Konten dari Pengguna

Menelusuri Desa Tamansari, Sejarah Pasir Luhur dan Raden Kamandaka

Kharisma Wulan Suci

Kharisma Wulan Suci

Mahasiswa Sastra Indonesia Univeritas Jenderal Soedirman Purwokerto

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kharisma Wulan Suci tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi : Pribadi / Batu Kepala Babi Petilasan Carangandul
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi : Pribadi / Batu Kepala Babi Petilasan Carangandul

Raden Kamandaka atau Banyak Blabur erat ceritanya dengan sejarah Kabupaten Banyumas. Setelah 451 tahun berdirinya Banyumas, cerita sejarah Raden Kamandaka masih berkembang bahkan terus diteliti. Salah satunya cerita yang berkembang di wilayah Desa Tamansari, Banyumas.

Desa Tamansari, terletak di Kecamatan Karanglewas, Banyumas menjadi salah satu tempat sejarah hidup dan berdirinya Kerajaan Pasir Luhur. Hingga kini, situs warisan budaya yang dimiliki desa tersebut dikembangkan menjadi wisata budaya dan religi yang kaya akan sejarah.

Menurut cerita Juru Kunci Petilasan Carangandul, Desa Tamansari merupakan toponim Mandalagiri yang dibawahnya merupakan alun-alun Pasirluhur. Mandhala dalam bahasa jawa kuno sering disebut sebagai keliling, lingkungan atau daerah, sedangkan Giri dalam bahasa Jawa adalah Gunung. Mandhala Giri merupakan kawasan suci yang disucikan sebagai tempat bertapa (Mardiwarsito, 1979: 341).

Selain terkenal dengan toponim Mandalagiri beberapa situs purbakala dan hasil penemuan peninggalan sejarah menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki Desa Tamansari. Berikut beberapa mitos, peninggalan, dan kekayaan desa Tamansari :

Petilasan Carangandul dan Putri Bungsu Ciptarasa

Desa Tamansari terkenal dengan adanya Situs Carangandul. Situs Carangandul merupakan tempat sakral, yang dipercaya sebagai tempat warga berdoa dan meminta keinginan mereka terkabul dengan keyakinan kepada Allah. Beberapa warga bahkan membuktikan bahwa keinginan mereka dapat terkabul setelah berdoa di Situs Carangandul.

Dokumentasi : Pribadi / Petilasan Carangandul

Situs Carangandul memiliki dua versi cerita yaitu; memandang bahwa patung tersebut adalah kepala babi atau kepala Carangandul. Patih Carangandul dikenal oleh masyarakat sebagai orang sakti yang memiliki ilmu rawa rontek yang tidak bisa dibunuh. Untuk membunuhnya kepala dan badan harus dipisahkan. Saat ia terbunuh kepalanya ditempatkan di Tamansari dan badannya ditanam di Pasir Batang.

Versi kedua, menyatakan bahwa batu itu merupakan penjelmaan atau simbol Lutung Kasarung. Jika batu itu diamati, batu itu tampak berbentuk seekor monyet yang sedang menelungkupkan diri dengan posisi kepalanya di depan, pada bagian tengah terdapat lubang dan yang paling belakang tampak ekor yang menggulung.

Selain adanya situs sakral Carangandul, Desa Tamansari memiliki arca dari kuningan dengan ukuran 7,5 cm yang menjadi simbol Putri Bungsu Ciptarasa. Arca tersebut menggambarkan sosok Putri Bungsu Ciptarasa yang dilukiskan sebagai perempuan cantik, memiliki pipi yang tembem, badan langsing namun memiliki betis yang besar.

Dari Arca Ciptarasa inilah terbentuk gambaran masyarakat Tamansari yang memiliki wajah cantik namun berciri betis yang cenderung besar. Sosok Ciptarasa pada arca ini juga diterapkan pada Batik khas Tamansari, yaitu Batik Pola Ciptarasa yang juga menjadi salah satu varian batik Banyumasan. Anda dapat membeli batik Ciptarasa ini sebagai salah satu cinderamata khas desa Tamansari. Batik ini diproduksi oleh warga Desa Tamansari secara langsung dan berkembang sebagai UMKM warga.

