Ekowisata Buluh Cina dalam Memulihkan Relasi Manusia dan Gajah

Student at Sultan Syarif Kasim State Islamic University Riau - Biodiversty Enthusiast - Citizen Scientist
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kholik Fazrin Harahap tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gajah Sumatra merupakan spesies yang cukup langka diindonesia disebabkan maraknya kasus konflik dan ekologi yang semakin memperparah keberadaanya. Gajah atau dalam Bahasa latin disebut (Elephas maximus sumatrensis) punya cerita panjang yang teramat rumit. Ketika kita membaca warta berita dari Tanah Melayu, narasi yang muncul kerap kali dibayangi nada kecemasan seperti konflik lahan, tanaman perkebunan yang rusak ditandas kawanan gajah, hingga aksi saling merugikan yang merenggut nyawa di kedua belah pihak.
Hutan yang dahulunya membentang luas tanpa batas kini terpecah-pecah menjadi kantong-kantong kecil akibat alih fungsi lahan masif. Jalur migrasi (home range) yang diwariskan nenek moyang gajah secara turun-temurun mendadak berubah menjadi hamparan sawit dan kawasan permukiman. Dampaknya, gesekan tak terhindarkan. Gajah sering dianggap sebagai "pengganggu", sementara gajah sendiri sebenarnya hanya sedang melintasi rumahnya yang perlahan lenyap.
Namun, apakah hubungan antara manusia dan raksasa lembut ini harus selalu berujung pada permusuhan? Jawaban atas pertanyaan itu tidak melulu berada di atas kertas kebijakan formal atau perdebatan hukum, melainkan pada bagaimana kita memandang kembali konsep berbagi ruang (coexistence). Kita perlu menemukan kembali ruang di mana keberadaan manusia dan pelestarian satwa tidak saling meniadakan, melainkan saling menghidupkan. Salah satu titik terang yang menawarkan harapan itu ada di Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Pelajaran Penting dari Buluh Cina
Lokasi buluh cina hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari riuk-pikuk Kota Pekanbaru, berdiri sebuah taman hijau bernama Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina. Kawasan seluas 963,33 hektar yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau ini menyimpan kekayaan ekosistem hutan dataran rendah dan rawa air tawar. kawasan ini menjadi ruang hidup bagi 46 jenis burung, beragam satwa liar, hingga tumbuhan khas rawa yang menjaga lanskap alam Riau tetap sejuk.
TWA Buluh Cina tidak hadir dan berkembang menjadi destinasi wisata ekologi dan budaya yang merajut keterlibatan aktif masyarakat lokal. Masyarakat setempat tidak menempatkan kawasan hutan sebagai beban ekonomi, melainkan sebagai aset bersama yang patut dirawat. Pengunjung yang datang dipacu untuk menikmati keindahan alam melalui aktivitas yang minim jejak perusakan ekologi. Mulai dari menyusuri danau tenang dengan perahu tradisional, melakukan pengamatan satwa (animal watching), hingga merayakan kearifan lokal melalui festival budaya seperti pacu sampan dan tradisi balimo kasai. Akses darat yang mudah dan penyeberangan singkat di Sungai Kampar menjadikan Buluh Cina bukti nyata bahwa alam yang lestari bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan warga.
Mengubah Paradigma dari Konfrontasi Menuju Transfomasi
Refleksi yang dapat dijadikan pelajaran dari Buluh Cina membawa kita pada akar masalah konflik gajah di Sumatra yang selama ini, pola penanganan konflik sering kali berfokus pada tindakan reaktif dengan menghalau, memindahkan, atau memasang pagar pembatas. Pendekatan ini memang penting untuk meredakan ketegangan jangka pendek, tetapi belum menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya yaitu bagaimana mengembalikan rasa saling menghargai antara manusia dan gajah di ruang semesta.
Yang harus menjadi perhatian adalah Gajah Sumatra bukanlah ancaman yang harus ditaklukkan, melainkan satwa pesona yang memegang peran kunci sebagai penyebar benih dan arsitek lanskap hutan tropis indonesia. Kehadiran gajah seperti inilah yang menandakan bahwa ekosistem kita masih bekerja dengan baik dan tertata.
TWA Buluh Cina membuktikan bahwa pelestarian alam dapat memberi manfaat ekonomi riil. Konsep ini dapat direplikasi pada kawasan di sekitar jalur migrasi gajah. Melalui pengembangan ekowisata berbasis komunitas seperti tur pengamatan gajah liar berjarak aman atau pembuatan produk lokal ramah lingkungan, kehadiran gajah justru dapat menjadi sumber mata pencaharian baru bagi petani lokal. Menghidupkan Kembali Tradisi Menyatu dengan Alam Masyarakat rumpun Melayu di Riau memiliki akar budaya yang sangat dekat dengan alam. Penghormatan terhadap hutan dan seisinya adalah nilai lama yang perlu terus disemai kembali. Memahami perilaku gajah, menghormati lintasan alaminya, serta mengadaptasi komoditas pertanian yang kurang disukai gajah di area perbatasan (seperti jeruk, serai, atau kopi) adalah bentuk kearifan lokal modern dalam merawat relasi tersebut.
Harapan untuk Bumi Melayu
Merawat relasi antara manusia dan gajah memerlukan kesabaran, komitmen, dan tutur rasa yang welas asih. Kita tidak bisa meminta gajah untuk mengubah insting alamiahnya, namun sebagai makhluk yang diberi akal dan budi, manusialah yang memiliki kapasitas untuk menata ruang hidup secara bijaksana.
Pengalaman indah di TWA Buluh Cina mengajarkan kita satu hal berharga: ketika manusia memberi ruang bagi alam untuk bernapas, alam akan membalasnya dengan ketenangan, keindahan, dan keberlanjutan. Sudah saatnya kita membawa semangat yang sama ke seluruh pelosok Riau.
Semoga kelak, cerita tentang gajah Sumatra di Tanah Melayu bukan lagi warta tentang duka dan konflik yang berulang, melainkan kisah harmonis tentang dua penghuni bumi yang saling menjaga dan berbagi ruang di bawah naungan langit yang sama.
Refrensi
BBKSDA Riau: Profil Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Purwanuriski, L., Darmawan, A., Winarno, G. D., Febryano, I. G., Ismanto, I., & Sugiharti, T. (2022). Analisis Mitigasi Konflik Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus, Temmick 1874) Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Jurnal Belantara, 5(2), 178-190.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990: tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
