Mengupas Komunikasi Visual dan Makna yang disajikan dalam Film Dua Garis Biru

Mahasiswa UAD
Tulisan dari Khasanah Nur Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seperti yang diketahui bahwasanya film merupakan salah satu sarana hiburan yang disukai oleh masyarakat secara luas baik di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini dapat dilihat dari antusias masyarakat tiap kali ada film yang rilis di bioskop menimbulkan keramaian hingga antrean panjang hanya untuk menonton film yang mereka anggap sangat menarik sebagai hiburan.
Film tidak hanya dibuat begitu saja, namun terdapat kisah, peristiwa, musik, dan teknis lainnya yang disajikan untuk masyarakat luas. Seperti yang kita tahu bahwasanya terdapat aspek penting yang menjadikan suatu film menjadi apik, yaitu gambar serta suara (dialog para pemeran) sebagai bentuk dari aspek visual. Pada sebuah film terdapat sistem semiotika yang amat penting, yaitu penggunaan tanda-tanda ikonis dengan tujuan mengilustrasikan sesuatu yang dipakai dalam film untuk memberikan sebuah pesan kepada penontonnya.
Film Dua Garis Biru merupakan salah satu karya yang memang memiliki keterkaitan erat dengan analisis semiotika. Hal ini dikarenakan film diproduksi dengan rangkaian tanda yang saling berkaitan dan bertujuan untuk penyampaian pesan serta reaksi penonton yang diharapkan.
Pada dasarnya, penonton akan mendapatkan makna film secara menyeluruh sehingga penonton melupakan detail-detail makna yang terkandung di dalam film itu sendiri. Padahal jika diamati dan diteliti dengan lebih saksama banyak makna konotasi serta denotasi yang menyertai. Selain semiotika, film ini mengandung banyak bentuk komunikasi visual sehingga terdapat makna yang disampaikan melalui gambaran tersembunyi di beberapa adegan film. Komunikasi visual sendiri merupakan cabang ilmu yang menggunakan beberapa elemen visual guna menyampaikan pesan agar dapat diterima oleh audiensi yang dituju.
Film Dua Garis Biru merupakan film yang memiliki tujuan audiensi dari kalangan remaja serta orang tua di Indonesia. Film ini digaet oleh sutradaraGina S. Noer dan diproduksi oleh Starvision dengan menggandeng aktor serta aktris papan atas Indonesia, seperti Angga Yunanda, Adhisty Zara, Lulu Tobing, dan Dwi Sasono. Pada awal kemunculannya, film ini dianggap tabu karena mengangkat kisah yang dinilai tidak baik bagi kaum remaja dan mendatangkan keresahan di kalangan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan masyarakat merasa takut film ini akan memengaruhi stigma remaja yang menganggap seks dan hamil di luar nikah merupakan suatu yang wajar.
Film ini mengisahkan percintaan dua orang remaja yakni Dara dan Bima. Pada awal kisah, diceritakan kisah percintaan mereka sangat bahagia dan indah layaknya kebanyakan kisah kasih di Sekolah Menengah Atas (SMA), namun rasa bahagia ini berubah menjadi keresahan saat Dara dinyatakan hamil. Keluarga pun merasa kecewa dan marah terhadap perbuatan Dara dan Bima. Akibat perbuatannya, mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan tersebut. Makna menyeluruh dari film ini adalah hamil di luar nikah pada usia muda dapat menyebabkan berbagai risiko kesehatan fisik dan mental bagi anak-anak di bawah umur. Orang tua yang belum cukup umur akan mengalami banyak gangguan dikarenakan usia mental mereka yang belum cukup kuat. Selain itu, pada usia belia masih banyak hal lain yang harus dipertimbangkan, seperti pendidikan dan karier.
Berikut adalah komunikasi visual yang saya temukan pada film Dua Garis Biru:
Kerang
Pada film ini terdapat scene Bima dan Dara yang tengah memakan seafood bersama teman-temannya. Kemudian terdapat scene Dara yang terlihat sangat mual dikarenakan memakan kerang. Kerang tersebut dinilai tidak segar oleh Dara namun nyatanya Bima menyatakan bahwa dia suka memakan kerang yang sudah tidak segar. Dalam scene ini terdapat komunikasi visual yang hendak disampaikan, pasalnya ada mitos yang menyatakan bahwa kerang diibaratkan sebagai hal yang lain dan Bima suka kerang yang sudah tidak segar (terbuka) yakni Dara.
Stroberi yang tengah diblender
Sebelum scene stroberi terdapat potongan adegan yang menunjukkan situs searching Google yang dibuka oleh Dara bahwa usia kandungannya sudah sebesar buah stroberi, maka saat dia hendak menggugurkan kandungannya dan kemudian melihat sebuah stroberi tengah diblender dia merasa ketakutan. Komunikasi visual yang hendak diberikan kepada penonton di dalam scene ini merupakan Dara yang memutuskan untuk tidak jadi menggugurkan kandungannya karena melihat stroberi yang diblender hingga remuk dan hancur tersebut menggambarkan apa yang akan dialami oleh janin di dalam kandungan Dara.
Poster Reproduksi
Pada saat scene di Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) ditunjukkan pertama kali orang tua Dara mengetahui bahwa Dara hamil. Kebanyakan penonton akan menyangka poster yang ditempel hanya sebuah kebetulan belaka. Padahal komunikasi visual yang hendak disampaikan adalah saat SMA sudah dipelajari mengenai reproduksi serta bahaya seks di luar nikah bagi usia dini, seharusnya Dara dan Bima (kaum remaja) bisa lebih memahami terkait bahaya yang sudah mereka pelajari, sehingga tidak merugikan diri mereka.
Lorong gelap
Pada saat scene Dara tengah melihat lorong yang gelap, di sini terdapat sebuah komunikasi visual yang hendak disampaikan, yakni lorong tersebut menggambarkan Dara yang tengah melihat masa depannya yang seolah-olah berubah seketika menjadi gelap karena kecerobohannya. Hal ini menyebabkan cita-cita dan masa depan Dara yang akhirnya menjadi terbelenggu.
Poin-poin di atas merupakan komunikasi visual yang saya analisis dalam film ini. Ternyata jika kita lebih teliti detail-detail dalam sebuah film terdapat banyak tersimpan komunikasi visual yang hendak disampaikan melalui berbagai ilustrasi yang dikemas secara baik dan sistematis. Adanya komunikasi visual yang baik dapat menjadi sebuah nilai tambah bagi film tersebut.
Di dalam film Dua Garis Biru, komunikasi visual yang saya uraikan di atas menambah banyak detail makna yang dapat disampaikan kepada penonton dengan apik dan menjadi nilai tambah bagi film tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak hanya terdapat makna keseluruhan film yang bermakna, namun terdapat pula detail-detail komunikasi visual yang memberikan makna dan pengetahuan lebih bagi para penontonnya.
