Dari Bantuan Infrastruktur Menuju Ketahanan Air Pertanian

Dosen di Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kharistya Amaru tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pompa, pipa, embung, dan saluran irigasi memang penting. Namun ketahanan air tidak selesai ketika infrastruktur dibangun. Tantangan sebenarnya adalah memastikan air sampai ke lahan, fasilitas tetap berfungsi, dan petani mampu mempertahankannya ketika kemarau berikutnya datang.
Pada dua tulisan sebelumnya kita melihat dua sisi persoalan. El Niño dapat memperbesar tekanan terhadap ketersediaan air, sementara di lapangan persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar mencari pompa.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Mungkin kita perlu mengubah pertanyaannya. Bukan lagi “berapa banyak bantuan yang sudah diberikan?”, tetapi “berapa luas lahan yang sekarang lebih tahan menghadapi kekeringan?”
Perubahan kecil dalam pertanyaan ini dapat mengubah cara kita merencanakan air pertanian.
Ketahanan Air Dimulai dari Peta
Ketika El Niño sudah terjadi, mencari lokasi yang membutuhkan pompa sebenarnya agak terlambat. Kita seharusnya sudah mengetahui lahan mana yang akan mengalami masalah sebelum kemarau mencapai puncaknya.
Caranya tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit.
Basisnya justru data sederhana mengenai kelompok tani:
• di mana poligon hamparannya;
• berapa luas lahannya;
• dari mana sumber airnya;
• apakah mendapat pelayanan irigasi;
• bagaimana Indeks Pertanamannya;
• dan bagaimana kondisi air ketika kemarau.
Informasi tersebut kemudian dapat dihubungkan dengan jaringan irigasi, sungai, embung, topografi, curah hujan hingga citra satelit.
Hasil akhirnya dapat berupa peta kerentanan air pertanian.
Secara sederhana, hamparan dapat dikelompokkan menjadi wilayah relatif aman, rentan, dan kritis terhadap kekurangan air.
Dengan cara ini, pemerintah tidak perlu menunggu semua poktan mengajukan kebutuhan ketika kekeringan sudah terjadi.
Kita bergerak dari respons terhadap krisis menuju antisipasi.
Teknologi Harus Mengikuti Masalah
Peta kemudian membantu menjawab pertanyaan berikutnya: teknologi apa yang dibutuhkan?
Tidak semua lokasi kekurangan air membutuhkan pompa.
Jika sumber air berada lebih tinggi, jaringan perpipaan gravitasi mungkin lebih murah. Jika air melimpah ketika hujan tetapi menghilang saat kemarau, embung atau water harvesting lebih masuk akal.
Jika jaringan tersedia tetapi rusak, rehabilitasi saluran mungkin menjadi prioritas. Jika air tanah memungkinkan dimanfaatkan secara berkelanjutan, sumur dapat menjadi alternatif.
Karena itu, setidaknya lima hal perlu diketahui sebelum menentukan intervensi:
1. Di mana dan berapa luas lahan yang membutuhkan air?
2. Di mana sumber air pada musim kemarau?
3. Berapa air yang realistis tersedia?
4. Berapa biaya untuk membawanya ke lahan?
5. Siapa yang akan mengoperasikan dan memeliharanya?
Di sinilah tenaga ahli mempunyai peran penting.
Bukan sekadar membuat gambar teknis dan menghitung biaya setelah jenis bangunan ditentukan, tetapi mendiagnosis masalah, membandingkan alternatif, menghitung luas layanan, dan memilih solusi yang secara teknis sekaligus ekonomi dapat dipertahankan.
Teknologi terbaik tidak selalu yang paling canggih.
Sering kali teknologi terbaik adalah yang cukup efektif menyelesaikan masalah dan cukup sederhana untuk dipelihara petani.
Pemerintah sebagai Katalis, Poktan sebagai Pengelola
Kebutuhan infrastruktur air pertanian sangat besar. Sulit berharap seluruh jaringan dari sumber air sampai petakan terakhir dapat dibiayai pemerintah.
Karena itu, bantuan perlu ditempatkan sebagai katalis.
Pemerintah dapat menangani bagian yang membutuhkan investasi besar: pompa utama, bangunan pengambilan, jaringan utama, embung, sumur, atau rehabilitasi strategis.
Di tingkat lokal, poktan dapat mengambil peran melalui gotong royong, jaringan distribusi sederhana, iuran energi, jadwal pembagian air, dan pemeliharaan.
Ini bukan berarti tanggung jawab pemerintah dipindahkan kepada petani.
Justru yang dibangun adalah pembagian peran yang realistis.
Namun swadaya juga mempunyai batas. Ketika biaya bahan bakar, listrik, pupuk, tenaga kerja, dan sarana produksi terus meningkat, petani tidak mungkin dibebani sistem pengairan yang terlalu mahal.
Maka sebuah fasilitas air belum dapat disebut berhasil hanya karena secara teknis mampu mengalirkan air.
Ia harus layak dioperasikan secara ekonomi.
Inilah mengapa kelembagaan poktan sama pentingnya dengan mesin dan konstruksi. Infrastruktur dapat dibangun dalam beberapa bulan, tetapi kemampuan mengelolanya harus bertahan bertahun-tahun.
Ukur Hektarenya, Bukan Hanya Bangunannya
Pada akhirnya kita membutuhkan cara berbeda untuk mengukur keberhasilan.
Misalnya sebuah program menghasilkan sepuluh pompa dan beberapa kilometer pipa. Itu adalah output yang mudah dihitung.
Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:
Berapa hektare yang sebelumnya kekurangan air sekarang terlayani?
Kemudian lanjutkan:
Apakah musim tanam dapat dipertahankan? Apakah Indeks Pertanaman meningkat? Apakah biaya pengairannya masih masuk akal? Apakah fasilitas masih berfungsi beberapa tahun kemudian?
Dengan demikian, ukuran keberhasilan bergerak:
infrastruktur dibangun → air sampai → luas layanan bertambah → musim tanam terjaga → sistem mampu dipertahankan.
Di sinilah perbedaan antara proyek air dan ketahanan air.
El Niño pada akhirnya akan berlalu. Musim hujan akan kembali. Tetapi kemarau akan datang lagi, dan variabilitas iklim tetap menjadi bagian dari pertanian.
Karena itu, tujuan kita bukan membangun sistem yang hanya mampu menghadapi El Niño hari ini.
Tujuannya adalah membuat pertanian lebih siap menghadapi kemarau berikutnya tanpa selalu memulai dari keadaan darurat.
Kita mungkin tidak bisa memastikan hujan turun tepat ketika tanaman membutuhkannya. Tetapi kita bisa mengetahui di mana lahan berada, siapa yang paling rentan, dari mana air dapat diperoleh, teknologi apa yang tepat, dan bagaimana fasilitas itu dipertahankan.
Mungkin itulah makna ketahanan air pertanian yang sesungguhnya.
Bukan berapa banyak pompa yang kita miliki, tetapi seberapa luas pertanian yang tetap mampu berproduksi ketika hujan berhenti.
Menurut Anda, mana yang seharusnya lebih diprioritaskan: menambah infrastruktur baru atau memperkuat data dan kemampuan poktan mengelola fasilitas yang sudah ada?
Yuk, diskusi di kolom komentar.
