Ketika Perempuan Memilih Antara Warisan dan Kesetiaan

Mahasiswa pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Nuraini Khalisah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada yang aneh melihat bagaimana dari cara Mbok Yani mencintai sebatang pohon jati.
Pohon itu berada di atas gunung batu yang gersang dan jauh dari kemewahan, pohon jati itu adalah satu-satunya yang tersisa dari seorang suami yang sudah tiada, dari kehidupan yang meski keras tetap dijalani dengan kepala tegak.

WARISAN? Apa hal yang pertama kali kalian pikirkan ketika mendengarkan kata warisan? Warisan bisa dibilang sebagai simbol peninggalan yang penuh makna, namun dibalik itu warisan memiliki potensi yang menyebabkan konflik dan dapat merenggangkan hubungan keluarga, ini juga menjadi salah satu tema yang sering diangkat dalam cerpen di indonesia. Seperti di salah satu cerpen yang berjudul Perempuan Tua dan Pohon Jati yang ditulis oleh Udiarti.
Cerpen Perempuan Tua dan Pohon Jati karya Udiarti yang dimuat di Kompas.id adalah kisah yang terlihat sederhana di permukaan: seorang ibu tua menolak menjual pohon jatinya kepada anaknya sendiri. Tapi di bawah kesederhanaannya, cerpen ini menyimpan kedalaman yang luar biasa terutama jika kita bedah melalui dua unsur penting fiksi: tema dan konflik sebagaimana dirumuskan oleh Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi (Gadjah Mada University Press, 2013).
Tema: Lebih dari Sekadar Soal Pohon
Burhan Nurgiyantoro (2013) menyatakan bahwa tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis yang menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Ia juga menegaskan bahwa tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita dan bersifat menjiwai seluruh bagian cerita Artinya, tema bukan sekadar topik yang dibicarakan ia adalah jiwa yang menghidupkan seluruh cerita dari dalam
Jika dilihat sekilas, temanya tampak tentang kemiskinan dan warisan. Tapi jika dibaca lebih dalam, tema sentral cerpen Perempuan Tua dan Pohon Jati adalah keteguhan perempuan tua dalam mempertahankan martabat dan kenangan di tengah tekanan ekonomi dan keluarga. Gambaran Pohon jati bukan sekadar aset ia adalah identitas, ia adalah salah satu gambaran cinta yang tersisa, ini adalah cara Mbok Yani tetap merasa utuh di usianya yang sudah senja.
Hal ini tergambar jelas dari cara Mbok Yani berbicara kepada pohon jatinya seolah ia berbicara kepada suaminya yang telah tiada:
"Berdirilah yang kokoh. Hanya ini yang aku miliki."
dan
"Bersama Pohon Jati Ini aku Bertahan"
Kalimat-kalimat itu bukan lagi tentang uang atau warisan. Ia adalah kalimat tentang hidup tetapi tentang bagaimana seseorang menemukan alasan untuk terus bangun pagi dan melangkah meski segalanya sudah terasa berat.
Burhan Nurgiyantoro membedakan tema ke dalam tema mayor dan tema minor
Tema mayor cerpen ini adalah perjuangan mempertahankan nilai dan kenangan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Sementara tema minornya adalah kesenjangan cara pandang antargenerasi, kemiskinan yang memaksa orang membuat pilihan sulit, serta kesetiaan perempuan pada ikatan batin yang sudah lama terjalin.
Konflik: Kebutuhan Ekonomi atau Kebutuhan Emosional
Burhan Nurgiyantoro (2013) mendefinisikan konflik sebagai sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh-tokoh cerita, yang jika tokoh itu mempunyai pilihan ia tidak akan memilih peristiwa atau kejadian itu Konflik menurutnya, merupakan unsur yang paling penting dalam pengembangan plot karena dari konflik itulah ketegangan dan dinamika cerita lahir.
Dalam cerpen ini, konflik hadir dalam dua lapisan yang saling bertautan.
Konflik Eksternal: Ibu dan Anak yang Tidak Saling Mengerti Konflik pertama dan paling terlihat adalah konflik antara Mbok Yani dan Tini. Ibu dan anak yang hidup di dua dunia yang berbeda meski terikat darah yang sama.
Tini, yang hidup dengan empat anak dan suami yang menarik ojek, melihat pohon jati sebagai solusi: tebang, jual, dapat uang terlihat sangat realistis dan logis. Masuk akal dari sudut pandang orang yang terdesak kebutuhan. Bahkan ia menawarkan agar ibunya bisa tinggal bersamanya sebagai bentuk kompensasi.
Tapi Mbok Yani menolak. Bukan karena tidak mengerti logika anaknya. Ia sangat mengerti:
"Betul, Tini. Tapi aku hanya bisa menggunakan uangnya sekali. Setelah itu mau apa?"
Disinilah inti konflik eksternal itu terletak bukan pada pertengkaran keras atau kekerasan, melainkan pada dua cara pandang yang sama-sama lahir dari cinta dan kesulitan, tapi tidak bisa bertemu di titik yang sama.
