Saat Penonton Angkat Kaki, Apakah Itu Cancel Culture?

Mahasiswi S1 Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari khansa Dwi Prasanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nama Juicy Luicy kembali ramai diperbincangkan setelah beredar video yang memperlihatkan sejumlah penonton meninggalkan venue ketika band tersebut hendak tampil di sebuah acara musik di Sukabumi. Video tersebut kemudian dikaitkan dengan polemik Juicy Luicy sebelumnya di Batam, ketika mereka batal tampil dalam XYZ Liveground pada 5 September 2026. Polemik di Batam sendiri bermula dari persoalan keberangkatan dan bagasi. Pihak penyelenggara dan Juicy Luicy kemudian memberikan klarifikasi dari sudut pandang masing-masing. Setelah polemik tersebut ramai di media sosial, muncul video penonton yang meninggalkan venue di Sukabumi dan sebagian warganet menyebutnya sebagai bentuk cancel culture. Namun, apakah penonton yang memilih pergi otomatis sedang melakukan cancel culture? Belum tentu. Sebab, meninggalkan sebuah pertunjukan bisa memiliki banyak alasan. Seseorang mungkin kecewa terhadap artis, tidak puas dengan penyelenggaraan acara, atau memang sudah terlalu lelah dan memilih pulang. Satu tindakan yang terlihat sama belum tentu memiliki makna yang sama. Di sinilah fenomena cancel culture menjadi menarik jika dilihat secara sosiologis. Dari Kekecewaan Pribadi Menjadi Tindakan Kolektif Cancel culture dapat dipahami sebagai bentuk penolakan sosial terhadap seseorang atau kelompok yang dianggap melakukan sesuatu yang bermasalah. Penolakan tersebut dapat berupa berhenti mengikuti akun, tidak membeli produk, tidak menghadiri acara, hingga mengajak orang lain melakukan hal serupa. Dalam kasus Juicy Luicy, tindakan meninggalkan venue kemudian dimaknai sebagian netizen sebagai bentuk penolakan. Media sosial membuat tindakan individu tersebut dapat terlihat sebagai tindakan kolektif. Secara sosiologis, hal ini dapat dikaitkan dengan kontrol sosial. Masyarakat memiliki cara untuk memberikan tekanan kepada individu atau kelompok yang dianggap melanggar nilai atau harapan tertentu. Jika dahulu kontrol sosial lebih banyak berlangsung secara langsung dalam lingkungan masyarakat, kini media sosial menjadi salah satu ruang baru untuk melakukannya. Menariknya, kontrol sosial di media sosial dapat berlangsung sangat cepat. Satu video dapat memunculkan ribuan komentar, kemudian berkembang menjadi ajakan untuk berhenti mendukung seseorang. Di sisi lain, muncul pula konformitas, yaitu kecenderungan individu menyesuaikan sikap atau perilakunya dengan kelompok. Ketika seseorang melihat banyak orang mengecam atau menolak pihak tertentu, ia dapat terdorong untuk melakukan hal yang sama, bahkan sebelum mengetahui persoalannya secara lengkap. Ketika Viralitas Mengalahkan Konteks Persoalannya, media sosial membuat informasi bergerak jauh lebih cepat daripada proses memahami konteks. Kita bisa melihat video seseorang meninggalkan venue, membaca komentar yang menyebutnya sebagai bentuk protes, kemudian langsung menerima kesimpulan tersebut. Padahal, alasan setiap orang bisa saja berbeda. Karena itu, kasus Juicy Luicy menunjukkan bahwa cancel culture bukan hanya soal siapa yang diboikot atau siapa yang dikritik. Fenomena ini juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat membentuk makna terhadap sebuah peristiwa melalui interaksi di media sosial. Kritik dan kekecewaan tentu merupakan bagian dari kehidupan sosial. Penonton memiliki hak untuk menentukan apakah mereka ingin tetap memberikan dukungan atau tidak. Namun, ketika penolakan berkembang menjadi tekanan kolektif, penting untuk membedakan antara kritik, boikot, dan penghakiman massal. Jadi, apakah penonton yang angkat kaki sedang melakukan cancel culture? Jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dari satu video. Mungkin mereka memang sedang menyampaikan protes. Mungkin juga mereka hanya ingin pulang. Yang jelas, di tengah budaya media sosial yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak dan mencari konteks sebelum ikut menilai menjadi semakin penting. Sebab, tidak semua orang yang angkat kaki sedang melakukan cancel culture, tetapi satu tindakan yang viral bisa dengan cepat berubah menjadi simbol penolakan ketika masyarakat memberinya makna yang sama.
