Menghadapi El Niño: Ketika Air Menentukan Masa Depan Sawah

Dosen di Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kharistya Amaru tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
El Niño 2026 datang ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Pemerintah merespons melalui pompanisasi dan penguatan irigasi. Namun bagi petani, persoalan sebenarnya bukan sekadar ada atau tidaknya pompa, melainkan apakah air masih tersedia dan dapat sampai ke sawah ketika tanaman membutuhkannya.
Sawah yang hijau hari ini belum tentu aman beberapa minggu ke depan. Ketika hujan berhenti, debit sungai mengecil dan pasokan irigasi berkurang, air perlahan menjadi faktor yang menentukan apakah petani bisa mempertahankan tanaman hingga panen—bahkan apakah musim tanam berikutnya berani dimulai.
Itulah tantangan pertanian ketika El Niño bertemu dengan puncak musim kemarau.
El Niño dan Kemarau Bukan Hal yang Sama
El Niño bukan nama lain dari musim kemarau. Keduanya merupakan fenomena berbeda, tetapi dapat bertemu dan memperkuat kondisi kering di Indonesia.
Pada akhir Juli 2026, BMKG menyatakan El Niño telah aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat, dengan risiko musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.
Situasinya perlu mendapat perhatian. Pemantauan BMKG pada Dasarian II Juli menunjukkan 509 Zona Musim atau sekitar 72,8% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah bahkan tercatat pada 92,93% wilayah yang dipantau.
BMKG sebelumnya juga memprakirakan puncak musim kemarau terjadi paling luas pada Agustus 2026, mencakup 369 Zona Musim atau sekitar 48,84% luas daratan Indonesia.
Dampaknya adalah resiko kekeringan akibat potensi hari tanpa hujan yang semakin panjang di berbagai daerah, ancaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan. Mitigasi air masyarakat perlu memperkuat cadangan air dan efisiensi penggunaan air bersih.
Bagi pertanian, angka-angka tersebut mempunyai arti sederhana: kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan hujan.
Sawah Ada, tetapi Apakah Air Sampai?
Indonesia memiliki jaringan irigasi, sungai, waduk, embung, mata air hingga potensi air tanah. Namun keberadaan sumber air tidak otomatis berarti setiap petak sawah mendapatkan air.
Di lapangan, kondisinya bisa sangat beragam.
Ada sawah yang memperoleh air relatif stabil. Ada yang harus bergiliran. Ada pula lahan di bagian hilir yang mulai kesulitan ketika debit saluran turun.
Karena itu, mungkin kita perlu mengubah pertanyaan.
Bukan hanya berapa hektare sawah yang tersedia, tetapi berapa hektare sawah yang masih dapat memperoleh air pada puncak kemarau?
Pertanyaan ini berkaitan dengan Indeks Pertanaman (IP), yaitu gambaran intensitas penggunaan lahan untuk budidaya dalam setahun.
Kekeringan tidak selalu berakhir dengan tanaman mati atau puso. Kerugian juga dapat terjadi lebih awal: petani memilih tidak menanam pada musim berikutnya karena tidak yakin air akan tersedia sampai panen.
Artinya, persoalan air bukan hanya menentukan hasil panen, tetapi juga menentukan berapa kali lahan dapat ditanami dalam setahun.
Ketika Air Harus “Dijemput”
Dalam banyak kasus, air sebenarnya masih tersedia. Persoalannya, air berada di tempat yang berbeda dengan lahan yang membutuhkannya.
Sungai mungkin berada beberapa ratus meter dari sawah. Sumber air berada lebih rendah daripada lahan. Atau jaringan irigasi utama tersedia, tetapi belum mampu menjangkau seluruh hamparan.
Air kemudian harus dijemput.
Di sinilah pompa, jaringan perpipaan, rehabilitasi saluran, sumur, embung, atau bangunan konservasi air menjadi penting.
Kementerian Pertanian pada tahun 2019 -2020 memfokuskan anggaran secara khusus pada optimalisasi pemanfaatan sumber air permukaan, kemudian dilanjutkan metode irigasi pompa dan jaringan irigasi tertutup (pipa) untuk mengurangi kehilangan air. Pada tahun 2024 program dinaikkan menjadi program Pompanisasi Nasional dan Optimasi Lahan Rawa dan Non Rawa.
Selanjutnya tahun 2025-2026 secara masiv melalui payung hukum Instruksi Presiden nomor 2 tahun 2025, pemerintah mengalirkan dana hingga triliunan rupiah untuk distribusi pompa dan rehabilitasi jaringan irigasi di belasan provinsi.
Hal ini bertujuan mempercepat tersedianya sarana prasarana irigasi sebagai langkah menghadapi El Niño dan menjaga musim tanam.
Namun satu hal perlu diingat:
pompa tidak menciptakan air. Pompa hanya memindahkan air yang memang tersedia.
Jika sungai sudah terlalu kecil debitnya, pompa besar sekalipun tidak banyak membantu. Jika sumber terlalu jauh atau terlalu rendah, biaya energi meningkat. Jika jaringan distribusinya tidak tersedia, air mungkin berhasil diangkat tetapi belum tentu sampai ke seluruh lahan.
Karena itu, teknologi harus mengikuti kondisi lapangan—bukan sebaliknya.
Dari Respons Darurat Menuju Ketahanan Air
El Niño seharusnya tidak hanya membuat kita bertanya berapa pompa yang tersedia.
Fenomena ini justru dapat menjadi uji ketahanan sistem air pertanian kita.
Apakah kita mengetahui lahan mana yang tidak memperoleh irigasi?
Berapa luasnya?
Dari mana sumber air alternatifnya?
Bagaimana Indeks Pertanamannya?
Dan teknologi apa yang paling masuk akal untuk membantunya?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut semakin penting karena kebutuhan petani sangat besar, sementara kemampuan pemerintah tentu tidak tanpa batas.
Maka keberhasilan menghadapi kemarau seharusnya tidak hanya dihitung dari jumlah pompa, panjang pipa, atau banyaknya bangunan yang dibuat.
Ukuran yang lebih bermakna adalah: berapa hektare lahan yang akhirnya mendapatkan akses air dan berapa musim tanam yang berhasil dipertahankan?
El Niño memang tidak bisa dihentikan. Hujan juga tidak dapat diperintahkan turun ketika sawah membutuhkannya.
Tetapi kita dapat mempersiapkan sistem pertanian agar tidak selalu panik ketika hujan berhenti.
Dan itu dimulai dari pertanyaan sederhana: ketika kemarau panjang datang, apakah kita benar-benar tahu sawah mana yang akan kehilangan air terlebih dahulu?
Bagaimana kondisi air pertanian di daerah Anda ketika kemarau? Apakah persoalannya sumber air, jaringan irigasi, biaya pompa, atau justru hal lain?
