“Rodat” Kesenian Daerah Yang Hampir Terlupakan

Mahasiswa S-1 Ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kholifah Dina Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesenian yang tidak dilestarikan dapat dipastikan akan tergerus oleh jaman, sebagai generasi muda pantaslah kita sebagai pewaris melestarikan budaya daerah dan bangsa.
Mengenal Tradisi Lama
Rodat merupakan kesenian tradisional yang berkembang di beberapa daerah di Indonesia termasuk daerah Sragen tepatnya di dusun Bukuran, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah atau lebih dikenal dengan wilayah Situs Sangiran. Wilayah Sragen menjadi pusat penting dalam sejarah kesenian rodat, sebab di sinilah kesenian tersebut dimanfaatkan secara strategis sebagai media perjuangan, penyebaran islam. Nama rodat diambil dari gabungan kata “rong syahadat” yang dalam bahasa indonesia berarti “dua syahadat”. Seni rodat menjadi salah satu kesenian tradisional yang bercorak budaya islam. Rodad digunakan sebagai media penyebaran Islam, dengan syair-syair yang mengandung dzikir, shalawat, dan doa. Dulunya kesenian ini kerap kali ditampilkan dalam perayaan keagamaan islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pertunjukan rodat biasanya dimainkan oleh kaum pria yang terdiri dari 24 orang pemain dengan 4 orang sebagai pemain musik ( 1 jedor dan 3 terbang), serta 20 orang sebagai penari, musik biasanya dimainkan oleh para sesepuh mengingat pengalaman atau yang mengetahui melodi dan nadanya hanya para tetua dan sesepuh, sedangkan para pemuda berperan sebagai penari.Para pemuda desa yang berpartisipasi dalam rodat juga mendapat bimbingan dari para sesepuh, menyalurkan pengetahuan dan nilai-nilai budaya antar generasi. Proses ini tidak hanya melestarikan kesenian rodat, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian para pelakunya.
Rodat mengkombinasikan antara seni musik, tari, dan religi berupa nyanyian atau lantunan sholawat yang mengandung makna dalam sebagai bentuk filosofis esensi spiritual dari kesenian rodat. Gerakan fisik berupa tarian melambangkan perjalanan jiwa dalam mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa. Dalam pertunjukannya rodat juga mengkolaborasikan dengan adanya atraksi seperti memakan pecahan kaca, menjilat api, memakan tanaman padi seperti sapi, dalam artian rodat juga menampilkan atraksi kelincahan dan kekuatan tubuh.
Jejak Lama yang Nyaris Terhapus
Kesenian ini sempat redup bertahun-tahun hingga adanya kegiatan identifikasi potensi kesenian di daerah tersebut yang memicu bangkitnya kesenian ini. Melalui salah satu tokoh sesepuh desa yang dulunya menjadi salah satu pemain rodat yang bernama Mbah Sodiq. Menurut beliau, kesenian ini ditinggalkan setelah sesepuh desa dan penggerak rodat meninggal, sehingga tidak ada yang meneruskan kesenian ini. Jika ditanya mengapa tidak Mbah Sodiq saja yang melanjutkan, tentu saja beliau tidak mampu untuk meneruskannya sendiri dengan kondisi umurnya yang sudah senja.
Fungsi Sosial dan Nilai Pendidikan
Rodat berperan penting dalam penyebaran syiar islam di daerah jawa, dengan mengkombinasikan seni pertunjukan yang memuat pesan spiritual yang dikemas melalui syair atau shalawat, rodat terbukti efektif menyampaikan nilai keagamaan kepada masyarakat setempat. Adanya sisipan dzikir, shalawat, dan dia di setiap pertunjukan membuktikan bahwa rodat bukan hanya sebagai hiburan tetapi memiliki makna yang lebih mendalam.
Sebagai upaya dalam mengoptimalkan penampilan, pemain rodat kerap kali melakukan latihan rutin yang biasanya dilakukan pada malam hari yang disaksikan oleh para warga sekitar. Pertunjukan rodat yang diikuti dan disaksikan oleh warga menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan sosial dalam komunitas. Kegiatan ini menciptakan ruang interaksi yang positif antara berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua, yang berkumpul untuk menikmati dan berpartisipasi dalam pertunjukan rodat. Semangat gotong royong dan kebersamaan yang terbentuk melalui rodat berkontribusi pada kerukunan dan keseimbangan sosial dan stabilitas. Rodat juga berfungsi sebagai sarana pendidikan informal yang mengajarkan nilai-nilai luhur kepada para masyarakat. Melalui syair-syair yang mengandung pesan moral dan spiritual, penonton rodat secara tidak langsung mendapat edukasi tentang akhlak mulia, toleransi, dan kehidupan yang harmoni.
Upaya Pelestarian
Salah satu tantangan utama yang dihadapi kesenian rodat adalah masalah regenerasi pelaku seni. Dominasi penari rodat oleh kalangan usia lanjut menunjukkan kurangnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan kesenian tradisional ini. Faktor-faktor seperti pengaruh budaya modern, teknologi digital, dan perubahan gaya hidup menjadi penyebab menurunnya minat terhadap kesenian tradisional. Upaya modernisasi rodat perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak menghilangkan esensi dan keaslian kesenian ini. Beberapa kelompok rodat mulai bereksperimen dengan penggabungan elemen modern dalam pertunjukan mereka, seperti penggunaan sistem suara yang lebih baik atau variasi kostum yang lebih menarik. Namun, perubahan ini harus tetap mempertahankan nilai-nilai spiritual dan budaya yang menjadi inti dari kesenian rodat.
