Kerja Tidak Sesuai Jurusan: Fenomena Skill Mismatch dan Pengangguran di Indonesia
Tulisan dari Kholilatul Karimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Afiliasi: Program Studi Manajemen Keuangan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang
Setelah menyelesaikan pendidikan, banyak orang berharap bisa bekerja sesuai dengan jurusan yang telah mereka pelajari. Mahasiswa manajemen, misalnya, mungkin membayangkan dirinya bekerja di bidang keuangan, pemasaran, atau sumber daya manusia. Begitu juga lulusan teknik yang berharap dapat bekerja sesuai dengan keahlian teknisnya. Namun, kenyataannya tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada lulusan yang akhirnya bekerja di bidang berbeda karena keterbatasan lowongan, kebutuhan ekonomi, atau tuntutan dunia kerja.
Fenomena bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan ini dikenal sebagai skill mismatch. Fenomena tersebut menjadi persoalan ketenagakerjaan karena pendidikan yang telah ditempuh seseorang belum tentu sesuai dengan pekerjaan yang tersedia. Penelitian Yonanda & Usman (2023) menunjukkan bahwa ketidakcocokan antara bidang studi dan pekerjaan masih ditemukan pada pekerja lulusan pendidikan tinggi di Indonesia. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah pendidikan yang ditempuh sudah sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, atau justru kesempatan kerja yang belum mampu menampung keahlian para lulusan?
Fenomena Kerja Tidak Sesuai Jurusan (Skill Mismatch)
Skill mismatch merupakan kondisi ketika kemampuan, pendidikan, atau keterampilan seseorang tidak sepenuhnya sesuai dengan pekerjaan yang dijalaninya. Salah satu bentuknya adalah horizontal mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara bidang pendidikan dan bidang pekerjaan. Contohnya, lulusan akuntansi yang bekerja di bidang pemasaran atau lulusan teknik yang bekerja di bagian administrasi.
Yonanda & Usman (2023), dalam penelitian berjudul Determinan Status Horizontal Mismatch pada Pekerja Lulusan Pendidikan Tinggi di Indonesia, menemukan bahwa 33,50% pekerja lulusan pendidikan tinggi mengalami horizontal mismatch berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional Februari 2022. Sementara itu, 66,50% lainnya tidak mengalami ketidaksesuaian tersebut.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa bekerja di luar bidang pendidikan bukan sekadar cerita yang dialami oleh beberapa orang. Fenomena ini juga ditemukan dalam penelitian terhadap pekerja lulusan pendidikan tinggi di Indonesia. Meskipun demikian, bekerja tidak sesuai jurusan tidak selalu berarti seseorang gagal atau tidak kompeten. Ada pekerja yang memang memilih bidang lain karena minat, peluang karier, atau penghasilan yang lebih baik. Persoalan muncul ketika ketidaksesuaian tersebut terjadi karena keterbatasan pilihan pekerjaan atau membuat keterampilan yang dimiliki tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Data Pengangguran di Indonesia
Selain fenomena bekerja tidak sesuai jurusan, pengangguran masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,65%. Data tersebut juga menunjukkan jumlah penganggur sekitar 7,22 juta orang.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa masih ada penduduk usia kerja yang belum memperoleh pekerjaan meskipun telah memasuki pasar tenaga kerja. Pengangguran tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia, tetapi juga dapat berhubungan dengan kesesuaian antara kemampuan pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.
Ramadina & Aprianti (2026), dalam penelitian berjudul Analisis Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia, membahas sejumlah faktor yang berkaitan dengan pengangguran, antara lain produk domestik regional bruto, tingkat partisipasi angkatan kerja, upah minimum, dan tingkat pendidikan. Penelitian tersebut juga menemukan hubungan positif yang signifikan antara rata-rata lama sekolah dan tingkat pengangguran terbuka dalam model yang mereka gunakan.
