Perencanaan SDM di Era AI: Perusahaan Harus Siapkan Manusia, Bukan Hanya Tekno

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang Penulis Konten seputar Manajemen Sumber Daya Manusia, Dunia Kerja, dan Perkembangan Organisasi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari khoirulardi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat dunia kerja ikut mengalami perubahan. Kehadiran Artificial Intelligence (AI), otomatisasi, digitalisasi, dan berbagai aplikasi berbasis teknologi membuat cara perusahaan menjalankan pekerjaan tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Perubahan ini tidak hanya berhubungan dengan teknologi yang digunakan perusahaan, tetapi juga dengan tenaga kerja yang menjalankan pekerjaan tersebut.
Dalam kondisi seperti sekarang, perusahaan tidak cukup hanya membeli teknologi baru atau menggunakan aplikasi terbaru. Perusahaan juga perlu memikirkan apakah karyawan yang dimiliki sudah mempunyai kemampuan yang sesuai dengan perubahan tersebut. Di sinilah perencanaan sumber daya manusia (SDM) menjadi semakin penting.
Perencanaan SDM pada dasarnya merupakan proses yang dilakukan organisasi untuk menentukan kebutuhan tenaga kerja, baik dari sisi jumlah maupun kompetensi, agar sesuai dengan tujuan perusahaan. Dengan perencanaan yang baik, perusahaan dapat mengetahui berapa banyak karyawan yang dibutuhkan, posisi apa saja yang diperlukan, serta kemampuan apa yang harus dimiliki oleh karyawan. Mengapa Perencanaan SDM Semakin Penting?
Dulu, perencanaan SDM mungkin lebih banyak berfokus pada pertanyaan sederhana seperti berapa jumlah karyawan yang dibutuhkan perusahaan. Sekarang, pertanyaannya menjadi lebih kompleks.
Perusahaan harus memikirkan apakah karyawan memiliki kemampuan menggunakan teknologi, memahami data, bekerja dengan AI, berkomunikasi dengan baik, mampu beradaptasi, serta mempunyai kemampuan menyelesaikan masalah.
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menyebutkan bahwa sekitar 39% keterampilan yang dimiliki pekerja saat ini diperkirakan akan berubah atau menjadi kurang relevan dalam periode 2025–2030. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi termasuk keterampilan yang diperkirakan semakin dibutuhkan.
Artinya, perusahaan tidak bisa hanya mencari karyawan berdasarkan ijazah atau pengalaman kerja. Perusahaan juga perlu melihat kemampuan apa yang akan dibutuhkan dalam beberapa tahun ke depan. Fenomena AI Mengubah Cara Perusahaan Merencanakan SDM
Salah satu fenomena yang paling terlihat saat ini adalah semakin banyaknya perusahaan yang menggunakan AI untuk membantu pekerjaan. AI dapat digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari membuat laporan, mengolah data, membantu pelayanan pelanggan, sampai mendukung proses administrasi.
Namun, penggunaan AI tidak berarti semua pekerjaan manusia akan langsung hilang. Dalam banyak pekerjaan, teknologi justru digunakan untuk membantu karyawan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan efisien.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan perencanaan SDM dengan melihat hubungan antara manusia dan teknologi. Perusahaan harus menentukan pekerjaan mana yang dapat dibantu oleh teknologi dan kemampuan manusia apa yang tetap dibutuhkan.
Kemampuan seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, serta kemampuan mengambil keputusan tetap penting. World Economic Forum mencatat bahwa analytical thinking masih menjadi salah satu kemampuan inti yang paling banyak dibutuhkan oleh perusahaan, sementara kemampuan seperti kreativitas, fleksibilitas, ketahanan, dan kemampuan belajar terus-menerus juga semakin penting.
Dengan demikian, karyawan di masa sekarang tidak hanya dituntut untuk bisa bekerja, tetapi juga harus mampu belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Masalah Skill Gap Menjadi Tantangan Perusahaan
Salah satu masalah yang dapat muncul ketika perusahaan mengalami perubahan teknologi adalah skill gap, yaitu adanya kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki karyawan dengan kemampuan yang sebenarnya dibutuhkan perusahaan.
Contohnya, sebuah perusahaan mulai menggunakan sistem digital untuk mengolah data penjualan. Sistem tersebut dapat membuat pekerjaan menjadi lebih cepat, tetapi beberapa karyawan belum terbiasa menggunakan sistem tersebut. Jika perusahaan tidak melakukan pelatihan, teknologi yang seharusnya membantu justru dapat menimbulkan masalah baru.
