Konten dari Pengguna

Stres sebagai Salah Satu Faktor Penyebab Sleep Paralysis pada Mahasiswa

Khansa Novia Nurrahma

Khansa Novia Nurrahma

Psychology student at Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khansa Novia Nurrahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source : sleepcycle.com
zoom-in-whitePerbesar
Source : sleepcycle.com

Mahasiswa dalam proses belajarnya rentan mengalami stres yang dapat bersumber dari perubahan gaya hidup, jadwal yang padat, tuntutan orang tua, masalah pribadi maupun keluarga, frekuensi ujian yang terlalu sering, gagal dalam ujian, serta kecemasan mengenai perkuliahan dan masa depan (Wiegner,2005 dalam Marcella dan Yanto, 2017). Sadar atau tidak, hampir semua mahasiswa pasti pernah mengalami stres. Stres didefinisikan sebagai segala jenis perubahan yang menyebabkan ketegangan fisik, emosional, atau psikologis. Stres adalah respons tubuh terhadap apa pun yang membutuhkan perhatian atau tindakan.

Stuart dan Laraia (2005) dalam Ruby (2012) menyebutkan bahwa stres muncul karena adanya stimulus berupa stressor dari luar yang yang mengancam individu dan secara langsung dapat menekan emosi individu tersebut. Jika stres tidak mendapat penanganan yang baik dapat berdampak buruk dan mempengaruhi seluruh sistem tubuh. Terdapat tiga sumber stres menurut Maramis (2008), dalam Ruby (2012) yaitu, lingkungan, tubuh, dan pikiran. Dalam ranah mahasiswa, sumber stres dari lingkungan dapat berupa permasalahan dengan teman sebaya, sumber stres dari tubuh didapatkan saat tubuh merespon adanya perubahan yang terjadi, dan sumber stres dari pikiran terjadi saat seseorang memikirkan beberapa problematika yang sedang terjadi secara mendalam dan mengakibatkan hilangnya gairah seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Saat stres, seseorang cenderung merasakan kecemasan dan beban pikiran yang berlebihan. Ketika itulah tubuh akan mengalami serangkaian proses homeostatis untuk mempertahankan keseimbangan.

Ketika stres terjadi, seseorang akan terfokus pada suatu permasalahan yang sedang dihadapi dan akhirnya berdampak buruk. Salah satunya, yaitu menyebabkan gangguan tidur yang berkaitan erat dengan kesehatan mental mahasiswa (Larasaty, 2012 dalam Marcella dan Yanto, 2017). Menurut Ganesh (2012), dalam Marcella dan Yanto (2017), stres yang biasa dialami oleh mahasiswa dapat menyebabkan perubahan ritme sirkadian sehingga dapat menimbulkan berbagai gangguan, salah satunya adalah sleep paralysis.

Sleep paralysis atau kelumpuhan tidur didefinisikan oleh The American Sleep Disorder Association (1990) sebagai ketidakmampuan tubuh mengendalikan otot volunteer selama sleep onset (gypnagogic) atau selama terbangun di antara waktu malam dan pagi (hypnopompic). Menurut Sadock (2010), dalam Marcella dan Yanto (2017), Sleep paralysis, yaitu suatu keadaan ketidakmampuan seseorang untuk bergerak ketika sedang tidur ataupun ketika bangun tidur. Hal ini digambarkan dengan keadaan saat seseorang berada dalam kesadaran penuh, tetapi tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Dalam Ruby (2012) disebutkan bahwa sleep paralysis terjadi dalam rentang waktu beberapa detik hingga menit, yang mana terjadinya ketika seseorang berada pada siklus REM.  

Saat tertidur, tubuh seseorang secara bergantian memasuki fase tidur REM dan NREM. Diperkirakan, durasi dalam satu siklus REM dan NREM yaitu selama 90 -110 menit. Pada siklus tidur, 75% nya berada pada fase NREM. Saat fase NREM, tubuh berada dalam keadaan rileks dan siklus tidur akan memasuki fase REM saat fase NREM sudah mencapai tahap 4. Mimpi akan muncul saat fase REM, sehingga tubuh akan di “non-aktifkan” agar tubuh tidak mengikuti gerakan yang dialami dalam mimpi. Pada sleep paralysis, saat fase REM, seseorang akan terbangun tiba – tiba, sedangkan tubuh sudah di “non-aktifkan” sehingga terjadi kelumpuhan dan menyebabkan sleep paralysis (Marcella dan Yanto, 2017).  

