Membaca Fiksi Bukan Aktivitas Sia-Sia

Mahasiswa Matematika Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Khasna Nurul Fai'koh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan, media sosial ramai oleh pernyataan yang menyebut membaca buku fiksi sebagai aktivitas yang tidak bermanfaat. Unggahan semacam ini dengan cepat memicu perdebatan, terutama di kalangan pembaca novel dan pegiat literasi. Sayangnya, diskursus tersebut kerap berhenti pada dikotomi dangkal antara bacaan “berguna” dan “tidak berguna”, tanpa memahami fungsi literasi secara lebih utuh dan mendalam.
Narasi bahwa fiksi tidak bernilai umumnya berangkat dari definisi produktivitas yang sempit. Produktif sering dimaknai sebagai aktivitas yang secara langsung menghasilkan keterampilan teknis, sertifikat, atau nilai ekonomi yang cepat terlihat. Dalam kerangka berpikir seperti ini, membaca novel memang tampak tidak efisien. Namun, jika produktivitas dipahami sebagai proses pembentukan cara berpikir, kepekaan bahasa, dan kemampuan memahami manusia lain, maka fiksi justru memegang peran yang krusial.
Membaca fiksi bukan aktivitas pasif. Pembaca terlibat dalam proses kognitif yang kompleks: menyusun hubungan sebab-akibat dalam alur cerita, menafsirkan konflik, memahami motif tokoh, serta menangkap makna yang sering kali tidak disampaikan secara eksplisit. Proses ini selaras dengan teori konstruktivisme dalam psikologi pendidikan yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh individu. Dalam konteks ini, fiksi menjadi ruang latihan berpikir kritis yang tidak kalah menantang dibandingkan bacaan ilmiah.
Selain aspek kognitif, fiksi memiliki kontribusi penting dalam pengembangan empati. Berbagai studi psikologi sastra menunjukkan bahwa pembaca fiksi memiliki kemampuan theory of mind yang lebih baik, yaitu kemampuan memahami sudut pandang, emosi, dan niat orang lain. Dengan mengikuti pengalaman tokoh dari beragam latar sosial dan emosional, pembaca dilatih untuk keluar dari perspektifnya sendiri. Di tengah iklim digital yang kerap memperkuat polarisasi opini, kemampuan ini menjadi semakin relevan.
Dari sisi bahasa, fiksi memperkaya kosakata dan struktur berpikir naratif. Tidak sedikit penulis, jurnalis, dan akademisi yang mengakui bahwa kebiasaan membaca fiksi membantu mereka menulis lebih jernih dan komunikatif. Argumentasi yang kuat tidak hanya bergantung pada data, tetapi juga pada kemampuan menyusun alur logika dan menyampaikan gagasan secara efektif—keterampilan yang banyak diasah melalui bacaan fiksi.
Penting untuk digarisbawahi bahwa persoalan utama bukan terletak pada jenis bacaan, melainkan pada cara membaca. Fiksi yang dibaca tanpa refleksi memang bisa menjadi sekadar pelarian, tetapi hal yang sama juga berlaku pada nonfiksi yang dibaca secara mekanis tanpa pemahaman kritis. Membenturkan fiksi dan nonfiksi dalam hierarki nilai justru mencerminkan cara pandang literasi yang reduktif. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi.
Di era ketika kemampuan teknis sering diagungkan, ada risiko mengabaikan keterampilan manusiawi yang menjadi fondasi kehidupan sosial: empati, imajinasi, dan pemahaman akan kompleksitas manusia. Fiksi tidak selalu mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi melatih bagaimana cara berpikir. Manfaatnya mungkin tidak selalu instan, tetapi dampaknya bersifat jangka panjang dan mendalam.
Menyebut membaca fiksi sebagai aktivitas yang tidak bermanfaat bukan hanya keliru, tetapi juga berpotensi melemahkan upaya peningkatan literasi secara menyeluruh. Jika tujuan literasi adalah membentuk individu yang kritis, reflektif, dan mampu memahami perbedaan, maka membaca fiksi bukanlah kegiatan sia-sia, melainkan bagian penting dari proses tersebut.
