilihat dari cara anak muda memakainya sekarang, kocak nggak selalu berarti lucu dalam arti sebenarnya.

Kadang, kocak justru dipakai buat menyindir sesuatu yang dianggap aneh, absurd, atau nggak masuk akal. Misalnya, ketika ada teman yang tiba-tiba membatalkan janji padahal sudah ditunggu lama, respons yang muncul bisa saja, “Kocak banget lu.” Dalam konteks ini, maksudnya bukan memuji karena lucu, tapi lebih ke heran, kesal, atau menyindir.

Fenomena ini bisa dijelaskan lewat semantik, yaitu cabang linguistik yang membahas makna dalam bahasa. Dalam semantik, makna kata tidak selalu tetap. Makna bisa berubah tergantung konteks, kebiasaan pemakai bahasa, dan situasi sosial.

Awalnya, kata kocak lebih sering dipahami sebagai sesuatu yang lucu atau bikin ketawa. Contohnya, “Video itu kocak banget.” Namun, dalam percakapan sehari-hari anak muda, maknanya bisa bergeser. Kata kocak bisa berarti lucu, tapi bisa juga berarti aneh, menyebalkan, absurd, atau tidak masuk akal.

Perubahan makna ini menunjukkan bahwa bahasa itu hidup. Anak muda sering menciptakan cara baru dalam memakai kata-kata lama. Media sosial juga membuat perubahan itu menyebar lebih cepat, karena satu kata bisa viral dan dipakai banyak orang dalam berbagai situasi.