Tradisi Membaca Babad Pasir Luhur dan Macapatan

Tradisi membaca naskah Babad Pasirluhur disertai dengan menembangkan atau menyanyikan lagu Macapat masih secara rutin dilakukan masyarakat Tamansari. Biasanya tradisi ini dilakukan pada acara daur hidup seperti ngapati atau empat bulanan, mitoni atau tujuh bulanan, dan hajatan atau hari-hari tertentu. Pembacaan Babad Pasir Luhur tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, hal ini karena sudah menjadi tradisi Babad Pasir Luhur harus dibaca hingga selesai atau minimal satu pupuh.

Jika tradisi ini diabaikan, masyarakat percaya akan didatangi Harimau penunggu petilasan atau biasa disebut warga sebagai Maung. Pembacaan dan penyalinan naskah yang terbatas oleh orang tertentu membuat Babad Pasir Luhur kurang dikenal secara luas. Berbeda dengan Babad Banyumas yang dapat dikembangkan dengan variasi penulisnya.

Selain kepercayaan adanya Maung, warga Tamansari juga percaya bahwa jika melakukan hal yang tidak baik, maka akan didatangi kuda penjaga. Kuda-kuda itu adalah Kuda Hitam Menges yang dipercaya sebagai kuda legendaris milik Adipati Kandadaha. Selain itu juga adanya kepercayaan penampakan kuda Dawuk Mruyung milik Adipati Mruyung atau Panembahan Kertalangu.

Hal ini juga seiringan dengan dilarangnya warga Tamansari memelihara kuda dengan jenis hitam menges dan dawuk mruyung. Karena dipercaya kedua kuda tersebut adalah simbol status sosial Kerajaan yang tidak boleh disamakan dengan warga. Kuda-kuda ini dipercaya masih sering terdengar derapan langkahnya, dan menjadi penjaga di Petilasan Carangandul dari orang-orang yang berniat buruk.

Wadas Tinumpuk

Selain adanya Petilasan Carangandul yang menjadi ikon Desa Tamansari. Terdapat juga wisata Wadas Tinumpuk, Gegerbohe, Kali Miring dan Kali Papag. Wadas Tinumpuk atau Watu Tumpuk merupakan sebuah dinding tebing batu/cadas dengan kondisi batuan bertumpuk. Wadas Tinumpuk juga tampak seperti batu yang membentuk selendang atau ribuan kain yang ditumpuk.

Berdasarkan cerita Juru Kunci Petilasan Carangandul, asal mula Wadas Tinumpuk merupakan tempat pertemuan pasukan Nusakambangan Pule Bahas yang akan meminang Ciptarasa dan pasukan Pasir Luhur. Dengan membawa syarat yang telah ditentukan yaitu 1000 kodi kain mori atau 20.000 lembar kain mori. Tempat pertemuan kedua pasukan ini diberi nama Kali Papag yang artinya sungai tempat bertemu.

Saat kedua pasukan bertemu Ciptarasa yang membawa Lutung Kasarung yang merupakan jelmaan dari Raden Kamandaka, lalu menyerang Pule Bahas dan pasukannya hingga semuanya tunggang langgang kewalahan. Tempat terjadinya penyerangan ini biasa dikenal dengan Gegerbohe.

Setelah kematian Pule Bahas dan terkalahkannya pasukan Nusakambangan, membuat semua harta benda yang mereka bawa untuk meminang Ciptarasa dibiarkan begitu saja. Hal itulah yang dipercaya menjadikan beribu kain yang dibawa Pule Bahas menjadi Wadas Tinumpuk yang indah dipandang.

Lalu Desa Tamansari memiliki toponim Kandanghaur atau Jurangbahas berkaitan dengan peristiwa Nusakambangan menyerang Pasir Luhur sebagai balas dendam atas kematian Pulebahas. Kandanghaur sama dengan Kutha ori yaitu tempat yang diselubungi benteng bambu sebagai benteng pertahanan. Jurangbahas berasal dari salah seorang nama adik Pulebahas yang dalam peperangan Jurangbahas terbunuh oleh Banyak Catra dengan Parung Bahas oleh Gagak Ngampar.

Berbagai macam cerita yang menjadi sejarah asal usul Banyumas berkembang dan dilestarikan di Desa Tamansari. Selain menyajikan wisata sejarah Desa Tamansari juga memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tertarik menelusuri wisata sejarah yang kaya akan nilai budaya? Yuk rencanakan kunjungan ke Desa Wisata Budaya Tamansari, Banyumas.

Namun perlu diingat, saat berkunjung Desa Tamansari pastikan niat anda benar dan tidak lupa taati protokol kesehatan. Terapkan aturan 6M supaya anda bisa berwisata budaya dengan aman dan nyaman.