Menurut World Economic Forum, kesenjangan keterampilan menjadi salah satu hambatan utama transformasi bisnis. Dalam survei Future of Jobs 2025, 63% perusahaan yang disurvei menyebutkan skill gaps sebagai hambatan utama dalam transformasi bisnis pada periode 2025–2030. Perencanaan SDM Tidak Hanya Soal Merekrut Karyawan Baru
Ketika perusahaan membutuhkan kemampuan baru, salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah merekrut karyawan baru. Namun, perekrutan bukan satu-satunya solusi.
Perusahaan juga dapat melakukan upskilling dan reskilling terhadap karyawan yang sudah ada.
Upskilling berarti meningkatkan kemampuan karyawan agar dapat menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik.
Reskilling berarti memberikan kemampuan baru agar karyawan dapat menjalankan pekerjaan atau peran yang berbeda sesuai kebutuhan organisasi.
Misalnya, perusahaan mulai menggunakan sistem digital dalam proses administrasi. Daripada langsung mengganti seluruh karyawan yang belum terbiasa dengan teknologi, perusahaan dapat memberikan pelatihan terlebih dahulu. Dengan cara tersebut, perusahaan tidak hanya memenuhi kebutuhan organisasi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berkembang.
Di Indonesia sendiri, perhatian terhadap pengembangan kompetensi semakin terlihat. Kementerian Ketenagakerjaan pada 2026 juga menetapkan standar kompetensi di bidang Artificial Intelligence untuk subbidang Knowledge Based System. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan AI mulai membutuhkan standar kompetensi yang lebih jelas di dunia kerja.
Bagaimana Perusahaan Harus Melakukan Perencanaan SDM?
Perencanaan SDM yang sesuai dengan kondisi saat ini dapat dimulai dengan melihat tujuan perusahaan terlebih dahulu. Setelah itu, perusahaan dapat memperkirakan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan perkembangan bisnis dan teknologi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Menghitung kebutuhan tenaga kerja: Perusahaan harus mengetahui jumlah karyawan yang dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan operasional secara efektif dan efisien.
Melihat kompetensi yang dibutuhkan: Perusahaan perlu mengidentifikasi kemampuan teknis maupun soft skills yang diperlukan untuk setiap posisi.
Memetakan kemampuan karyawan: Perusahaan perlu melakukan audit kompetensi untuk mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki karyawan maupun celah yang ada.
Menemukan kesenjangan kompetensi: Membandingkan kebutuhan perusahaan dengan kemampuan riil karyawan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
Menyiapkan pengembangan karyawan: Memberikan akses pelatihan, pembelajaran teknologi baru, atau program bimbingan karier bagi karyawan potensial.
Melakukan evaluasi secara berkala: Mengingat dinamika bisnis dan teknologi bergerak cepat, perencanaan SDM harus terus ditinjau dan dievaluasi.
Perencanaan SDM Harus Melihat Masa Depan
Perusahaan saat ini tidak bisa hanya merencanakan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan kondisi hari ini. Perusahaan juga harus memikirkan kondisi beberapa tahun ke depan.
Misalnya, jika perusahaan memperkirakan penggunaan AI akan semakin besar, maka sejak sekarang perusahaan perlu mulai mempersiapkan karyawan yang mampu menggunakan dan mengelola teknologi tersebut. Begitu juga dengan kemampuan keamanan data, analisis data, komunikasi digital, dan kemampuan bekerja sama dengan sistem teknologi.
World Economic Forum memperkirakan sekitar 59 dari setiap 100 pekerja akan membutuhkan pelatihan atau pengembangan keterampilan hingga 2030. Angka tersebut menunjukkan bahwa proses belajar tidak seharusnya berhenti ketika seseorang sudah mendapatkan pekerjaan. Karyawan juga perlu terus mengembangkan dirinya agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Kesimpulan
Perkembangan teknologi memang mengubah banyak pekerjaan, tetapi manusia tetap memiliki peran penting. Teknologi dapat membantu mengolah data dan melakukan pekerjaan tertentu dengan cepat, tetapi kemampuan manusia dalam memahami situasi, berkomunikasi, bekerja sama, menunjukkan empati, dan mengambil keputusan tetap tidak tergantikan.
Karena itu, perencanaan SDM seharusnya tidak hanya berorientasi pada bagaimana perusahaan mendapatkan tenaga kerja sebanyak-banyaknya. Perencanaan SDM harus berfokus pada bagaimana perusahaan mempunyai orang yang tepat, dengan kompetensi yang tepat, pada posisi yang tepat, dan pada waktu yang tepat.
Perusahaan yang mampu merencanakan SDM dengan baik akan lebih siap menghadapi perubahan. Sebaliknya, perusahaan yang mengabaikan perkembangan kompetensi karyawan akan menghadapi risiko tertinggal di tengah arus transformasi digital.