"Tini tak mengerti tentang perasaan ibunya yang begitu sayang pada pohon jati. Tini tak mengerti tentang puluhan tahun hidup dengan nafkah dari pohon jati. Tini tak mengerti tentang pohon jati yang setia pada manusia."
Tiga kali kata tak mengerti diulang. Ini bukan kebetulan. Ini adalah cara penulis untuk menunjukkan bahwa jurang antara ibu dan anak bukan soal uang melainkan soal pengalaman hidup yang berbeda dan tidak bisa begitu saja dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konflik Internal: Mbok Yani Melawan Kesepiannya Sendiri
Di balik keteguhan Mbok Yani, ada konflik yang lebih sunyi dan lebih dalam: konflik batin antara keinginan untuk bertahan dengan cara yang ia yakini, dan kesadaran bahwa ia sudah tua, sendirian, dan tidak selamanya bisa berdiri di atas gunung batu itu.
"Mbok Yani menatap pohon jati dengan tatapan yang sayu. Pelan-pelan air mata menggenang dan menetes pada pipinya."
Air mata itu bukan air mata kemarahan. Ia adalah air mata dari seseorang yang tahu betapa rapuhnya dunia yang ia pertahankan tapi tetap memilih untuk tetap mempertahankannya.
Burhan Nurgiyantoro (2013) menyebut konflik internal sebagai konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh cerita dan pertarungan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda dalam mengatasi suatu masalah. Mbok Yani tidak meledak, tidak berteriak, dan tidak memaki anaknya. Tapi di dalam dirinya, ia sedang berjuang keras antara kasih sayang pada Tini dan kesetiaan pada pohon yang merupakan satu-satunya cara ia masih merasa dekat dengan suaminya.
Tema dan Konflik yang Saling Menghidupkan
Yang membuat cerpen ini luar biasa adalah bagaimana tema dan konflik bekerja bersama saling bertautan bukan sebagai dua elemen yang terpisah, melainkan sebagai dua sisi dari satu koin.
Konflik antara Mbok Yani dan Tini tidak akan terasa sedalam ini jika temanya hanya soal uang. Dan tema tentang keteguhan mempertahankan kenangan tidak akan terasa sekuat ini jika tidak ada konflik nyata yang mengujinya. Justru karena Mbok Yani dihadapkan pada tekanan untuk menyerah dan ia memilih tidak menyerah temanya menjadi hidup dan menggema.
Burhan Nurgiyantoro (2013) menegaskan bahwa tema yang baik adalah tema yang menjiwai seluruh cerita bukan sesuatu yang ditempel di akhir seperti moral cerita, melainkan sesuatu yang hadir di setiap sudut: dalam cara Mbok Yani berjalan dengan kebaya longgar dan selendang batiknya, dalam cara ia menggunakan air seirit mungkin, dalam cara ia berbisik kepada pohon seolah berbisik kepada kekasihnya yang sudah pergi.
Pohon yang Tidak Boleh Ditebang
Mbok Yani mungkin tidak punya banyak kata untuk menjelaskan mengapa pohon itu begitu berharga baginya. Tapi ia tidak perlu banyak kata. Cukup satu kalimat:
"Betapa sesungguhnya manusia tidak bisa hidup tanpa pohon. Beruntungnya aku punya pohon jati."
Dalam kalimat sederhana itu tersimpan seluruh tema cerpen ini tentang ketergantungan manusia pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar nilai jualnya, tentang betapa pohon dan kenangan, dan cinta yang ditanamkan bertahun-tahun adalah hal yang tidak bisa begitu saja ditebang dan dijual meski kita sangat membutuhkan uangnya.
penulis menulis cerita ini dengan pemihakan yang netral. ia tidak memihak Mbok Yani secara membabi buta, tapi juga tidak mengecam Tini. Ia hanya menunjukkan dua manusia yang sama-sama kesulitan, yang sama-sama mencintai dengan caranya masing-masing, tapi gagal menemukan bahasa yang bisa saling dipahami.
Pada akhirnya, cerpen Perempuan Tua dan Pohon Jati mengajarkan bahwa warisan tidak selalu soal harta yang bisa habis dibagi dan diuangkan. Karena bagi sebagian orang, warisan adalah kenangan, kesetiaan, dan jejak hidup orang yang dicintai sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan nominal berapa pun. Cerpen ini menjadi pengingat bahwa sebelum menilai keputusan generasi tua sebagai keras kepala atau tidak realistis, ada baiknya kita memahami dulu makna yang mereka pegang. Sebab terkadang, yang tampak sebagai sebidang tanah dan sebatang pohon bagi orang lain, bisa jadi adalah dunia yang utuh bagi yang merawatnya.
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, Burhan. (2013). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Udiarti. (2026). Perempuan Tua dan Pohon Jati. Kompas.id. Diakses dari https://www.kompas.id/artikel/perempuan-tua-dan-pohon-jati
