Konten dari Pengguna

Student Hidjo dan Dilema Identitas di Negeri Orang

Khalisa Kadhia M

Khalisa Kadhia M

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khalisa Kadhia M tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku Novel Student Hidjo (Sumber : Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Buku Novel Student Hidjo (Sumber : Dokumen Pribadi)

Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo yang menggambarkan kondisi kolonial pada masa Hindia Belanda. Novel ini diceritakan bahwa Raden Potronojo yang merupakan ayah Hidjo, mengirim anaknya ke Negeri Belanda untuk melanjutkan pendidikan sekolah ingenieur. Keputusan tersebut bukan pilihan yang mudah bagi ibunya Hidjo, namun sebagai bentuk pembuktian keluarganya mampu meninggikan derajat keluarganya di mata sosial. Hal ini terlihat dalam kutipan :

“Maksud saya mengirim Hidjo ke Negeri Belanda, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti bahwa manusia sama saja.”

Hidjo termasuk anak muda yang tidak banyak bicara dan tidak bersenang-senang seperti anak muda kebanyakan. Pada awalnya, ia sangat mencintai Raden Ajeng Biroe, tunangan yang dijodohkan orang tuanya. Namun seiring berjalannya waktu, lingkungan barat memengaruhi cara berpikir dan cara memandang Hidjo, seperti mengikuti pola hubungan budaya Eropa. Budaya Eropa jelas bertolak belakang dengan budaya pribumi. Ia menjalin hubungan dengan Betje, anak dari keluarga yang memberi tumpangan untuk Hidjo selama melanjutkan Pendidikan di Negeri Belanda.

Perubahan ini membuat Hidjo mengalami dilema. Dalam lubuk hatinya, ia sadar dengan apa yang ia perbuat. Ia merasa perlahan jauh dari nilai-nilai identitas yang sebelumnya ia pegang. Ia juga sudah tidak seperti pribumi, tetapi juga tidak benar-benar diterima sebagai bagian masyarakat Eropa. Hal ini terlihat dari kutipan :

“Kalau perbuatanku ini aku terus-terusan, tentu di belakang hari akan menyusahkan kedua orang tuaku sendiri.”

Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo menunjukkan bahwa lingkungan sangat memengaruhi cara pandang dan gaya hidup seseorang. Yang awalnya Hidjo memegang nilai-nilai pribumi perlahan berubah mengikuti budaya Eropa. Kisah ini juga relevan dengan kehidupan saat ini. Bagi orang-orang yang berada di lingkungan baru, terutama luar negeri, harus menyadari bahwa pentingnya menjaga nilai dan identitas diri.