Konten dari Pengguna

Picky Eating: Berpengaruh pada Kesehatan Mental atau Tidak?

KHANSA RAMADHANIA AZ-ZAHRAH

KHANSA RAMADHANIA AZ-ZAHRAH

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KHANSA RAMADHANIA AZ-ZAHRAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahukah kamu? Picky eating tidak hanya terjadi pada anak-anak, lho. Tetapi, dapat terjadi juga pada rentang usia remaja hingga dewasa. Picky eating, atau sering disebut pemilih makanan memiliki fakta penting sebaliknya. Tidak sedikit orang bertanya, apakah picky eating berpengaruh pada kesehatan mental, atau bahkan termasuk ke dalam kategori gangguan mental? Lalu, apa bedanya dengan ARFID? Yuk, simak informasi selanjutnya!

Ilustrasi orang pemilih makanan. Sumber : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang pemilih makanan. Sumber : Pixabay

Apa itu Picky Eating?

Picky eating adalah suatu kondisi di mana individu kesulitan makan karena adanya keengganan untuk makan makanan yang sudah dikenal atau mencoba makanan baru. Hal ini menyebabkan adanya kekhawatiran tentang komposisi nutrisi dari makanan dan kemungkinan berdampak pada kesehatan yang merugikan. Pemilih makanan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tekanan dari lingkungan sosial, faktor kepribadian, cara makan orang tua termasuk kontrol dari orang lain. (Jani Mehta et al., 2014, Moroshko and Brennan, 2013).

Lauren Dial, dari Departemen Psikologi, Bowling Green State University di USA, mengatakan bahwa pemilih makanan adalah kejadian umum selama masa kanak-kanak. Namun, terdapat kasus di mana pemilih makanan dapat bertahan hingga remaja dan dewasa.

Perlu diketahui, konsumsi makanan yang bergizi merupakan suatu keharusan bagi individu agar kondisi kesehatan tetap terjaga dan memenuhi gizi yang seimbang. Pada umumnya, orang dewasa cenderung mengadopsi kebiasaan konsumsi makanan sehat jika kebiasaan tersebut sudah dilakukan sejak usia dini (Chan et al., 2009). Namun, apa jadinya kalau sejak dini sudah mengalami kebiasaan picky eating? Tentu saja, adanya kemungkinan berdampak pada kesehatan.

Apakah berpengaruh pada kesehatan mental?

Para ahli berpendapat telah banyak publikasi studi tingkat dunia yang menyatakan bahwa adanya hubungan antara kualitas konsumsi makanan dan gangguan jiwa umum (depresi dan gangguan kecemasan), baik pada dewasa maupun anak-anak.

Dial dan koleganya, melakukan penelitian bersama 488 mahasiswa sarjana Midwestern untuk menguji hubungan antara perilaku pemilih makan dan hasil psikososial yang mungkin terkait, seperti fobia sosial, kualitas hidup, dan kesulitan memilih makanan.

“Kami juga tertarik untuk meneliti picky eating sebagai identitas makan,” kata Lauren Dial, PhD, Departemen Psikologi, Bowling Green State University, USA.

Dari penelitian yang dilakukan Dial, 190 mahasiswa di Midwestern diidentifikasi sebagai pemilih makanan dan dinyatakan berkaitan dengan fobia sosial, tekanan lingkungan dan kualitas hidup yang lebih rendah. Picky eater juga memiliki tantangan untuk menemukan makanan yang dapat diterima, perencanaan makan yang berlebihan, tidak makan, dan mendapat tekanan dari orang lain yang makan dengan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi picky eating dapat berpengaruh pada kesehatan mental.

Namun, Dial menegaskan kembali bahwa hasil kualitatif saat ini adalah fenomena kompleks di mana adanya variabilitas yang bergantung pada variabel usia, jenis kelamin, dan dukungan sosial.

"Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti lebih banyak dampak dari picky eating pada remaja hingga dewasa dan membantu penelitian di masa depan mengidentifikasi bagaimana picky eating berkaitan dengan perilaku makan lainnya," kata Dial.

