Konten dari Pengguna

Yogyakarta dan Diplomasi Kota: Potensi yang Masih Tidur

Khofiyatul Awaliyah

Khofiyatul Awaliyah

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Amikom Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khofiyatul Awaliyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kompleks Kraton Yogyakarta adalah pusat budaya dan sejarah yang mencerminkan identitas lokal kuat dan aset penting dalam diplomasi kota. Foto: Pemda DIY
zoom-in-whitePerbesar
Kompleks Kraton Yogyakarta adalah pusat budaya dan sejarah yang mencerminkan identitas lokal kuat dan aset penting dalam diplomasi kota. Foto: Pemda DIY

Yogyakarta sudah lama dikenal sebagai kota budaya dan kota pelajar. Tapi di tengah dunia yang makin terhubung, muncul pertanyaan penting: mengapa kota dengan potensi global ini belum terlihat aktif dalam praktik diplomasi kota seperti Bandung atau Surabaya?

Diplomasi kota (city diplomacy) adalah strategi hubungan luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah kota, bukan negara, untuk membangun kerja sama internasional, mempromosikan identitas lokal, dan mendorong kolaborasi lintas batas. Di era krisis global dari iklim, pendidikan, hingga disrupsi digital pendekatan ini jadi semakin relevan.

Kota Budaya, Tapi Belum Jadi Kota Diplomasi

Yogyakarta memiliki modal kuat sebagai kota budaya. Festival seperti Biennale Jogja, yang sejak 2011 mengusung semangat “Equator” dengan melibatkan seniman dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin, adalah contoh nyata diplomasi budaya (Biennale Jogja Foundation, 2022). Namun sayangnya, kegiatan seperti ini masih belum sepenuhnya diintegrasikan sebagai strategi diplomasi formal pemerintah kota. Sebenarnya, Yogyakarta juga tercatat memiliki kerja sama sister city dengan Kyoto (Jepang) dan beberapa kota Asia Tenggara. Namun, kerja sama ini lebih bersifat simbolik dan tidak berkelanjutan sebagai agenda strategis pembangunan kota (Yogyakarta.go.id, 2021).

Kota Pelajar dan Diplomasi Pendidikan

Yogyakarta adalah kota pelajar dengan ribuan mahasiswa asing setiap tahunnya. Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat memiliki lebih dari 300 mitra internasional dari berbagai negara. Setiap tahun, ratusan mahasiswa asing datang ke Jogja melalui program pertukaran, kuliah pendek, hingga penelitian lapangan. Contohnya, program Global Fieldwork Program (GFP) bersama Ritsumeikan University, Jepang, yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 2024 (oia.ugm.ac.id) menunjukkan bahwa kota ini sudah menjadi tuan rumah kegiatan internasional berbasis pendidikan. Namun, relasi internasional ini masih dimaknai sebagai kerja sama antar universitas, belum dilihat sebagai bagian dari diplomasi kota yang dikoordinasi atau difasilitasi oleh pemerintah daerah.

Saatnya Jogja Belajar dari Kota Lain

Bandung sudah lebih dulu dikenal sebagai bagian dari jaringan UNESCO Creative Cities Network sebagai City of Design. Surabaya menjalin kerja sama sister city aktif dengan Busan, Guangzhou, dan Perth, serta menjadi anggota C40 Cities, aliansi kota dunia untuk isu perubahan iklim. Yogyakarta tidak kalah hebat tapi belum punya kerangka strategis untuk menyatukan semua kekuatan ini menjadi kekuatan diplomatik. Diplomasi kota bukan hanya tentang kunjungan wali kota ke luar negeri, tapi tentang bagaimana kota mengarusutamakan kerja sama internasional ke dalam perencanaan kebijakan lokal.

Siapa yang Harus Mulai?

Pemerintah kota Yogyakarta, perguruan tinggi, komunitas seni, dan generasi muda punya peran besar untuk membangun ekosistem diplomasi kota. Kota ini sudah punya reputasi budaya, pendidikan, dan kreativitas. Tinggal bagaimana semua potensi ini diorkestrasi secara strategis dan berkelanjutan. Yogyakarta bukan hanya kota sejarah. Ia punya masa depan global jika kita berani mendorongnya tampil sebagai aktor dunia.