Pertanyaannya, bagaimana stres dapat mempengaruhi terjadinya sleep paralysis pada mahasiswa? Menurut Solomanov, dkk (2007) dalam Marcella dan Yanto (2017), stres berhubungan dengan frekuensi dan intensitas kejadian sleep paralysis. Hal ini didukung dengan penelitian Cheyne (2002) yaitu ketika seseorang mengalami stres, mereka cenderung tidak bisa merasakan rileks karena pikirannya selalu terpusat pada masalah yang sedang dihadapi. Perasaan tidak rileks itulah yang dapat mengacaukan siklus REM (Rapid Eye Movement) dan NREM (Non Rapid Eye Movement). Saat seseorang tidur pada siklus REM, otot - otot akan berhenti bekerja atau turned off. Sleep paralysis ini terjadi sebelum siklus REM berakhir yaitu saat otot sedang berhenti bekerja sehingga seseorang akan mengalami kesulitan bergerak dan berbicara.

Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa stres merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya sleep paralysis. Hasil penelitian di salah satu universitas di Depok oleh Ruby (2012) yang dilakukan pada mahasiswa fakultas ilmu kesehatan (FIK) angkatan 2008 menyatakan bahwa dari 107 responden, 98 mahasiswa (91,6%) pernah mengalami sleep paralysis. Selanjutnya, diteliti mengenai faktor tingkat stres terhadap sleep paralysis dan ditemukan bahwa dari tiga tingkatan stres yaitu stres tinggi, sedang, dan ringan yang paling banyak mengalami sleep paralysis adalah tingkat stres tinggi yaitu sebanyak 56 responden (96,6%). Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat relevansi antara tingkat stres dengan kejadian sleep paralysis.

Hasil penelitian lain di salah satu universitas di Jakarta oleh Marcella dan Yanto (2017) menyatakan bahwa dari 52 responden yaitu mahasiswa fakultas kedokteran ditemukan bahwa sebanyak 58% responden mengalami sleep paralysis. Angka ini cukup tinggi, tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya oleh Ruby (2012). Uji statistik juga menunjukkan bahwa responden yang mengalami stres lebih berisiko untuk mengalami sleep paralysis sebesar 4.6 kali lipat jika dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami stres.

Dari dua penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor stres terbukti mempengaruhi terjadinya sleep paralysis pada mahasiswa. Mahasiswa yang mengalami stres, khususnya tingkat stres tinggi berisiko lebih besar untuk mengalami sleep paralysis.  Oleh sebab itu, untuk menangani permasalahan sleep paralysis yang dialami, mahasiswa perlu melakukan kontrol stres berupa manajemen stres dan coping stress. Agar kontrol stres yang dilakukan dapat membuahkan hasil, maka disarankan agar setiap universitas memiliki Badan Konseling yang menyediakan sarana bimbingan dan konsultasi psikologi bagi mahasiswa terutama yang mengalami stres agar mendapatkan penanganan berupa kiat melakukan kontrol stres yang baik dan benar. 

Peran keluarga dan teman sepermainan juga dibutuhkan untuk memberikan dukungan penuh pada mahasiswa selama menjalani masa perkuliahannya.  Relaksasi stres juga dianjurkan untuk dilakukan agar mahasiswa dapat meningkatkan sleep quality (kualitas tidur). Selanjutnya, pola hidup sehat juga diperlukan karena berpengaruh terhadap kesehatan mental, pikiran, dan emosi agar selalu bergerak ke arah positif. Kemudian, yang terpenting adalah sayangi diri sendiri. Sebab, hanya diri kita lah yang lebih memahami apa yang kita rasakan, sehingga segala tekanan yang kita alami dapat dialihkan dengan lebih efektif.

Daftar Pustaka

Cheyne, J. A. (2002). Situational factors affecting sleep paralysis and associated hallucinations: position and timing effects. Journal of Sleep Research, 11(2), 169-177.

Larasaty, R. (2008). Hubungan tingkat stress dengan kejadian sleep paralysis pada mahasiswa FIK UI Angkatan 2008. Depok: FIK UI.

Tjang, Y. S., & Arista, M. (2017). Pengaruh Stress Terhadap Kejadian Sleep Paralysis Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling: Jurnal Kajian Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Konseling, 41-45.