Populisme Agama, Isu Sentimental dan Masyarakat Modern

Khoirul Anam
Peneliti PUSAD UMSurabaya
Konten dari Pengguna
23 Agustus 2020 11:20 WIB
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Khoirul Anam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Populisme agama dalam demokrasi hari ini menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan, hampir seluruh negara yang menggunakan konsep demokrasi pasti akan terselip populisme agama. Seperti yang dilakukan oleh Donald Trump pada pemilihan Presiden di Amerika yang menggunakan isu agama sebagai cara untuk meraup suara elektoral.
ADVERTISEMENT
Populisme agamapun juga terjadi di Indonesia, seperti pilkada DKI Jakarta Ahok jatuh dan dimenangkan oleh Anis dapat dilihat dalam konteks populisme agama . Isu-isu keagamaan yang di produksi oleh tokoh politik yang mengatasnamakan kepentingan agama.
Dua contoh kasus tersebut akan melahirkan penyakit baru bagi demokrasi, seperti yang dikemukan oleh Jan-Werner Muller bahwa populisme merupakan penyakit demokrasi karena ada kelompok yang tidak terwakilkan, kelompok mayoritas sebagai satu-satunya yang sah untuk mengatasnamakan rakyat sedangkan. kelompok lain adalah bukan bagian dari yang sah.
Dapat kita fahami dengan sederhana bahwa orang memanfaatkan isu kelompok mayoritas dan cenderung mendeskriminasi yang minoritas, hal demikian kerap terjadi di dunia perpolitikan Internasional maupun di Indonesia. Beberapa fenomena di atas mengantarkan alam pikiran kita bahwa populisme adalah mobilisasi massa untuk mencapai politik tertentu.
ADVERTISEMENT
Pertanyaan selanjutnya mengapa harus agama? Secara kontekstual agama merupakan ideologi terkuat yang mampu bertahan melintasi zaman. Agama selalu menjadi bahan perdebatan yang tak pernah habis bahkan sering dibicarakan setiap detik diseluruh belahan dunia.
Disaat yang bersamaan pula agama mampu merasuki peristiwa hidup setiap manusia, ia ditentang dan juga diterima. Semakin ditentang semakin besar pengaruh dalam realitas hidup manusia bahkan bisa melampui dan mengatur setiap inci kehidupan manusia.
Maka kemudian isu agama ini menjadi gejala destruktif karena membawa manusia kedalam emosionalisasi dan personalisasi politik. Dalam konteks politik inilah isu emosionalisasi memancing kerumunan. Hal ini kemudian isu agama menjadi bagian cantik dalam kontestasi dinegara yang menganut sistem demokrasi.
Populisme Agama dan Isu Sentimental
ADVERTISEMENT
Diskursus mengenai populisme agama sangat mengancam perkembangan demokrasi Indonesia karena hal itu akan sangat mudah menjadi permainan politik para elit dan berdampak pada kedaulatan nasional, kepentingan ekonomi nasional, nilai-nilai budaya, serta identitas nasional.
Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim menjadikan sentimen agama sebagai bumbu dalam mencitrakan calon sebagai pembela agama itu sendiri, Hal demikian membuat suasana demokrasi kita rentan manipulasi atas nama Agama atau memakai topeng Agama.
Pupolisme agama sering muncul dalam agenda politik atau pilkada. Adapun ciri khas populisme agama merupakan pengkontruksian atau rakyat sebagai identitas ideal seolah menjadi penyelamat rakyat padahal seharusnya menjujung moralitas, otentik secara kultural.
Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata juga menjadi penyebab munculnya kelompok-kelompok agama yang kecewa dengan pemerintah dan berdalih membela agama, hal tersebut kemudian menjadi dasar tokoh-tokoh populis mendapatkan legitimasi yang kuat bagi masyarakat yang kecewa.
ADVERTISEMENT
Konsteknya adalah semakin lebar kesenjangan yang terjadi dan diiringi dengan meningkatnya aspirasi sosial, tetapi tidak mendapatkan jawaban maka hal ini akan melegitimasi kelompok masyarakat atau ormas melakukakan gerakan yang masif Dan cenderung di mamfaatkan oligargi lalu di mobilisasi dengan sentimen populisme agama.
Populisme Agama dan Masyarakat Modern
Ada beberapa cara membendung atau minimal mengurangi dampak populisme agama kita harus memperkuat identitas masyarakat pada sesuatu yang lebih luas, yakni sikap nasionalisme terhadap negara, sehingga sikap saling menghormati atas asas kemanuasian menjadi lebih mudah dihadirkan.
Dalam masyarakat modern suatu hal yang bersifat religius dan bersifat privat tak perlu dibawa kedalam ruang publik. Memasukkan hal yang bersifat perintah tuhan kedalam intstitusi publik dapat dihitung sebagai politik sektarian yang dapat mengancam kemajemukan dalam bernegara terutama di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Agama dalam penekanannya yang membentuk sebuah ritual kerohanian seharusnya posisinya berada diatas peranan politik praktis, bukan kemudian hanya dijadikan sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan. Maka dalam hal ini masyarakat modern harus mampu memilah agama dijadikan sebagai kepentingan publik atau kepentingan privat dalam mendekatkan diri kepada tuhan.
Keagamaan dan kebangsaan yang harusnya berdampingan harus berhadapan karena penggunaan isu agama yang masuk dalam ranah publik. Sehingga perlu penyadaran bagi seluruh anak bangsa akan bahaya ancaman isu agama yang tidak tepat dalam memecah keutuhan berbangsa dan bernegara.
Perlu adanya upaya pelurusan pengertian serta Batasan keterkaitan agama dengan politik. Agama harus dieksperisakan secara santun dan tidak dicampuradukkan dengan kepentingan politik praktis, yang tentunya akan berdampak pada kelompok minoritas.
ADVERTISEMENT
Kesadaran semua pihak terutama tokoh organisasi keagamaan, tokoh politik harus menjadikan persatuan bangsa sebagai landasan dalam berpolitik. Sehingga agama tidak lagi direndahkan posisinya hanya sebagai alat dalam memperoleh kekuasaan.