Di Balik Pohon Jati ada Makna yang Menyentuh

Mahasiswa pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Nuraini Khalisah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Berdirilah yang Kokoh, Hanya ini yang Aku Miliki" Membaca Makna Kesetiaan dari Sebuah Kehilangan

WARISAN? Apa hal yang pertama kali kalian pikirkan ketika mendengarkan kata warisan? Warisan bisa dibilang sebagai simbol peninggalan yang penuh makna, namun dibalik itu warisan memiliki potensi yang menyebabkan konflik dan dapat merenggangkan hubungan keluarga, ini juga menjadi salah satu tema yang sering diangkat dalam cerpen di indonesia. Seperti di salah satu cerpen yang berjudul “Perempuan Tua dan Pohon Jati” yang ditulis oleh Udiarti. dimuat di https://Kompas.id
Didalam bukunya Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi(2018:12) menjelaskan bahwa novel dan cerpen sebagai karya fiksi mempunyai persamaan yaitu keduanya dibangun oleh unsur-unsur pembangun yang sama, keduanya dibangun dari dua unsur intrinsik dan ekstrinsik. Yaitu unsur intrinsiknya tema, tokoh, latar, plot, sudut pandang dan amanat
Tema: Lebih dari Sekadar Soal Pohon
Lalu apa tema cerpen ini?
Tema dari cerpen Perempuan tua dan pohon jati ini mengangkat tentang warisan dan kenangan. Yang dimaksud warisan disini bukan hanya berbentuk materi saja melainkan berbentuk kenangan dan kesetiaan yang diwariskan lewat benda yaitu sebuah pohon jati yang ditanam langsung oleh suaminya mbok yani yang sudah meninggal. Sehingga mbok yani sendiri pun tidak pernah benar-benar merasa kalo suaminya sudah pergi meninggalkannya. Sekilas, temanya tampak tentang kenangan dan warisan. Tapi jika dibaca lagi lebih dalam, tema sentral dari cerpen Perempuan Tua dan Pohon Jati adalah keteguhan perempuan tua dalam mempertahankan martabat dan kenangan di tengah tekanan ekonomi dan keluarga. Pohon jati bukan sekadar aset ia adalah identitas, ia adalah cinta yang tersisa, ia adalah cara Mbok Yani tetap merasa utuh di usianya yang sudah senja.
Hal ini tergambar jelas dari cara Mbok Yani berbicara kepada pohon jatinya seolah ia berbicara kepada suaminya yang telah tiada:
"Berdirilah yang kokoh. Hanya ini yang aku miliki." dan "Bersama Pohon Jati Ini aku Bertahan
Dari kalimat terlihat jelas bahwa semuanya bukan tentang uang atau warisan. Ia adalah kalimat tentang hidup,tentang bagaimana seseorang menemukan alasan untuk terus bangun pagi dan melangkah meski segalanya sudah terasa berat.
Nurgiyantoro membedakan tema ke dalam tema mayor dan tema minor
Tema mayor cerpen ini adalah perjuangan mempertahankan nilai dan kenangan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Sementara tema minornya mencakup: kesenjangan cara pandang antargenerasi, kemiskinan yang memaksa orang membuat pilihan sulit, serta kesetiaan perempuan pada ikatan batin yang sudah lama terjalin. inini terlihat dari dialog
”Mbok, tidak usah ngomong yang tidak-tidak.” ”Aku ingin terus merawat pohon jati peninggalan bapakmu.” ”Lha, kalau mati mengurus pohonnya bagaimana, Mbok?” ”Bangkaiku bisa jadi pupuk, Tini.”
Dari dialog tersebut terlihat jelas bahwa bagi mbok yani pohon jati bukanlah hanya sekedar aset dia adalah jejak terakhir dari suaminya yang telah tiada, tempat kenangan dan kesetiaan bersemayam, dan bagi mbok yani menjual pohon itu sama saja kehilangan suaminya untuk yang kedua kalinya, didialog ini juga terlihat adanya perbedaan pemikiran antar generasi. yang muda berfikir realistis yaitu dengan menjual tanah warisan bisa sebagai solusi atas kesulitan hidup sehari-hari, sedangkan yang tua bahwa warisan ini harus dijaga dan memiliki kesetian,dan kenangan perbedaan yang sangat jauh.
Konflik: Di Mana Benturan Itu Terjadi?
Nurgiyantoro mendefinisikan konflik sebagai sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh-tokoh cerita, yang jika tokoh itu mempunyai pilihan ia tidak akan memilih peristiwa atau kejadian itu. Konflik, menurutnya, merupakan unsur yang esensial dalam pengembangan plot karena dari konflik itulah ketegangan dan dinamika cerita lahir.
Konfik warisan ini sering kali awalnya dipicu oleh pembagian yang tidak merata, ketiadaan surat wasiat, minimnya pemahaman hukum waris. Namun siapa sangka ternyata konflik warisan yang digambarkan didalam cerpen ini berbeda yaitu dipicu oleh kondisi ekonomi yang cukup memperhatikan. Ini kelihatan dari dialog dalam cerpen tersebut yaitu
”Mbok, tapi kan hanya ada satu pohon jati. Ditebang saja, lalu dijual. Uangnya lumayan untuk kebutuhan Simbok.” ”Jangan harap aku akan melakukannya.”