Mengenal Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)

Kebiasaan picky eating sangat mungkin untuk membaik dengan melakukan cara yang ampuh untuk mengatasinya, bergantung kepada dukungan sosial dari orang tua, teman dan kerabat ataupun faktor lain. Namun, apa jadinya kalau kondisi picky eating ini kian memburuk?

Ketika kebiasaan pilih-pilih makanan semakin parah, itu mungkin dapat di diagnosis sebagai ARFID atau Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder. Kondisi ini ditandai dengan masalah kesehatan seperti penurunan berat badan, kekurangan gizi dan juga dapat menyebabkan masalah sosial dan emosional ketika waktu makan.

Seseorang yang mengidap ARFID mengalami kesulitan mengunyah atau menelan makanan, bahkan dapat tersedak sebagai respons kecemasan yang tinggi ketika makan. Kecemasan tersebut menyebabkan mereka menghindari suatu kondisi yang mengharuskan untuk makan. Pengidap ARFID menghindari dan pilih-pilih makanan karena menghindari makanan karena tekstur, bau dan rasa, pengidap tidak memiliki ketertarikan pada makanan, atau memiliki trauma dan fobia terhadap makanan.

Picky eating dan ARFID mungkin memiliki kesamaan tertentu. Namun, ARFID dibedakan berdasarkan tingkat tekanan fisik dan mental yang disebabkan oleh makan. Perlu diketahui, pengidap ARFID memilih-milih makanan bukan karena takut bertambah berat badan atau memikirkan bentuk tubuh secara berlebihan, seperti anorexia nervosa dan bulimia nervosa. Meskipun demikian, konsekuensi dari ARFID mungkin sama parahnya.

Dampak kesehatan fisik bagi pengidap ARFID sama halnya seperti kekurangan nutrisi dan kalori tubuh, seperti malnutrisi, pertumbuhan terhambat, tekanan darah rendah dan sebagainya. Namun, pengidap ARFID pada umumnya juga memiliki dampak psikologis, seperti gangguan kecemasan, depresi, kecemasan sosial dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah.

ARFID termasuk ke dalam diagnosa baru pada DSM-5 dan riset masih terus berjalan mengenai penyembuhan yang efektif bagi pengidap ARFID. Metode penyembuhan saat ini menunjukkan terapi pelaku kognitif atau Cognitive Behaviour Therapy (CBT) adalah pengobatan yang paling efektif bagi pengidap ARFID. Perawatan yang dilakukan secara bertahap dengan memperlihatkan makanan yang ditakuti, pelatihan relaksasi dan dukungan untuk mengubah perilaku makanan.

Jika Anda atau orang di sekitar Anda kemungkinan mengalami gejala gangguan di atas, sangat penting untuk segera mencari bantuan kepada ahli di bidangnya. Jangan lakukan self-diagnose pada diri Anda. Semakin awal Anda mencari bantuan, semakin dekat Anda dengan pemulihan!

Referensi

Chan, K., Prendergast, G., Gronhoj, A., & Bech-Larsen, T. (2009). Adolescents’perceptions of healthy eating and communication about healthy eating. Health Education, 109, 474-490.

Dial, L. A., Jordan, A., Emley, E., Angoff, H. D., Varga, A. V., & Musher-Eizenman, D. R. (2021). Consequences of Picky Eating in College Students. Journal of Nutrition Education and Behavior, 53(10), 822-831.

Taylor, C. M., Wernimont, S. M., Northstone, K., & Emmett, P. M. (2015). Picky/fussy eating in children: Review of definitions, assessment, prevalence and dietary intakes. Appetite, 95, 349-359.

Thomas, J. J., Lawson, E. A., Micali, N., Misra, M., Deckersbach, T., & Eddy, K. T. (2017). Avoidant/restrictive food intake disorder: a three-dimensional model of neurobiology with implications for etiology and treatment. Current psychiatry reports, 19(8), 1-9.