Temuan itu tidak berarti bahwa pendidikan yang lebih tinggi pasti menyebabkan pengangguran. Hasil tersebut justru perlu dipahami bersama kondisi pasar kerja, ketersediaan pekerjaan, dan kesesuaian kualifikasi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan.
Mengapa Ketidaksesuaian Pekerjaan Terjadi?
Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa seseorang bekerja tidak sesuai dengan jurusannya. Salah satunya adalah ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan kebutuhan tenaga kerja. Ketika jumlah lulusan pada bidang tertentu lebih besar daripada lowongan yang tersedia, sebagian lulusan mungkin memilih pekerjaan lain agar tetap memiliki penghasilan.
Faktor berikutnya adalah kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan perusahaan. Materi yang dipelajari selama pendidikan belum tentu sepenuhnya sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja. Karena itu, pengalaman kerja, pelatihan, kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan menggunakan teknologi juga dapat menjadi pertimbangan perusahaan ketika merekrut karyawan.
Yonanda & Usman (2023) mengidentifikasi sejumlah karakteristik yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya horizontal mismatch, antara lain umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan terakhir, rumpun bidang studi, keikutsertaan dalam pelatihan, serta pengalaman bekerja sebelum lulus. Temuan ini memperlihatkan bahwa ketidaksesuaian pekerjaan tidak dapat dijelaskan hanya dari jurusan yang diambil seseorang.
Selain itu, Ramadina & Aprianti (2026) menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menyelesaikan persoalan pengangguran apabila pertumbuhan tersebut belum diikuti penyerapan tenaga kerja yang memadai. Artinya, tersedianya tenaga kerja terdidik saja belum cukup. Dunia usaha juga perlu menyediakan kesempatan kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan para pencari kerja.
Hubungan Skill Mismatch dengan Pengangguran
Skill mismatch dan pengangguran merupakan dua persoalan yang berbeda, tetapi keduanya dapat berkaitan. Pengangguran terjadi ketika seseorang tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan. Sementara itu, skill mismatch dapat terjadi pada orang yang sudah bekerja, tetapi pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan bidang pendidikan atau keterampilannya.
Hubungan keduanya dapat terlihat ketika lulusan kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasinya. Sebagian orang mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan karena lowongan yang tersedia tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Sebagian lainnya akhirnya menerima pekerjaan di bidang berbeda daripada harus terus menganggur.
Ramadina & Aprianti (2026) membahas bahwa sebagian pencari kerja berpendidikan tinggi dapat menetapkan batasan tertentu terhadap pekerjaan yang akan diterima, termasuk kesesuaian dengan kualifikasi akademik dan tingkat upah. Dalam kondisi ketika kesempatan kerja yang sesuai masih terbatas, proses pencarian kerja dapat berlangsung lebih lama.
Meskipun demikian, tidak tepat jika seluruh pengangguran dianggap disebabkan oleh skill mismatch. Pengangguran juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, jumlah lapangan kerja, persebaran kesempatan kerja antarwilayah, dan berbagai faktor lainnya. Oleh karena itu, ketidaksesuaian pekerjaan sebaiknya dipahami sebagai salah satu persoalan dalam pasar tenaga kerja yang dapat berhubungan dengan pengangguran, bukan sebagai satu-satunya penyebab.
Dampak Kerja Tidak Sesuai Jurusan
Bekerja di luar jurusan tidak selalu membawa dampak negatif. Seseorang bisa saja menemukan minat baru, memperoleh pengalaman yang berbeda, dan mengembangkan keterampilan yang berguna untuk kariernya. Namun, jika ketidaksesuaian tersebut terjadi karena keterpaksaan dan tidak diimbangi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, ada beberapa dampak yang perlu diperhatikan.
Pertama, keterampilan yang diperoleh selama pendidikan berisiko tidak digunakan secara maksimal. Seseorang yang telah mempelajari bidang tertentu selama bertahun-tahun mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menerapkan pengetahuannya dalam pekerjaan sehari-hari.
