80 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Masih Pantaskah Kita Mencintai Indonesia?

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Assyifa Uzzahro Khoerunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rasanya, sulit mencintai negeri ini di tengah beragam problematika yang mengombak tinggi. Lantas, haruskah kita berhenti atau kita lanjutkan perjuangannya?
"Jangan berhenti mencintai Indonesia dan rakyatnya,” ujar seorang tokoh intelektual yang pernah berada dalam barisan birokrat kepada sahabatnya, seorang negarawan yang mendapat abolisi atas kasus impor gula yang menimpanya. Pada saat hari pembebasannya, negarawan sejati itu mengindahkan pesan sahabatnya, “Saya masih sangat amat percaya pada negeri ini, pada bangsa Indonesia yang dari dulu saya percaya adalah bangsa terbaik di dunia. Saya masih sangat amat mencintai republik ini.”
Mungkin begitu bentuk kesempurnaan cinta. Memilih untuk tetap mencintai meski jalannya sulit, meski mengecewakan, meski kadang bertepuk sebelah tangan atau bahkan dipaksa untuk merelakan. Lagipula, cinta sejati mana yang tidak menemui perjuangan dalam perjalanannya?
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak"
-Taufiq Ismail, dalam puisinya, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.”
Indonesia dengan segala dinamikanya, mungkin tak selalu ideal untuk setiap masyarakatnya, bahkan termasuk untuk loyalisnya. Para penegak hukum yang kehilangan marwah keadilannya seringkali mencederai tujuan negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darahnya. Para pemimpin dengan noda hitam pada niat dan tanggung jawabnya banyak yang menodai sucinya visi dan konstitusi Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Merekalah yang harus dipukul mundur oleh kekuatan integritas dari setiap birokrat yang mewarisi jiwa nasionalis. Merekalah yang harus menjadi generasi terakhir yang membuat pedih Ibu Pertiwi dan harus digantikan oleh tunas-tunas negarawan yang saat ini sedang berjuang untuk mencintai Indonesia dengan segala problematika yang mengemuka.
Masih Pantaskah Kita Mencintai Indonesia?
Sebelumnya, mari kita harmonisasikan konteks ‘Indonesia’ dalam perjalanan cinta ini. Indonesia adalah negara dengan lebih dari 17.500 pulau yang paling indah di dunia, memberi kita sumber daya penghidupan yang melimpah dari darat hingga laut di dalamnya. Indonesia adalah negara multietnis dan multikultural, tercermin dalam setiap sikap ramah, guyub, gotong royong dan humanis, tidak termasuk jiwa-jiwa yang anarkis, bergerak sendiri dengan egosentris. Indonesia menjelma menjadi insan-insan berprestasi yang berjuang untuk merawat kemerdekaan melalui perjuangan memerdekakan dirinya dari kebodohan dan ketidakberdayaan. Indonesia adalah negara yang sangat kuat, berwujud jiwa-jiwa tangguh yang terus bekerja keras, bukan yang ingin pentas dengan jalan pintas atau teriak menuntut paling keras sebelum bekerja keras. Indonesia adalah negara kesatuan, di dalamnya tidak termasuk pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang ingin memecah belah bangsa melalui adu domba dan berita-berita bohong.
Indonesia, dengan segala kekayaan sumber daya alam dan manusianya, dengan segala kekuatan dan posisi strategis dalam kaca mata global, akan terus suci, akan terus pantas untuk dicintai. Kita harus akui bahwa kita hidup di negeri ini, telah banyak menikmati kekayaan Ibu Pertiwi. Dari air bersih yang kita minum, dari keindahan alam yang kita nikmati, dari bahan-bahan makanan yang kita makan setiap hari. Kita masih terus menikmati berbagai fasilitas dari negara yang telah membantu mengantarkan kita pada mimpi kita. Semuanya dari warisan kekayaan Ibu Pertiwi untuk kita.
Yang tidak pantas kita cintai adalah mereka-mereka yang hidup bersama keserakahan dan keangkuhan, merenggut hak orang lain untuk sama-sama menikmati warisan negeri. Mereka tak seharusnya menjadi bagian dari identitas bangsa, sehingga rotasi dan revolusi kepemimpinan diperlukan untuk menumpas benalu-benalu bangsa dan menggantikannya dengan insan-insan nasionalis yang berintegritas dan paham bagaimana mencintai negeri ini dengan cara terbaiknya.
Mencintai Indonesia dalam Situasi Saat Ini Terasa Lebih Sulit. Lantas, Bagaimana Lagi Cara Mencintainya?
“Kejahatan akan menang bila orang yang benar tidak melakukan apa-apa.”
— Jenderal Sudirman.
Barangkali diamnya kita terhadap kejahatan dan segala bentuk penyimpangan dari orang-orang di sekeliling kita adalah bentuk kejahatan kita sendiri terhadap bangsa ini. Jika diam adalah bentuk tertinggi dari ketidakpedulian, maka kritiklah secara habis-habisan dengan cara yang benar untuk setiap tindak tutur yang mendzalimi anak-anak Ibu Pertiwi. Kritik dan protes kita terhadap goyahnya hukum dan konstitusi, kebijakan yang tidak pro rakyat, atau perbuatan sewenang-wenang dari para pemimpin adalah bentuk cinta kita kepada Indonesia. Namun yang perlu diingat, tetaplah menjadi bagian dari identitas bangsa yang memiliki budi luhur dalam bertindak dan bertutur kata. Maka, kritiklah dengan cara sebaik-baiknya.
“Sadarlah Hatinya
Sadarlah Budinya
Untuk Indonesia Raya”
Pada stanza kedua lagu Indonesia Raya, W.R. Supratman mengharapkan bangsa ini menjadi bangsa yang ditopang oleh hati yang sadar dan budi yang luhur dalam membangun Indonesia. Kesadaran hati akan menghindarkan kita dari niat dan aksi yang menyimpang sementara budi yang luhur akan menjaga kita untuk tetap bulat utuh menjaga kesatuan. Kesadaran tumbuh dari pemahaman kita terhadap apa yang sudah kita dapatkan, apa yang sedang kita perjuangkan dan apa yang menjadi impian kita. Jika kita belum sampai pada titik kesadaran itu, barangkali kita butuh lebih banyak kesempatan untuk merenungkan ketiga hal tersebut dan butuh untuk mengenal lebih jauh tentang negeri ini.
“Marilah Kita Mendoa
Indonesia Bahagia”
Stanza kedua lagu Indonesia Raya juga menjadi amanat bahwa perjuangan kita tak terlepas dari topangan kuasa Tuhan untuk memudahkan jalan perjuangan. Mungkin ikhtiar kita terbatas pada mengusahakan yang terbaik oleh diri sendiri, tetapi kita punya Tuhan yang maha tak terbatas dalam melakukan segalanya. Maka, kita titipkan Indonesia pada yang Maha Kuasa untuk diselamatkan dari segala bentuk kedzaliman dan marabahaya.
Mencintai Indonesia di tengah situasi saat ini memang sulit, tetapi kita punya pilihan untuk memperbaiki dan punya keberdayaan untuk bertahan dari rasa lelah mencintai negeri ini.
Dirgahayu, Indonesiaku.
