Gagalnya Critical Pedagogy: Siswa Pintar Menghafal, Tapi Tak Terbiasa Berpikir?

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Khansa Oliv tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak siswa mampu menjawab soal dengan tepat, tetapi belum tentu memahami apa yang mereka pelajari. Mereka terbiasa menghafal rumus, definisi, dan jawaban, namun jarang mempertanyakan atau mengaitkannya dengan realitas. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan perlahan bergeser, bukan lagi menjadi ruang untuk berpikir, melainkan sekadar tempat untuk mengingat.
Dalam praktiknya, sistem pendidikan saat ini masih banyak menekankan pada capaian akademik dan penguasaan materi. Siswa dituntut untuk memahami sebanyak mungkin dalam waktu yang terbatas, sementara ruang untuk berdiskusi atau mempertanyakan sering kali tidak diterapkan. Proses belajar pun cenderung berjalan satu arah, yaitu guru menjelaskan, siswa mencatat, lalu diuji.
Kondisi seperti ini sudah sering terjadi. Dalam beberapa situasi, upaya untuk menyampaikan kritik terhadap praktik pendidikan justru tidak selalu mendapat ruang yang terbuka. Pada suatu kasus yang pernah terjadi di Pemalang, seorang wali murid menyampaikan kritik terhadap kebijakan sekolah, tetapi respons yang muncul lebih berupa pemanggilan daripada dialog atau diskusi. Hal ini menunjukkan bahwa ruang untuk berpikir dan menyatakan pendapat dalam pendidikan masih belum sepenuhnya aman.
Jika dilihat dari perspektif critical pedagogy, kondisi ini menjadi persoalan yang cukup mendalam. Pendidikan seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembebasan. Artinya, pendidikan perlu mendorong siswa untuk berpikir kritis, memahami realitas sosial, dan berani menyampaikan pandangan. Paulo Freire menyebut model pendidikan satu arah sebagai banking education, yaitu ketika siswa diposisikan sebagai “wadah” yang hanya menerima pengetahuan.
Dalam sistem ini, siswa tidak benar-benar diajak untuk memahami, melainkan lebih diarahkan untuk mengingat. Pertanyaan yang muncul bukan lagi “mengapa hal ini terjadi?”, tetapi “apa jawaban yang benar”. Akibatnya proses belajar kehilangan kedalaman maknanya. Siswa mungkin mampu menjawab soal dengan baik, tetapi belum tentu mampu memahami konteks atau mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika Pendidikan Kehilangan Ruang Untuk Berpikir
Minimnya ruang dialog dalam pendidikan juga berdampak pada keberanian siswa untuk berpendapat. Tidak sedikit siswa yang merasa ragu untuk bertanya karena takut dianggap salah atau tidak memahami materi. Padahal, dalam proses belajar, kesalahan justru menjadi bagian penting untuk memahami sesuatu secara mendalam.
Ketika ruang untuk berdiskusi dan bereksplorasi tidak tersedia, siswa cenderung memilih untuk diam. Dalam jangka panjang, hal ini dapat membentuk kebiasaan untuk menerima tanpa mempertanyakan. Pendidikan yang seharusnya mendorong rasa ingin tahu justru berisiko menumbuhkan sikap pasif.
Di sisi lain, relasi antara guru dan siswa juga sering kali masih bersifat hierarkis. Guru diposisikan sebagai sumber kebenaran, sementara siswa berada pada posisi penerima. Dalam kondisi seperti ini, perbedaan pendapat mudah dipahami sebagai bentuk ketidaksesuaian, bukan sebagai bagian dari proses belajar.
Menghidupkan Kembali Pendidikan yang Membebaskan
Menghadirkan pendidikan yang lebih kritis bukan berarti menolak seluruh sistem yang ada, melainkan mengubah cara pandang terhadap proses belajar itu sendiri. Pendidikan tidak harus selalu berjalan satu arah. Justru, dengan membuka ruang diskusi dan pertanyaan, proses belajar dapat menjadi lebih hidup dan bermakna.
Peran guru menjadi penting dalam perubahan ini. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk berpikir. Memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat merupakan langkah awal untuk membangun budaya belajar yang lebih terbuka.
Di sisi lain, sistem pendidikan juga perlu memberi ruang yang lebih luas bagi pengembangan kemampuan berpikir, bukan hanya berfokus pada hasil akhir. Penilaian seharusnya tidak hanya melihat benar atau salah, tetapi juga proses berpikir yang dilalui siswa.
Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya soal apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana cara mengajarkannya. Pendidikan yang terlalu berfokus pada hafalan mungkin mampu menghasilkan siswa yang unggul secara akademik, tetapi belum tentu mampu melahirkan individu yang kritis dan reflektif.
Jika pendidikan terus berjalan tanpa ruang diskusi, maka yang hilang bukan hanya kemampuan untuk berpikir, tetapi juga kesempatan untuk memahami dunia secara lebih utuh. Di titik inilah, pendidikan perlu kembali pada tujuan utama, yaitu bukan sekadar mengingat, tetapi juga memahami.
