Konten dari Pengguna

Ruang Rasa: Lebih dari Mading, Jembatan Menuju Masa Depan yang Indah

Kholida Almahmudiyah

Kholida Almahmudiyah

Mahasiswa psikologi universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kholida Almahmudiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

hari pertama sekolah dengan rasa semangat yang tinggi, pict by kholida
zoom-in-whitePerbesar
hari pertama sekolah dengan rasa semangat yang tinggi, pict by kholida
pohon harapan, pict by novalitha
zoom-in-whitePerbesar
pohon harapan, pict by novalitha

Pernahkah Anda berpikir bahwa kecerdasan itu bisa diubah dan dikembangkan? Dulu, banyak yang percaya bahwa kecerdasan adalah bawaan lahir, tak bisa diotak-atik. Namun, pandangan ini kini bergeser. Konsep

"growth mindset" dari psikolog Carol Dweck membuktikan sebaliknya: kecerdasan dan kemampuan seseorang bisa tumbuh asalkan ada kemauan, usaha, dan lingkungan belajar yang tepat.

Konsep inilah yang menjadi fondasi utama dalam Program Cerdas, sebuah inisiatif luar biasa dari mahasiswa FISIP Bakti Desa 56 yang sedang mengabdi di Desa Purwodadi. Mereka tidak hanya datang untuk mengajar, tetapi juga meninggalkan warisan berharga yang membuat semangat belajar terus menyala: Mading Ruang Rasa. Mading ini bukan sekadar pajangan, melainkan alat ajaib yang mengubah cara siswa berpikir dan belajar.

Mading: Alat Praktis Pembentuk Pola Pikir Berkembang

Mading Ruang Rasa menjadi bukti nyata bahwa proses belajar bisa terjadi di mana saja, bahkan di lorong sekolah. Mading ini secara efektif menerapkan prinsip

growth mindset dalam kegiatan sehari-hari, mengubah siswa dari penerima informasi pasif menjadi pencipta pengetahuan yang aktif dan kreatif.

Dari Menghafal Menjadi Mencipta: Selama Program Cerdas, siswa diajak berkreasi melalui kegiatan seperti "Rantai Kata Ajaib" dan "Cerita Bersambung". Mading Ruang Rasa adalah panggung bagi mereka untuk melanjutkan semangat ini. Mereka bisa menulis puisi, cerpen, atau berita sekolah. Proses ini melatih "otot" kreativitas dan literasi mereka, menumbuhkan keyakinan bahwa kemampuan mereka dapat berkembang melalui latihan.

Berani Gagal, Siap Belajar: Dalam membuat mading, siswa mungkin menghadapi kesulitan. Ide mentok? Tulisan kurang menarik? Mading Ruang Rasa mengajarkan mereka untuk tidak menyerah. Alih-alih melihat kesulitan sebagai hambatan, mereka belajar melihatnya sebagai tantangan untuk berkembang. Sikap ini adalah esensi dari

growth mindset.

Belajar Saling Berkolaborasi: Mading adalah proyek tim. Siswa belajar berdiskusi, menyampaikan ide, dan menghargai pendapat teman. Keterampilan ini, yang disebut kecerdasan sosial dan emosional, sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual.

Menginternalisasi Gaya Hidup Sehat: Mading ini juga menjadi pengingat harian tentang gaya hidup sehat yang merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka. Siswa bisa membuat poster menarik tentang pentingnya

olahraga rutin, manfaat makanan bergizi, atau ajakan menjaga kebersihan. Pesan-pesan ini tidak hanya menghiasi mading, tetapi juga menginternalisasi kebiasaan baik dalam keseharian mereka, yang penting untuk perkembangan holistik.

Mading Ruang Rasa adalah warisan berharga dari mahasiswa FISIP Bakti Desa 56. Ia membuktikan bahwa kecerdasan bukanlah takdir, melainkan sebuah perjalanan yang bisa ditempuh dengan semangat, kreativitas, dan kolaborasi. Melalui mading ini, siswa diajarkan untuk percaya pada diri sendiri, berani mencoba, dan terus berkembang, selaras dengan tujuan Kurikulum Merdeka.

Referensi

Mulyaningsih, S. A., & Wisesa, P. M. (2024). Analisis Kurikulum Merdeka dari Perspektif Ki Hajar Dewantara dan Growth Mindset Carol Dweck. Man-Ana: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(1), 29–41. https://doi.org/10.58326/man.v1i1.243.