Meningkatkan Pendapatan Desa Lewat Eco-enzyme: Edukasi Pemasaran KKN-T 28 UNDIP

Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Khayla Iris Ariefianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Klaten - Produk pembersih dan perawatan diri berbahan kimia masih mendominasi pasar karena strategi pemasaran yang kuat dan jangkauan distribusi yang luas. Melihat peluang tersebut, Tim 28 KKN-T Universitas Diponegoro (Undip) memberikan edukasi kepada kelompok TPPKK Desa Pugeran mengenai strategi pemasaran produk turunan eco-enzyme agar mampu bersaing dengan produk komersial sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.
Salah satu upaya untuk meningkatkan daya tarik dan kepercayaan konsumen terhadap suatu produk adalah melalui penggunaan label kemasan yang informatif dan tertata dengan baik. Label kemasan tidak hanya berfungsi sebagai identitas produk, tetapi juga sebagai media penyampaian informasi penting kepada konsumen. Informasi yang wajib dicantumkan pada label kemasan meliputi nama produk, isi bersih, cara penggunaan, cara penyimpanan, tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, serta nama dan alamat produsen.
Membuat kemasan produk yang menarik juga menjadi strategi dalam membangun branding produk berbasis eco-enzyme. Kemasan produk tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk tetapi dapat digunakan sebagai ciri khas suatu produk yang dijualkan, seperti mencantumkan label kemasan yang berisi informasi produk. Desain kemasan yang informatif dan menarik dapat berperan dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap produk dan mendorong untuk melakukan pembelian secara keberlanjutan. Pada kegiatan ini, KKN-T Tim 28 Undip 2026 memberikan edukasi mengenai pengemasan produk dalam bentuk botol yang telah diberikan label kemasan berisi informasi produk detergen berbasis eco-enzyme.
Edukasi penjualan produk turunan eco-enzyme melalui penjualan offline di lingkungan desa. Strategi pemasaran offline dilakukan melalui tiga pendekatan utama untuk memperluas pasar produk eco-enzyme secara efektif di tingkat lokal. Pertama, penjualan langsung dilakukan melalui gerai mandiri atau posko untuk berinteraksi langsung dengan konsumen sekaligus memberikan edukasi mengenai keunggulan produk. Kedua, diterapkan sistem reselling ke warung-warung mitra melalui skema harga grosir guna mempercepat perputaran stok di berbagai titik desa. Ketiga, untuk menurunkan hambatan bagi mitra baru, digunakan sistem titip jual dengan mekanisme bagi hasil, sehingga pemilik warung dapat memasarkan produk tanpa risiko modal awal sekaligus memberikan insentif ekonomi yang menarik bagi keberlanjutan kemitraan.
Upaya edukasi pembuatan daftar produk oleh Tim 28 KKN-T Undip ditujukan agar infomasi yang ada pada produk dapat terkemas secara singkat namun jelas dan lengkap. Kegiatan ini mencakup pengambilan foto produk secara langsung, penentuan nama produk, serta penyesuaian harga yang sesuai dengan nilai produksi dan daya beli. Produk yang dikatalogkan meliputi sabun cair eco-enzyme, sampo eco-enzyme, dan deterjen eco-enzyme, yang seluruhnya berbahan dasar hasil fermentasi limbah organik rumah tangga. Penyusunan katalog dilakukan dengan bahasa sederhana dengan informasi produk yang dikemas singkat dan jelas agar dapat dipahami oleh seluruh khalayak umum. Melalui katalog ini, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada produk yang dihasilkan, tetapi juga didorong untuk memahami potensi ekonomi dari inovasi eco-enzyme sebagai usaha berkelanjutan di tingkat desa.
Memaksimalkan pemasaran secara daring perlu diberlakukannya pembuatan pemantauan yang dapat dipantau kapan saja dan dengan mudah namun desainnya dapat menarik khalayak umum maka, Tim KKNT 28 turut memberikan edukasi dengan pembuatan Linktree yang dapat terpaut pada beberapa media sosial seperti Instagram, WhatsApp, Facebook, dan juga Twitter yang akan dijadikan sebagai pusat penghubung informasi pada beberapa media terkait. Penggunaan pemasaran seperti ini dapat mempermudah dan menjangkau ke jaringan yang lebih luas dalam penjualan yang dapat diberlakukan secara mudah oleh warga Desa Pugeran. Strategi ini menjadi langkah nyata dalam mendukung peningkatan pendapatan desa melalui inovasi produk ramah lingkungan yang dipadukan dengan pemanfaatan teknologi digital secara efektif.
Memaksimalkan media digital, Tim KKN-T 28 turut memberikan edukasi terkait pemanfaatan aplikasi WhatsApp untuk memasarkan produk. Dimulai dari langkah sederhana seperti membagikan informasi produk ke grup warga hingga status WhatsApp. Para warga tidak merasa kesulitan dalam merealisasikannya karena penggunaan aplikasi WhatsApp sudah cukup sering digunakan dalam komunikasi warga desa.
Selain WhatsApp, edukasi media digital seperti pemanfaatan aplikasi TikTok sebagai upaya mendorong literasi ekonomi digital masyarakat. Mengenalkan cara memanfaatkan Tiktok Shop Affiliate sebagai peluang tambahan penghasilan, mulai dari pendaftaran akun hingga pencairan komisi. Melalui media visual yang sederhana dan mudah dipahami, ibu-ibu diharapkan mampu memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dengan modal minimal.
Pengenalan mengenai standarisasi kelayakan produk yang siap dipasarkan dengan memperhatikan beberapa aspek utama, seperti tingkat kekentalan cairan, aroma, warna, serta cara penyimpanan yang tepat guna menjaga kualitas produk. Standarisasi tersebut dipahami sebagai acuan agar produk yang dihasilkan memiliki mutu yang konsisten dan layak diterima oleh konsumen. Selain itu, dipaparkan pengenalan struktur usaha sebagai dasar pengembangan produk, yang mencakup pembagian peran dalam produksi, pengemasan, dan administrasi. Pada aspek pemasaran, dijelaskan sistem pendukung baik secara daring maupun luring, meliputi pencatatan lokasi dan hasil penjualan, data pembeli atau mitra, serta kerja sama usaha, disertai pengelolaan media sosial, penjadwalan promosi, dan pencatatan pesanan.
Dalam produksi deterjen cair berbasis eco-enzyme, pemasaran berperan penting untuk menjaga keberlanjutan usaha. Strategi yang diterapkan meliputi perhitungan modal produksi, penentuan harga jual, dan pengelolaan keuangan secara sederhana dan teratur. Modal produksi dihitung dari seluruh biaya bahan baku serta pengemasan, yang kemudian digunakan untuk menentukan harga pokok produksi sebagai dasar penetapan harga jual dengan mempertimbangkan keuntungan yang wajar. Untuk mendukung pengelolaan usaha, digunakan aplikasi pencatatan keuangan yang berfungsi mencatat modal, penjualan, serta pemasukan dan pengeluaran harian. Penggunaan aplikasi ini memudahkan pemantauan keuangan dan membantu perencanaan produksi serta pemasaran produk eco-enzyme ke depannya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan berbagai teknik pemasaran, mulai dari pengemasan produk yang menarik, penentuan harga yang kompetitif, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Produk turunan eco-enzyme yang dihasilkan warga diharapkan tidak hanya menjadi alternatif ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai jual yang mampu memperkuat ekonomi keluarga dan masyarakat desa.
