Hadir Setiap Hari adalah Bentuk Keberanian yang Jarang Dirayakan

Bachelor Degree of Psychology Brawijaya University
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kholif Hawari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada hari-hari ketika kita datang ke kantor tanpa kabar baik. Tidak ada promosi. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pencapaian yang bisa dipamerkan di media sosial. Kita hanya hadir. Lalu pulang. Besoknya datang lagi.
Hari-hari seperti itu sering terasa tidak berarti. Kita menjalankan pekerjaan, menyelesaikan tugas, menghadiri rapat, membalas email, lalu pulang dengan perasaan bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar berubah. Seolah-olah hidup hanya sedang mengulang dirinya sendiri, lalu muncul perasaan merasa kita tidak berkembang.
Persoalannya bukan karena kita berhenti berkembang. Mungkin yang berubah adalah cara kita mengukur berkembang itu sendiri. Selama ini kita mengukur berkembang dari promosi, kenaikan gaji, jabatan baru, atau angka yang bertambah. Padahal bukankah hari ketika kita lebih tenang menghadapi masalah, atau lebih terampil mengerjakan pekerjaan yang dulu terasa sulit, juga layak disebut sebagai berkembang?
Kita hidup di era orang-orang memuja lompatan besar. Timeline Instagram, FYP TikTok dipenuhi cerita tentang promosi, gadget terbaru, jalan-jalan ke luar negeri, bisnis yang melejit dalam hitungan bulan, atau pencapaian yang datang lebih cepat dari perkiraan. Lama-kelamaan kita hanya mengakui sesuatu sebagai kemajuan jika ia bisa dipamerkan. Akhirnya, hari-hari yang biasa terasa seperti kegagalan.
Media sosial bukan membuat kita semakin tidak sabaran. Ia hanya mengubah standar tentang apa yang layak disebut sebagai kemajuan. Sesuatu baru terasa berarti ketika bisa diumumkan di Instagram Story, dibagikan, atau membuat orang lain kagum.
Padahal sebagian besar kehidupan justru dibangun oleh langkah-langkah yang nyaris tidak terlihat. Seperti tidak ada yang mengunggah dirinya datang tepat waktu ke kantor selama berbulan-bulan. Tidak ada yang mengunggah hari ketika dimarahi atasan, lalu memilih datang lagi keesokan paginya.
Kita mulai curiga pada proses yang terlalu lama. Enam bulan belum berhasil terasa seperti pertanda ada yang salah. Setahun belum menunjukkan hasil membuat kita merasa tertinggal. Padahal tidak semua proses memperlihatkan kemajuannya dari hari ke hari. Ada kemampuan yang tumbuh diam-diam, tanpa pengumuman, tanpa sorotan, bahkan mungkin tanpa kita sadari.
Dalam psikologi ada sebuah konstruk yang disebut "grit" kegigihan dan konsistensi untuk terus bergerak menuju tujuan jangka panjang, bahkan ketika hasilnya belum tampak. Psikolog Angela Duckworth memperkenalkan konsep grit setelah menemukan bahwa kegigihan jangka panjang sering kali lebih mampu menjelaskan keberhasilan dibanding bakat semata. Orang yang memiliki grit tidak selalu menikmati prosesnya. Mereka hanya memilih untuk tidak berhenti hanya karena proses itu terasa lambat atau membosankan.
Kita sering mengira hidup berubah pada hari ketika promosi datang. Padahal perubahan itu sudah dimulai ratusan hari sebelumnya, ketika tidak ada siapa-siapa yang melihat kita tetap datang bekerja. Hari ketika seseorang tetap datang bekerja. Tetap belajar. Tetap mencoba. Tetap mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, meski belum ada yang bertepuk tangan.
Satu lirik dari lagu The Jeblogs yang terus terngiang di kepala saya ketika hari-hari membosankan atau kekalahan-kekalahan itu datang, "Mungkin kita sampai, mungkin saja tidak, tugas kita hanyalah berjalan." Bagi saya, lirik itu bukan ajakan untuk pasrah terhadap hasil. Justru mengingatkan bahwa ada hal-hal yang berada di luar kendali kita, dan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita adalah kesediaan untuk terus melangkah.
Barangkali kita terlalu cepat menyebut seseorang tidak berkembang hanya karena ia memilih bertahan. Padahal bertahan bukan berarti diam. Bertahan adalah memberi waktu bagi kemampuan untuk tumbuh, bagi pengalaman untuk mengendap, dan bagi diri kita untuk benar-benar siap ketika kesempatan datang.
Besok pagi, mungkin tidak ada yang berubah. Meja kerja masih sama. Rapat masih menunggu. Kotak masuk email kembali penuh. Namun barangkali, setelah menyadari bahwa tidak semua kemajuan harus terlihat, kita bisa memandang kehadiran kita dengan cara yang berbeda. Sebab keberanian yang paling dibutuhkan hari ini bukanlah keberanian untuk selalu melompat ke tempat baru, melainkan keberanian untuk tetap datang, tetap belajar, dan tetap hadir, untuk meneruskan langkah-langkah itu, bahkan ketika belum ada yang merayakannya.