Dalam cerpen ini, konflik hadir dalam dua lapisan yang saling bertautan.
Konflik Eksternal: Ibu dan Anak yang Tidak Saling Mengerti Konflik pertama dan paling terlihat adalah konflik antara Mbok Yani dan Tini. Ibu dan anak yang hidup di dua dunia yang berbeda meski terikat darah yang sama.
Cerpen ini berhasil mengangkat kisah sederhana yang menggambarkan salah satu konflik yang sering terjadi di tengah keluarga yaitu masalah warisan. Seorang perempuan tua yang bernama mbok Yani yang sangat keras untuk tidak mau menjual satu-satunya pohon jati miliknya meskipun anaknya yang meminta. Tini selalu mendesak karena untuk kebutuhan ekonomi, hal inilah yang dapat memicu terjadinya konflik antara generasi tua dan generasi muda.
Tini, yang hidup dengan empat anak dan suami yang menarik ojek, melihat pohon jati sebagai solusi: tebang, jual, dapat uang. Logis. Masuk akal dari sudut pandang orang yang terdesak kebutuhan. Bahkan ia menawarkan untuk mengajak ibunya tinggal bersamanya sebagai kompensasi.
Tapi Mbok Yani menolak. Bukan karena tidak mengerti logika anaknya. Ia sangat mengerti
"Betul, Tini. Tapi aku hanya bisa menggunakan uangnya sekali. Setelah itu mau apa?"
Di sinilah inti konflik eksternal itu terletak bukan pada pertengkaran keras atau kekerasan, melainkan pada dua cara pandang yang sama-sama lahir dari cinta dan kesulitan, tapi tidak bisa bertemu di titik yang sama.
"Tini tak mengerti tentang perasaan ibunya yang begitu sayang pada pohon jati. Tini tak mengerti tentang puluhan tahun hidup dengan nafkah dari pohon jati. Tini tak mengerti tentang pohon jati yang setia pada manusia."
Tiga kali kata "tak mengerti" diulang. Ini bukan kebetulan. Ini adalah cara penulis menunjukkan bahwa jurang antara ibu dan anak bukan soal uang melainkan soal pengalaman hidup yang berbeda dan tidak bisa begitu saja dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
dalam cerpen ini konflik tersebut memicu perdebatan antar ibu dan anak dengan pikiran masing-masing yang berbeda. tini yang berfikir realistis untuk kehidupan kedepannya dan ibunya masih dengan pendiriannya yang kuat dengan perasaan yang sayang pohon jadi peninggalan dari suaminya atau lebih tepatnya sayang akan kenangan, kesetian yang ada di dalam pohon jati tersebut
Konflik Internal: Mbok Yani Melawan Kesepiannya Sendiri
Di balik keteguhan Mbok Yani, ada konflik yang lebih sunyi dan lebih dalam: konflik batin antara keinginan untuk bertahan dengan cara yang ia yakini, dan kesadaran bahwa ia sudah tua, sendirian, dan tidak selamanya bisa berdiri di atas gunung batu itu.
"Mbok Yani menatap pohon jati dengan tatapan yang sayu. Pelan-pelan air mata menggenang dan menetes pada pipinya."
Air mata itu bukan air mata kemarahan. Ia adalah air mata dari seseorang yang tahu betapa rapuhnya dunia yang ia pertahankan tapi tetap memilih untuk mempertahankannya.
Mbok Yani tidak meledak, tidak berteriak, tidak memaki anaknya. Tapi di dalam dirinya, ia sedang berjuang keras antara kasih sayang pada Tini dan kesetiaan pada pohon yang merupakan satu-satunya cara ia masih merasa dekat dengan suaminya.
Pada akhirnya, cerpen “Perempuan Tua dan Pohon Jati” mengajarkan bahwa warisan tidak selalu soal harta yang bisa diuangkan. Bagi sebagian orang, warisan adalah kenangan, kesetiaan, dan jejak hidup orang yang dicintai sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan nominal berapa pun. Cerpen ini menjadi pengingat bahwa sebelum menilai keputusan generasi tua sebagai keras kepala atau tidak realistis, ada baiknya kita memahami dulu makna yang mereka pegang. Sebab terkadang, yang tampak sebagai sebidang tanah dan sebatang pohon bagi orang lain, bisa jadi adalah dunia yang utuh bagi yang merawatnya.
Karena itu, sudah saatnya kita melihat warisan dari sudut pandang yang lebih luas. Harta memang bisa habis dibagi, tetapi kasih sayang, kebersamaan, dan nilai-nilai baik akan tetap hidup selama terus diterapkan dan diwariskan dalam keluarga.
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Edisi Revisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Udiarti. 2026. "Perempuan Tua dan Pohon Jati." Kompas.id, 1 April 2026.
