Konten dari Pengguna

Mengenal Narcissistic Personality Disorder (NPD) pada Remaja

Kholif Hawari

Kholif Hawari

Bachelor Degree of Psychology Brawijaya University

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kholif Hawari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masa remaja adalah fase penuh gejolak. Di usia ini, seseorang mulai mencari jati diri, ingin dikenal, dan diakui oleh lingkungan sekitar. Media sosial pun menjadi ruang ekspresi yang membuat kebutuhan akan validasi semakin tinggi. Namun, ada satu kondisi psikologis yang perlu diwaspadai—Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau Gangguan Kepribadian Narsistik. Apa itu, dan bagaimana dampaknya bagi remaja

Narsisme, Credit gambar : Kholif Hawari
zoom-in-whitePerbesar
Narsisme, Credit gambar : Kholif Hawari

Apa Itu Narcissistic Personality Disorder (NPD)?

Kata “narsistik” berasal dari mitologi Yunani, tepatnya dari kisah Narcissus—seorang pemuda tampan yang begitu kagum pada bayangan dirinya sendiri hingga akhirnya jatuh dalam kehampaan. Dari cerita ini, narsisme berkembang menjadi istilah psikologi yang menggambarkan individu dengan perasaan superior berlebihan, haus pujian, dan kurangnya empati terhadap orang lain.

Dalam dunia psikologi, NPD masuk dalam kelompok gangguan kepribadian Cluster B dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Gangguan ini ditandai dengan pola pikir dan perilaku yang berpusat pada diri sendiri secara berlebihan, yang dapat berdampak negatif pada hubungan sosial, pendidikan, hingga karier.

Ciri dan Gejala NPD pada Remaja

Tak semua remaja yang suka dipuji atau aktif di media sosial bisa dikatakan memiliki NPD. Namun, ada beberapa ciri khas yang perlu diperhatikan, di antaranya:

  1. Selalu mendambakan pujian dan perhatian dari orang lain.

  2. Merasa dirinya unik dan hanya mau bergaul dengan orang tertentu.

  3. Berfantasi tentang kesuksesan dan kekuasaan secara berlebihan.

  4. Memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi.

  5. Mengharapkan perlakuan istimewa dari lingkungan sekitarnya.

  6. Kurangnya empati dan cenderung iri terhadap orang lain.

  7. Merasa dirinya lebih hebat dibanding orang lain, meski faktanya biasa saja.

Jika beberapa tanda ini mulai mendominasi kehidupan sehari-hari seorang remaja hingga mengganggu relasi sosialnya, maka penting untuk mencari bantuan psikologis lebih lanjut.

Mengapa Remaja Rentan Terkena NPD?

Masa remaja adalah fase di mana seseorang sedang mencari identitasnya. Faktor lingkungan, didikan keluarga, hingga pengaruh media sosial dapat membentuk kepribadian mereka.

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan NPD antara lain:

  1. Pola Asuh yang Berlebihan – Orang tua yang terlalu memanjakan atau selalu memuji tanpa memberikan kritik membangun dapat membuat anak merasa dirinya sangat istimewa.

  2. Eksposur Media Sosial – Tren eksistensi di media sosial dapat mendorong remaja untuk terus mencari validasi dan merasa superior dibandingkan orang lain.

  3. Lingkungan Kompetitif – Tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik di sekolah atau dalam lingkungan sosial juga dapat memicu pola pikir narsistik.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Meski NPD terdengar menyeramkan, bukan berarti tidak bisa dicegah atau diatasi. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu remaja mengembangkan kepribadian yang lebih sehat:

  1. Latih Empati – Mengajak remaja untuk lebih peduli terhadap perasaan orang lain bisa mengurangi sifat egois dan arogan.

  2. Bangun Kesadaran Diri – Remaja perlu memahami bahwa mereka tidak selalu harus menjadi pusat perhatian untuk merasa berharga.

  3. Berikan Kritik yang Sehat – Orang tua dan guru bisa membantu dengan memberikan apresiasi yang seimbang, tanpa membangun ekspektasi yang berlebihan.

  4. Kurangi Ketergantungan pada Media Sosial – Mengajak remaja untuk lebih aktif dalam kegiatan offline dapat membantu mereka memahami nilai dirinya secara lebih realistis.

  5. Cari Bantuan Profesional – Jika gejala NPD mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau terapis adalah langkah bijak.

Masa remaja memang identik dengan pencarian jati diri, tetapi ketika rasa ingin diakui berubah menjadi obsesi yang berlebihan, itu bisa menjadi tanda adanya Narcissistic Personality Disorder (NPD). Hal terpenting, kita harus menyadari bahwa setiap individu itu unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Seperti kata pepatah, “Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.” Jadi, mari tetap rendah hati, bersikap bijak, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya!