Mitos atau Fakta: Apakah Gen Z ‘Malas’ dalam Dunia Kerja?
Tulisan dari Khayla Syakirah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapakah Generasi Z? Gen Z merupakan generasi yang lahir pada tahun 1996-2012 yang sering disebut sebagai generasi yang dibesarkan dengan teknologi yang sudah ada. Mengapa demikian? Karena mereka lahir disaat teknologi kian semakin pesat. Bahkan mereka cenderung lebih cepat beradaptasi dengan teknologi, dibanding generasi-generasi sebelumnya. Biasanya Gen Z lebih suka berkomunikasi melalui media sosial seperti Instagram, twitter, whatsapp, dan aplikasi sosial media lainnya.

Lalu adakah hubungan dengan Strawberry Generation? Strawberry Generation atau biasa disebut “Generasi Stroberi” merupakan julukan generasi muda saat ini yang menggambarkan generasi kreatif, namun sangat disayangkan mudah menyerah begitu saja. Layaknya seperti analogi “buah stroberi” merah dan gampang mengekrut.
Awal mula generasi strawberry digunakan pertama kali di Taiwan sekitar tahun 2007 dan merujuk pada generasi yang lahir setelah tahun 1981. Menurut Prof. Rhenald Kasali yang menulis buku berjudul Strawberry Generation, orang-orang generasi stroberi penuh dengan gagasan kreatif, tetapi mudah menyerah dan sakit hati. Hal ini bisa disebabkan karena pola didik orang tua yang tidak bisa “keras” lantaran anak bisa merasa disakiti sehingga cenderung membantah orang tuanya.
Generasi stoberi ingin mencapai kesuksesan dengan mudah tanpa adanya semangat dan kerja keras untuk proses yang lebih baik. Padahal, yang kita tahu ketika ingin mencapai kesuksesan itu harus ada semangat dan kerja keras.
Bukankah begitu? Setiap kita ingin sukses pasti harus ada kerja keras terlebih dahulu. Menurut Noreena Hertz, ekonom dan penulis Inggris, mewawancarai 2.000 Gen Z dalam 18 bulan dan menemukan bahwa generasi ini cenderung mengalami rasa cemas, takut, dan lelah yang lebih dibandingkan generasi-generasi sebelum mereka.
Seperti yang kita tahu, generasi stoberi mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan media sosial. Itu karena mereka tumbuh dengan teknologi yang semakin pesat. Yang menyebabkan Gen Z memiliki karakteristik berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih sering menghabiskan banyak waktu di media sosial dan mereka menggunakan media sosial sebagai panggung di mana mereka memainkan peran yang diinginkan, secara media sosial adalah sahabat mereka. Bahkan 58% Gen Z sangat menggunakan sosial media, menghabiskan lebih dari satu jam waktunya untuk bermain media sosial setiap hari.
Akhir-akhir ini sedang ramai di media sosial, khusunya media twitter. Gen Z dinilai memiliki etos kerja lebih rendah dan dianggap malas bekerja. Banyak yang menilai gen Z lebih malas dibandingkan generasi-generasi yang sebelumnya. Pro kontra terkait dalam hal tersebut menjadi perdebatan.
Adapun beberapa perdebatan terkait gen Z di media sosial twitter, yang sekarang sudah dihapus oleh pengunggah tersebut :
"Bnrn relate sm kata bang @oza******** gen z ini lembek bgt klo kerja. Jgnkan kerja bang, tmn2 gue msh pada magang aja ngeluh mulu pada pake koyo di jidat, bolak-balik rs dan blg 'katanya gue gabs dah kerja kantoran'," tulis akun @kin*******, Selasa (3/10/2023). Sayangnya, dari pantauan Kompas.com, Rabu (4/10/2023), twit tersebut telah dihapus oleh pengunggah.
"Gw sebagai milenial malah lebih suka anak buah gen z, soalnya direct dan tau apa yg dimau, ga plintat plintut unggah ungguh k***** kuda," ucap warganet @str***********. Perlu diketahui, gen Z adalah mereka yang lahir pada 1997-2012 atau berusia antara 11-26 tahun pada 2023. Sementara gen Y atau Milenial merupakan kelahiran 1981-1996 dan berusia antara 27-42 tahun pada 2021.
Lalu benarkah Gen Z malas bekerja?
Kenapa Gen Z sering dianggap pemalas bekerja? Tahukah kamu Generasi Z sering dianggap malas karena beberapa alasan. Generasi Z sering dianggap pemalas karena beberapa karakteristik yang sering dikaitkan dengan mereka. Kita sudah tahu generasi ini lahir dan tumbuh di era teknologi yang pesat. Maka dari itu mereka mengandalkan teknologi untuk komunikasi dan peka terhadap kecemasan.
Menurut studi tahun 2022 oleh Deloitte, sebagian Gen Z memilih tempat kerja berdasarkan keseimbangan kerja/hidup yang baik, kesempatan belajar dan berkembang, dan gaji yang bagus. Selain itu, survei CareerBuilder 2021 menunjukkan bahwa Gen Z cenderung berpindah kerja dan menghabiskan rata-rata dua tahun tiga bulan dalam satu posisi, durasi yang singkat dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Meskipun 32% menyatakan bahwa Gen Z adalah generasi pekerja keras. Namun 36% lainnya percaya bahwa generasi yang susah dapat pekerjaan.
Sebenarnya banyak perusahaan memahami kebutuhan dari generasi ini karena Gen Z memiliki potensi besar. Apalagi generasi ini kreatif. Tidak semua Gen Z pemalas, hanya saja semua tergantung dari orang tersebut ingin berusaha atau hanya ingin yang instan saja.
Saya sebagai penulis mengakui bahwa Gen Z disebut sebagai generasi mudah menyerah, pemalas, dan gampang sakit hati. Mereka selalu terpaku sama zona nyaman hingga takut menghadapi tantangan. Walaupun generasi ini mempunyai ide dan kreatifitas yang tinggi. Tapi banyak faktor lain yang membuat generasi ini selalu dijuluki sebagai “strawberry generation”. Meskipun Generasi Z mudah menyerah, penting untuk memahami alasan di balik perilaku ini dan mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut.

