Konten dari Pengguna

Internalized Misogyny, Sindrom Rivalitas Sesama Perempuan

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khansa Nur Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay

“Every woman’s success should be an inspiration to another. We’re strongest when we cheer each other on.” - Serena Williams

Apa Itu Internalized Misogyny?

Internalized misogyny didefinisikan sebagai kecenderungan perempuan untuk membenci, terjadi rivalitas untuk memproyeksikan pemikiran seksis kepada perempuan lainnya. Hal ini terjadi secara tidak sadar dipengaruhi oleh patriarki yang berkembang dalam masyarakat. Perempuan yang mengalami internalized misogyny mungkin merasa rendah diri, memandang remeh perempuan lain, serta meragukan kemampuan dan nilai-nilai feminin (Arsawati dan Bunga, 2022).

Sumber: Feminisminindia

Ciri-Ciri Perempuan dengan Internalized Misogyny

Orang yang mengidap sindrom ini biasanya sering menunjukkan ciri-ciri, di antaranya: (Arsawati dan Bunga, 2022; Balestieri, 2021).

1. Sikap Memperlakukan Perempuan

Seorang misogini akan bersikap ramah dan akrab terhadap pria. Namun, terhadap perempuan akan bersikap kasar, acuh, sinis, bahkan cenderung merendahkan perempuan. Tak jarang, mereka tidak merasa bersalah atas perilakunya yang mengintimidasi atau menindas perempuan. Mereka memiliki pola pikir bahwa tindakan mengintimidasi dan menindas perempuan adalah benar karena perempuan memang objek intimidasi.

2. Merasa Tidak Ingin Tersaingi

Merasa perlu membandingkan dan bahkan menghina perempuan lain untuk memperbaiki perasaanmu, itu juga bisa menjadi tanda dari internalized misogyny. Sesuai dengan pandangan patriarki bahwa perempuan perlu bersaing untuk mendapatkan validasi dari seorang pria agar dianggap menarik. Setiap individu memiliki keunikan mereka sendiri, dan tidak ada alasan untuk merasa saling berkompetitif satu sama lain. Kita semua memiliki tempat kita masing-masing, bukan?

3. Kecenderungan Menilai Perempuan Lain dari Penampilan

Apakah seringkali kamu menjudge penampilan atau gaya berpakaian dari perempuan lain? Nah, itu salah satu tanda bahwa kamu memiliki internalized misogyny. Jika kamu merasa bahwa seorang perempuan terlihat terlalu terbuka atau berani berdasarkan panjang rok atau sejauh mana kulitnya terlihat, perlu disadari bahwa setiap orang seharusnya bebas memilih pakaian yang membuat mereka merasa nyaman.

4. Mengkotak-Kotakan Gender

Jika kamu sering menggunakan stereotip gender dalam percakapan sehari-hari, salah satu tanda kamu internalized misogyny. Misalnya, beberapa stereotip gender yang biasanya terjadi adalah “Aku sih lebih suka masak, dibanding main gim”, atau “Masa perempuan pakai sepatu, sih? Kalau aku sih lebih suka heels”.

5. Merasa Dirinya Berbeda dari Perempuan Lain

Para perempuan dengan internalized misogyny dalam dirinya, seringkali mengelompokkan perempuan lain ke dalam kelompok superior dan inferior sehingga mereka terkadang bersikap merendahkan terhadap sesama perempuan yang tidak sesuai dengan “standar” mereka. Hal ini dapat terjadi karena mereka memiliki pandangan seksis terhadap perempuan. Beberapa contoh kalimat internalized misogyny yang mungkin sering kita dengar:

  • “Apa cuma gue ya yang ga bisa make up? Gue sih lebih pilih natural aja”,

  • “Apa cuma aku ya yang ga suka nonton drakor?”,

  • “Baju lo terlalu pink ga sih? Terlalu menye-menye banget”

Sumber: Shutterstock

Mengapa Banyak Perempuan yang Memiliki Internalized Misogyny?

Salah satu alasan utama internalized misogyny adalah adanya kebencian dan rivalitas antar perempuan. Akibat pengaruh patriarki dan stereotip gender yang ada dalam masyarakat, perempuan sering kali dibanding-bandingkan, dievaluasi, dan dimasukkan dalam kompetisi satu sama lain. Hal ini menciptakan atmosfer persaingan yang tidak sehat dan merugikan solidaritas di antara perempuan. Rivalitas ini sering kali muncul dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk penampilan fisik, pilihan karir, hubungan, dan peran tradisional dalam keluarga. Berikut alasan lainnya (Blake, 2021):

1. Trauma Masa Kecil

Perilaku misogini bisa terbentuk sejak masa kanak-kanak. Seseorang dapat mengembangkan sikap misogini akibat perlakuan yang dialami saat masih kecil, termasuk pengalaman kekerasan baik secara fisik maupun psikologis yang dilakukan oleh perempuan. Contohnya, seseorang yang menjadi korban kekerasan dari ibu biologis, anggota keluarga perempuan, atau bahkan lingkungan masyarakat sekitar, sehingga mengakibatkan trauma dan perasaan kebencian yang sangat dalam terhadap perempuan.

2. Pola Asuh yang Salah

Pola asuh yang diberikan oleh orang tua dan lingkungan keluarga dapat menyebabkan munculnya perilaku misogini. Hal ini terjadi ketika seseorang merasakan adanya perlakuan yang tidak adil dalam lingkungan keluarga. Sebagai contoh, seorang anak bisa menjadi sangat benci terhadap adik perempuannya karena dia melihat bahwa adik perempuannya diperlakukan secara tidak adil oleh orang tua, sehingga rasa iri pun muncul.

3. Pemahaman Maskulinitas Toksik

Pandangan patriarki yang menganggap perempuan dan laki-laki dalam posisi tidak setara menciptakan fenomena sosial. Fenomena ini terjadi ketika perempuan membenci perannya sebagai seorang perempuan untuk melindungi diri mereka sendiri, sehingga timbul sisi emosional dan psikologis yang muncul adalah konsep maskulinitas beracun terhadap diri mereka sendiri.

Bisakah Internalized Misogyny Diatasi?

Untuk mengatasi internalized misogyny, perlu adanya kesadaran tentang pentingnya solidaritas, dukungan, dan rasa saling menghargai antar perempuan. Perempuan harus belajar untuk menerima keunikan serta perbedaan satu sama lain. Selain itu, perempuan memiliki hak dan kebebasan untuk menjadi diri mereka yang sebenarnya. Apapun yang mereka lakukan sebagai bagian dari aktualisasi diri yang tidak akan mengurangi esensi keperempuanan mereka.

Referensi:

  1. Blake, dkk. (2021). Misogynistic Tweets Correlate With Violence Against Women. Psychological Science, 32(3), 315–325.

  2. Arsawati dan Bunga. (2022). Misogyny As Violence In Gender Perspective. International Journal of Business Economics and Social Development 3(1):19-27.

  3. Balestrieri, Kate. (2021). 7 Not-So-Obvious Signs of Internalized Misogyny. Modern Intimacy. Diakses dari https://www.modernintimacy.com/7-not-so-obvious-signs-of-internalized-misogyny/.