Kedua, pekerja mungkin perlu mengikuti pelatihan tambahan untuk menyesuaikan diri dengan bidang pekerjaan yang baru. Hal ini membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya. Ketiga, ketidaksesuaian pekerjaan dapat memengaruhi kepuasan kerja, terutama apabila pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan minat atau tujuan karier seseorang.
Dari sisi yang lebih luas, kondisi tersebut juga dapat menjadi tantangan bagi dunia pendidikan dan perusahaan. Pendidikan membutuhkan waktu dan biaya, sehingga keterampilan yang diperoleh lulusan diharapkan dapat dimanfaatkan secara produktif. Ketika kemampuan tenaga kerja belum sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, proses penyesuaian dan pelatihan tambahan menjadi semakin penting.
Solusi untuk Mengurangi Ketidaksesuaian Pekerjaan
Mengurangi skill mismatch membutuhkan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dan perusahaan. Perguruan tinggi perlu memperhatikan perkembangan kebutuhan dunia kerja tanpa mengabaikan tujuan pendidikan untuk membentuk pengetahuan dan kemampuan berpikir mahasiswa. Pembelajaran juga dapat diperkuat melalui magang, proyek praktis, pelatihan, dan kerja sama dengan dunia usaha.
Yonanda & Usman (2023) menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam memperbaiki penyerapan tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi. Sementara itu, Ramadina & Aprianti (2026) merekomendasikan perluasan kesempatan kerja formal serta kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan sekolah kejuruan agar penyerapan tenaga kerja dapat berlangsung lebih baik.
Bagi mahasiswa, persiapan memasuki dunia kerja juga tidak cukup hanya dengan memperoleh nilai akademik yang baik. Mahasiswa perlu membangun keterampilan tambahan, mengikuti kegiatan magang, memperluas pengalaman organisasi, dan mempelajari kemampuan yang dibutuhkan dalam bidang pekerjaan yang diminati. Langkah tersebut dapat membantu mahasiswa mengenali kebutuhan dunia kerja sebelum lulus.
Perusahaan juga dapat berperan dengan memberikan kesempatan bagi lulusan baru untuk belajar dan berkembang. Persyaratan rekrutmen yang realistis, program pelatihan, serta kesempatan mengembangkan keterampilan dapat membantu mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan kemampuan pencari kerja.
Dengan demikian, solusi terhadap skill mismatch tidak cukup hanya meminta lulusan agar lebih kompeten. Dunia pendidikan perlu terus menyesuaikan pembelajaran, perusahaan perlu membuka kesempatan kerja yang relevan, dan pemerintah perlu mendukung terciptanya lapangan kerja yang produktif.
Penutup
Fenomena bekerja tidak sesuai jurusan menunjukkan bahwa menyelesaikan pendidikan belum tentu menjamin seseorang memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang dipelajarinya. Penelitian Yonanda & Usman (2023) menemukan bahwa 33,50% pekerja lulusan pendidikan tinggi dalam data yang mereka teliti mengalami horizontal mismatch. Di sisi lain, data BPS menunjukkan bahwa pengangguran masih menjadi persoalan ketenagakerjaan di Indonesia.
Kedua masalah tersebut perlu dilihat secara seimbang. Skill mismatch tidak sama dengan pengangguran dan tidak selalu menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaan. Namun, ketidaksesuaian antara pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan dunia kerja dapat menjadi tantangan dalam proses pencarian serta penyerapan tenaga kerja.
Karena itu, upaya mengatasi persoalan ini perlu dilakukan bersama. Pendidikan yang relevan, pelatihan keterampilan, kerja sama dengan dunia usaha, dan perluasan kesempatan kerja dapat membantu lulusan memanfaatkan kemampuan mereka secara lebih optimal. Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari banyaknya lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari terbukanya kesempatan bagi mereka untuk berkembang dan berkontribusi melalui pekerjaan yang produktif.
Penulis:Arifudin Hidayat,Fitri Amaliyatul Janah,Indriani

